Bel masuk berbunyi sejak beberapa menit lalu, tetapi lorong sekolah masih dipenuhi suara langkah tergesa dan tawa yang saling bersahutan. Pagi itu sama seperti biasanya—ramai, hidup, dan terasa begitu jauh dari Damar.
Ia berjalan tanpa terburu-buru melewati koridor lantai dua, tasnya menggantung longgar di satu bahu. Tidak ada yang menyapanya. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan keberadaannya. Bahkan penjaga kelas yang biasanya menegur siswa terlambat hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Keberadaan Damar tidak pernah cukup penting untuk dipermasalahkan.
Saat ia membuka pintu kelas, suara percakapan yang tadinya riuh perlahan mereda, bukan karena hormat, melainkan karena ketidakpedulian. Beberapa siswa hanya melirik sebentar sebelum kembali berbicara dengan kelompoknya masing-masing.
Kursi di pojok belakang—tempat duduknya—masih kosong, seperti selalu menunggunya tanpa benar-benar mengharapkannya.
Damar duduk tanpa mengucapkan apa pun. Ia meletakkan tasnya pelan, lalu menatap papan tulis yang masih penuh coretan pelajaran kemarin. Ia tahu sebagian teman sekelasnya tidak menyukainya. Bukan tanpa alasan.
Ia sering mengabaikan tugas kelompok. Janji yang ia buat jarang ditepati. Ketika orang lain berbicara, ia lebih sering memotong atau menjawab dengan nada malas. Awalnya semua terasa biasa saja baginya. Sampai suatu hari orang-orang mulai berhenti mencoba berbicara dengannya.
Dan sejak itu, jarak di antara mereka terus melebar hingga terasa asing.
"Kelompok presentasi minggu depan tetap ya, Jangan sampai ada yang tidak berkontribusi lagi."kata wali kelas dari depan.
Beberapa siswa menoleh ke arah Damar. Tidak lama, hanya cukup untuk membuatnya sadar bahwa kalimat itu ditujukan padanya tanpa harus menyebut nama.
Ia memalingkan wajah, berpura-pura tidak peduli.
Padahal dadanya terasa berat.
Jam pelajaran berjalan lambat. Suara guru terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar ia dengar. Di sekelilingnya, orang-orang tertawa, berbisik, saling meminjam alat tulis, berbagi cerita kecil yang terdengar hangat.
Damar duduk di tengah semua itu seperti seseorang yang terisolasi.
Saat istirahat tiba, kelas segera kosong. Kursi-kursi ditinggalkan, suara langkah menjauh, dan dalam beberapa detik ruangan itu menjadi sunyi.
Tidak ada yang mengajaknya keluar maupun berbicara, meskipun hanya berbasa-basi denganya.
Damar tetap duduk beberapa saat, menatap meja kosong di depannya. Ia tidak merasa marah. Tidak juga sedih secara jelas. Hanya... lelah.
Lelah mencoba terlihat tidak peduli.
Akhirnya ia berdiri dan keluar kelas tanpa tujuan jelas. Langkahnya membawanya naik ke lantai tiga, area yang jarang dilewati siswa saat jam istirahat. Udara terasa lebih sepi di sana. Hanya suara angin yang sesekali masuk melalui jendela terbuka.
Ia berhenti di depan sebuah kelas yang pintunya setengah terbuka.
Biasanya ruangan itu kosong.
Damar masuk tanpa berpikir panjang, berharap menemukan tempat yang cukup sunyi untuk menjauh dari pikirannya sendiri. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi ruangan, menerangi debu-debu halus yang melayang pelan di udara.
Ia berjalan mendekati jendela.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam.
Pikirannya terasa penuh, tetapi sekaligus kosong. Semua suara yang selama ini ia abaikan—tatapan orang, bisikan, kesalahan-kesalahan kecil yang dulu ia anggap sepele—datang bersamaan memenuhi kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar lelah menjadi dirinya sendiri.
"Eh...?"
Suara pelan itu membuatnya tersentak.
Damar menoleh cepat.
Di sudut kelas, dekat deretan meja paling depan, seorang gadis duduk sendirian. Buku terbuka di pangkuannya, earphone tergantung di lehernya. Ia menatap Damar dengan ekspresi bingung, bukan takut, bukan juga menghakimi.
Seolah kehadiran Damar di sana hanyalah kejadian biasa.
"Kupikir kelas ini kosong," kata gadis itu pelan.
Damar tidak menjawab. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena marah atau malu, tapi karena ia tiba-tiba sadar—ia tidak sendirian.
Ia mengalihkan pandangan, merasa seperti tertangkap melakukan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mampu jelaskan.
"Maaf," gumamnya singkat.
Tanpa menunggu respons, ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Langkahnya semakin cepat di lorong, napasnya terasa berat. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia harus pergi secepat itu.
Yang ia tahu hanya satu: sesuatu di dalam dirinya baru saja berhenti.
Hari itu berlalu tanpa benar-benar ia ingat.
Namun pada malam hari, ketika ia mencoba tidur, bayangan kelas sunyi itu kembali muncul. Bukan jendela, bukan pikirannya yang kacau—melainkan wajah gadis yang menatapnya tanpa prasangka.
Tatapan yang tidak pernah ia terima sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Damar merasa pikirannya sedikit lebih tenang... meski ia tidak mengerti alasannya.
Ia belum tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari perubahan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
YOU ARE READING
Damar
RomanceDamar adalah siswa yang perlahan terasing dari teman-temannya akibat sikap dan kesalahan yang ia lakukan sendiri. Di tengah kesepian dan rasa lelah terhadap dirinya, sebuah pertemuan tak sengaja dengan seorang gadis di kelas kosong menjadi awal dari...
