"Udah selesai tugasmu Jia?"
Aku menoleh ke arah Caca saat Caca sedang memasukan laptop kesayangan nya ke dalam tasnya "belum"
Caca melihat jam tangannya sebentar dan kembali menatapku "udah jam 9 malam nih. Aku balik duluan gak papa? Takut gerbang kosnya di kunci".
Ah benar...gerbang kos Caca selalu di kunci jam 10 malam tepat. Takutnya nanti dia kejebak macet dan sampai kos malah gak tepat waktu.
"Iya Ca gak papa kok. Hati-hati di jalan ya".
"Oke. Duluan ya".
Caca berlalu dari pandangan ku dan aku sempat menoleh ke luar jendela cafe saat Caca sedang memasang helm nya lalu melambaikan tangan kanannya ke arahku sebelum dia menarik gas motor maticnya.
Aku kembali menatap layar laptopku sambil sesekali menyesap matcha latte ku yang tinggal setengah.
Suasana cafe benar-benar tenang dan sangat mendukung untuk otakku bekerja dengan baik.
"Permisi...."
"I-ya?"
Suaraku seketika tertahan saat wajah cantik seorang perempuan yang sudah hampir 3 tahun lebih ku kagumi kini sedang berdiri tepat di depanku.
Ternyata dia bertambah sangat cantik kalau di lihat dengan jarak yang cukup dekat seperti ini. Rambut panjangnya di cepol asal dan ......
"Maaf sebelumnya, sekarang sudah pukul 10 malam dan cafe kami mau tutup. Cuma anda yang masih disini",ucapnya dengan suara pelan.
Jam 10 malam? Cuma aku disini?
Aku sontak melihat sekeliling ku setelah melihat jam yang ada di layar ponselku dan benar.....cuma aku disini sendirian dan sekarang sudah pukul 10 lebih 10 menit malam.
"Maaf. Saya lupa waktu".
"Baik. Tidak apa-apa. Saya permisi".
Jantungku berdetak tidak karuan saat melihat nya berjalan pergi meninggalkan ku.
Dia benar-benar mencuri seluruh perhatian ku dan hatiku.
Ku pegang dadaku yang terus begemuruh saat melihat nya yang sibuk membantu beberapa pegawainya berberes.
Bagaimana caranya agar kita bisa mengenal satu sama lain Dyra Alana?
Ah sudahlah ..... mengagumi nya saja sudah cukup untukku.
Setelah memasukan laptopku ke dalam tas, kini aku berdiri dan berjalan pergi meninggalkan cafe sambil menelfon Pak Udin untuk menjemput ku.
"Hallo Pak....jemput di tempat biasa ya, saya tunggu di depan".
"Baik Nona".
Klik
Aku menghela nafas pelan sambil duduk di kegelapan malam, tepat nya di atas kursi semen yang ada di bawah pohon rindang untuk menunggu Pak Udin menjemput ku.
Dahiku mengernyit saat melihat sebuah mobil Mazda terparkir di dekat sebuah mobil Honda Jazz putih yang dari tadi terparkir disitu terlebih dulu.
Seorang perempuan cantik yang sangat familiar untukku turun dari mobil itu dan masuk kedalam cafe. Dia adalah perempuan yang selalu mengejar-ngejar Kak Dyra selama aku mengenal Kak Dyra untuk pertama kalinya. Namun Kak Dyra terus menolaknya mentah-mentah. Padahal perempuan cantik itu sangat lah cantik.
"Hentikan kelakuan bodohmu ini Kak Lea".
Aku sontak menoleh ke arah cafe saat mendengar suara yang cukup keras dan aku melihat Kak Dyra berjalan ke arah tempat parkir dengan wajahnya yang terlihat kesal.
YOU ARE READING
Beyond The Gaze (What I Need)
General FictionSemua ini berawal dari ketidaksengajaan Jia melihat Dyra Alana di sebuah cafe langganan Jia dan teman-teman nya. Ketidaksengajaan ini membuat Jia diam-diam menyukai Dyra dalam waktu yang sangat lama. Apakah Jia bisa berhasil mendapatkan Dyra? Cerita...
