Luna bersandar di meja dapur sambil memperhatikan River yang sedang memotong daging di atas talenan.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku. Ekspresinya datar seperti biasa, seolah tidak ada hal di dunia ini yang bisa mengganggu konsentrasinya saat memasak.
"Riv, ayolah. Tolong bantu atau cariin teman, kenalan, siapa kek."
Luna menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Please?"
"Masukin sayuran yang paling keras dulu."
Luna mencebik. Permohonannya benar-benar diabaikan. River bahkan tidak mengangkat kepala, dengan kesal ia mengambil wortel dan memasukkannya ke dalam panci.
"Aww...ih panas banget." Luna cepat-cepat berlari lalu mengguyur tangannya yang terkena cipratan panas dari air yang sudah mendidih.
River menghela napas pendek, lalu menggulung lengan kemejanya sedikit lebih tinggi sebelum meraih pergelangan tangan Luna.
"Makanya, lain kali jangan sambil marah-marah."
Luna berdecih, dia sudah tidak sabar ingin mengeluarkan sumpah serapah hingga tak sadar, hampir saja menarik kembali tangannya dari guyuran air.
"Diam dulu tangannya." Kata River tegas, tanpa persetujuan River memaksa tangan Luna tetap berada di sana.
"Ya lo aja nggak mau jawab omongan gue"
River fokus pada tangannya beberapa saat sebelum mengangkat kepala.
"Kita udah bahas itu setiap hari."
"Ih, masa iya jawabannya tetap sama?"
Luna merengut malas.
River melepaskan tangannya pelan. Dia menatap Luna serius dan tidak ada keraguan dalam dirinya saat ini.
"Iya."
"River, masih sama jawabannya?."
"Iya, dan akan selalu sama."
Luna langsung mengembuskan napas panjang. Menyebalkan, sungguh tidak ada untungnya, mempunyai orang dalam jika itu adalah Riverolio Mahendra.
Sekitar pukul tiga sore, Luna kembali mendatangi kafe tempat Kiara bekerja. Sudah dia ceritakan semua kejadian dan kejahatan River padanya.
Dan begini lah tanggapan Kiara.
"Tuh kan, apa kata gue? Tu laki memang dari masih bocah udah songong Lun."
Kiara menyeruput kembali segelas cokelat panas yang Luna pesankan untuknya, sejak awal Kiara sudah tegaskan bahwa bekerja sama dengan River, tidak akan mendatangkan hal apapun selain sakit hati dan jiwa.
"Dia belagu Lun, teman TK gue itu. Sombong, banyak gaya udah lah jangan berharap sama dia."
"Yang ada makan hati."
Luna semakin memelas, sebab apa yang Kiara katakan hampir benar semuanya.
"Kata gue Lun, tahan-tahan deh. Rajin berdoa perbanyak ibadah. Amit-amit jangan sampai lo jadi kriminal."
Luna menghembuskan napas kasar, dia benar-benar dalam situasi darurat, sudah dia menangis sudah juga memohon di kaki River.
Tetapi kemana kah hati nurani yang River punya ? Atau mungkin sejak awal dia tidak punya.
Di dalam kamar yang sepi, Luna mencari namanya di kolom pencarian. Rasanya aneh, banyak orang bertanya dikolom komentar. Kemana hilangnya Luna sang bintang cilik?.
"Di sini, di rumah River yang tidak punya hati." Luna berteriak nyaring, dia menangis tanpa suara.
"Akting lo bagus, kenapa nggak coba ikut audisi? Siapa tau beruntung."
ESTÁS LEYENDO
Pluto
RomanceLuna pernah menjadi nama yang tak pernah luput dari sorotan. Kini, gemerlap itu tinggal kenangan dan satu-satunya hal yang masih ia percaya adalah River. Sahabat yang ia yakini akan membawanya kembali ke tempat semula. Namun pada akhirnya Luna menya...
