Dengung itu selalu terdengar seperti kawanan lebah yang kelaparan.
Dari balik tirai beludru hitam setinggi lima meter yang memisahkan ruang tunggu dengan panggung utama, suara riuh rendah itu merembes masuk. Lima ribu orang di dalam aula konvensi sedang meneriakkan satu nama yang sama. Sebuah nama yang magis, yang dalam dua tahun terakhir telah bergeser fungsi dari sekadar nama manusia menjadi sebuah simbol harapan nasional.
"Bram! Bram! Bram!"
Di dalam ruang tunggu yang sejuk oleh semburan pendingin udara berkapasitas besar, pemilik nama itu justru sedang berlutut di depan wastafel porselen putih. Tubuhnya gemetar hebat. Rambutnya yang klimis disisir ke belakang sedikit berantakan karena jari-jarinya yang terus mencengkeram kepala.
Bramantya-atau Bambang Setiawan, nama yang sudah dia kubur dalam-dalam di bawah lapisan akta notaris agensi-sedang mengalami serangan panik kelimanya dalam minggu ini. Dada pria berusia dua puluh delapan tahun itu terasa seperti dihimpit beton cair. Oksigen di sekitarnya mendadak terasa hampa, menolak masuk ke dalam paru-parunya yang menyempit.
"Bram, tiga puluh detik lagi. Reno sudah memberi aba-aba dari pusat kendali audio."
Sebuah suara bernada datar memecah kesunyian di dalam ruangan itu. Dian duduk di sudut kamar, tidak beranjak dari kursi lipatnya. Di pangkuannya, sebuah laptop berspesifikasi tinggi menampilkan grafik penyuntingan video yang rumit. Di lehernya, sebuah benda logam kecil berwarna merah usang-sebuah hard disk eksternal yang dimodifikasi menjadi kalung-berayun pelan mengikuti napasnya yang teratur. Kantung mata Dian hitam pekat, kontras dengan wajah Bram yang terawat oleh perawatan klinik seharga puluhan juta.
Bram tidak menjawab. Dia meludahkan air liur yang terasa pahit ke dalam wastafel, lalu menyambar botol cairan antiseptik berukuran satu liter di samping cermin. Tanpa perasaan, dia menuangkan cairan bening berbau alkohol tajam itu ke tangannya hingga meluap ke lantai, lalu menggosok kedua telapak tangannya dengan gerakan beringas. Kulitnya sudah memerah, beberapa bagian bahkan lecet dan mengelupas akibat ritual obsesif yang dia lakukan setiap kali akan menghadapi manusia.
"Aku tidak bisa, Dian," bisik Bram, suaranya parau dan bergetar. Matanya yang menatap pantulan cermin terlihat liar, seperti binatang yang terpojok. "Pikiran mereka... energi mereka... mereka menuntut terlalu banyak. Mereka ingin aku menjadi malaikat lagi malam ini. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan."
Dian menutup laptopnya perlahan. Bunyi klik dari engsel laptop itu tampaknya menjadi jangkar realita bagi Bram. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu berdiri, berjalan mendekati sepupunya tanpa ekspresi hangat, namun langkahnya pasti. Dian berhenti tepat satu langkah di belakang Bram.
Dian tidak memeluk Bram. Dia tahu Bram membenci sentuhan fisik yang tidak direncanakan di depan kamera. Sebaliknya, Dian mengangkat tangan kanannya, lalu mengetukkan ujung jarinya ke punggung tangan Bram yang memerah.
Satu ketukan panjang. Dua ketukan pendek. Sebuah kode masa kecil yang hanya mereka berdua yang tahu, bahasa rahasia saat mereka masih menjadi dua anak yatim piatu yang bersembunyi di bawah meja ruang tamu saat badai melanda kampung halaman mereka.
"Tarik napas, Bambang," kata Dian, sengaja menggunakan nama aslinya untuk menarik paksa kesadaran Bram dari pusaran panik. "Di luar sana ada lima ribu orang yang sudah membayar tiket, dan ada sepuluh juta orang yang menunggu siaran langsung di aplikasi. Kau bukan sedang menyelamatkan dunia. Kau sedang bekerja. Pakai topengmu."
Kata 'bekerja' dan nama 'Bambang' tampaknya bekerja seperti penawar racun. Perlahan, bahu Bram yang tegang mulai turun. Detak jantungnya yang memburu mulai melambat. Dia menatap Dian dari pantulan cermin, melihat mata sepupunya yang dingin namun adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia palsu ini.
Bram menarik napas dalam-dalam, menahan alkohol yang menusuk hidungnya, lalu mengembuskannya perlahan. Otot-otot wajahnya yang tadinya tegang mulai digerakkan secara sadar. Dalam hitungan detik, sebuah keajaiban biologis terjadi: garis-garis kecemasan di dahinya lenyap, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sempurna, dan matanya yang tadinya dingin mendadak memancarkan kehangatan yang luar biasa tulus.
Bambang telah kembali bersembunyi. Kini yang berdiri di depan cermin adalah Bramantya, Sang Penyemangat.
Pintu ruang tunggu diketuk kasar dari luar. Wajah Reno muncul dari balik celah pintu. Pria berusia empat puluh tahun itu tidak melihat ke arah Bram, matanya terpaku pada jam tangan kronograf mewah di pergelangan tangan kirinya. Dia sedang mengunyah es batu dari gelas kopi yang dipegangnya, menciptakan bunyi gemertak yang mengganggu.
"Bram, sekarang. Jangan buat sponsor menunggu. Algoritma sedang di puncak grafik karena video promosi kemarin siang," kata Reno dengan suara cepat dan efisien. Dia menatap tajam ke arah Dian. "Dian, pastikan sudut kamera dari samping panggung menangkap air matanya jika dia menangis nanti. Netizen suka itu."
Tanpa menunggu jawaban, Reno berbalik dan kembali ke balik panggung. Dia tidak memandang manusia; dia hanya memandang komoditas yang bergerak.
Bram merapikan kemeja linen putih bersahajanya, memastikan tidak ada noda antiseptik yang terlihat. Dia menatap Dian untuk terakhir kalinya sebelum keluar.
"Jangan lupa memotong bagian di mana aku batuk atau bersungut-sungut nanti, Dian," kata Bram. Suaranya kini sudah kembali berat, berwibawa, dan penuh karisma-suara panggungnya. "Kita harus memberikan apa yang ingin mereka lihat."
"Selalu, Bram," jawab Dian datar, kembali membuka laptopnya.
Bram melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu, berjalan menyusuri lorong gelap menuju tepi panggung. Begitu tubuhnya melewati batas tirai hitam, cahaya putih berkekuatan ribuan watt dari lampu sorot langsung menghantam wajahnya. Panasnya lampu itu membakar kulit, namun di mata Bram, itu adalah konfirmasi atas keberadaannya.
Gemuruh aula meledak. Ribuan orang berdiri, berteriak, beberapa histeris hingga meneteskan air mata. Di baris depan, tampak seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh-Siti-yang menggenggam ponsel retaknya dengan tangan bergetar, memandang Bram seolah-olah pria di atas panggung itu adalah satu-satunya alasan mengapa dia harus bangun keesokan harinya.
Bram berjalan ke tengah panggung dengan langkah tegap dan anggun. Dia menurunkan mikrofonnya sejenak, membiarkan energi massa memenuhi ruangan. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, sebuah gestur ikonik yang berarti dia siap merangkul siapa saja yang terluka.
"Malam ini, kita berkumpul bukan sebagai orang asing," suara Bram menggema melalui sistem suara berkekuatan puluhan ribu watt, menggetarkan dada setiap orang yang hadir. "Di dalam penderitaan yang kita hadapi sehari-hari, kita adalah sebuah kesatuan. Saya tahu beberapa dari kalian ingin bersembunyi karena lelah, beberapa dari kalian merasa tidak ada lagi yang peduli. Namun saya ada di sini untuk merangkul kalian. Tetaplah miliki semangat, karena malam ini, saya hadir hanya untuk menghibur dan mengembalikan senyum Anda semua."
Tepuk tangan bergemuruh memotong kalimatnya. Orang-orang menangis. Siti di baris depan menutup mulutnya, air matanya jatuh bebas, merasa kata-kata itu ditujukan khusus untuk jiwanya yang sepi.
Di atas panggung, di bawah siraman cahaya yang membuat matanya berkilau indah, Bram tersenyum sangat manis. Namun, jika ada orang yang bisa melihat dari jarak sedekat satu sentimeter ke dalam pupil matanya, mereka tidak akan menemukan kehangatan. Di sana hanya ada kekosongan yang gelap.
Dari atas panggung, Bram memandangi lautan manusia yang wajahnya mengabur oleh air mata mereka sendiri. Di dalam hatinya, sebuah tawa kecil yang dingin dan sinis bergema tanpa suara.
Hahahaha... Sungguh indah, bukan? batin Bram sambil terus mempertahankan senyum malaikatnya. Mereka membeli omong kosong ini setiap saat. Mereka menangis untuk pria yang bahkan harus mencuci tangannya dengan alkohol setelah memikirkan bau keringat mereka.
Di sudut panggung yang gelap, Dian terus menatap layar monitor kecilnya, jarinya bergerak lincah di atas papan ketik. Sementara di luar gedung konvensi yang megah itu, di dalam sebuah mobil minibus tua yang terparkir di seberang jalan, Raya duduk dengan rokok kretek yang menyala di jarinya. Matanya tidak menatap panggung, melainkan menatap laporan keuangan yayasan kemanusiaan Bramantya yang baru saja dia dapatkan dari seorang informan anonim.
Layar sandiwara itu baru saja dibuka, namun di sudut-sudut yang tidak terlihat oleh penonton, jahitannya sudah mulai robek.
ESTÁS LEYENDO
OMONG KOSONG DI DEPAN LAYAR
Ficción GeneralNovel ini adalah sebuah thriller-psikologis berselimut satir modern yang membongkar industri kepalsuan di balik gemerlap dunia digital dan pencitraan publik. Mengangkat kontradiksi ekstrem antara pesona di depan kamera dan kebusukan di belakang pang...
