Desa nun di tengah Pulau Dongeng, penuh sihir serta keajaiban; tinggallah seorang wanita yang telah tua renta yang tetap bersahaja, tiap-tiap hari selalu mengurus kucing peliharaan nan tak sedikit jumlahnya. Ia hidup di sana laksana penduduk biasa, lamun tiada satu pun yang tahu-menahu bahwa wanita tersebut adalah seorang penenung-ahli sihir-dan ia memiliki kucing-kucing ajaib, dapat menggunakan magi sama sepertinya.
Pagi-pagi sekali, di saat cakrawala masih belum merona jingga, Nyonya Plum telah bangun. Ia merapikan tempat tidurnya tanpa sedikit pun mengganggu aktivitas tidur seekor makhluk berkaki empat di sana; Erlenmeyer, kucing oranye kecokelatan nan agak gempal, yang sayup-sayup merasakan kehadiran sang manusia. Tanpa bersuara, Nyonya Plum meninggalkan kucing nang masih memejam mata dan bermalas-malasan di atas kasur itu.
Ketika Erlenmeyer perlahan membuka kelopak, dia menangkap satu sosok kucing krem yang bertengger pada jendela, menguap dan meregangkan badan, lalu jatuh terguling ke bawah akibat tak menjaga keseimbangan; yang mengeong keras seraya bangkit, berdiri dengan keempat kakinya yang kokoh, meregangkan badan sekali lagi kemudian melangkah keluar dari kamar.
Erlenmeyer menutup mata, telinga kirinya bergerak seperti diketis seseorang. Saat cahaya silau matahari menerangi wajahnya, Erlenmeyer langsung terperanjat, membuka mata tiba-tiba; mengedip berulang kali sebelum bangkit dari posisi tidur, kemudian melompat turun dan berjalan ke luar kamar. Saat itu, terdengar dentang jam raksasa di ruang tamu, menunjukkan pukul dua belas siang tepat.
Erlenmeyer melenggang masuk ruang makan dan menjumpai Nyonya Plum tengah menyiapkan makan siang seraya bersenandung ria. Kucing itu menggoyang-goyangkan ekor sembari menirukan lagu yang dinyanyikan sang manusia. Hampir mirip, tetapi tak benar-benar sama. Di ruangan itu, terlihat tiga belas kursi berjajar mengelilingi meja kayu dengan nama-nama pemiliknya tertulis di atas piring-piring.
"Makan siang sudah siap!" seru Nyonya Plum.
Erlenmeyer bisa mendengar riuh memenuhi rumah itu, beberapa saat kemudian, kucing-kucing yang lain datang mengerumuni sang manusia. Erlenmeyer pun berjalan santai, bergabung dengan perkumpulan tersebut.
Nyonya Plum tersenyum lembut. "Cuci tangan dulu," perintahnya.
Tiba-tiba, kucing-kucing itu berlarian menuju wastafel di dekat kompor, berebut untuk menjadi yang pertama mencuci tangan. Erlenmeyer tergemap menyaksikan mereka saling ribut hanya untuk hal tersebut. Mendadak, seekor kucing putih yang warna matanya berlainan terlempar laksana terbang, menabrak tubuh Erlenmeyer hingga cukup keras, menyebabkan Erlenmeyer berguling-guling cepat bak bola benang. Dia menggelinding melewati kucing hitam, membuat kucing itu terperanjat dan tak sengaja menginjak kaki kucing tertua. Kemudian, kerusuhan tersebut terus berlangsung hingga menabrak tembok lalu berhenti.
Nyonya Plum menggeleng perlahan, berkata, "Anak-Anak! Baris yang rapi atau tidak ada makan siang untuk kalian!" Seketika, kerusuhan pun sirna dan para kucing berhenti, menoleh menatap sang manusia. "Setelah makan siang, aku akan pergi sebentar dan kembali nanti malam. Apa kalian dapat bersikap manis selama aku tidak ada?"
Erlenmeyer berusaha bangkit walau penglihatannya masih berkunang-kunang. Dia lalu mengeong dan saling bersahutan dengan kucing-kucing lain. Keadaan tersebut membuat Nyonya Plum tersenyum kecil-yang merupakan hal paling menyenangkan bagi Erlenmeyer.
"Kau adalah kucing tertua. Jaga saudara-saudaramu!" Yang dipinta mengangguk dan mengeong paham. "Kalau begitu, cuci tangan kalian sekarang!"
Gas yang seperti hasil ledakan bom asap tercipta pada masing-masing kucing, menunjukkan wujud manusia mereka, yaitu anak yang masih berusia remaja muda. Erlenmeyer sendiri, wujud manusianya adalah anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun, mengenakan kemeja putih dan jubah hitam. Rambut jingganya gondrong, dan dia memiliki sepasang mata jingga yang besar.
Setelah berubah ke wujud manusia, mereka mengantre di depan wastafel untuk cuci tangan secara bergantian. Kemudian, anak-anak itu duduk pada kursi masing-masing sesuai nama yang tertera. Erlenmeyer duduk paling kanan, berhadapan dengan gadis imut berambut cokelat, dan bersebelahan dengan anak laki-laki berambut putih.
Erlenmeyer, yang duduk paling dekat dengan Nyonya Plum, tersenyum senang sambil mengejam mata, berkata, "Masakan Ibu selalu enak! Aku akan menghabiskannya dengan lahap!"
Pada saat itu, tidak ada satu pun-baik Erlenmeyer maupun semua saudaranya-yang menyadari bahwa Nyonya Plum tidak akan bertemu dengan mereka lagi.
