Pukul enam lewat dua puluh pagi. Bel sekolah belum berbunyi, tetapi halaman SMA Adhikara sudah mulai dipenuhi para siswa.
Mobil-mobil mewah berhenti satu per satu di depan gerbang. Anak-anak turun dengan seragam yang rapi, sepatu mengilap, tas mahal, dan tawa yang terdengar ringan.
Di antara mereka, seorang anak laki-laki berjalan sendirian. Seragamnya sama meski warnanya sudah sedikit pudar. Lambang sekolahnya sama. Tetapi tidak pernah ada satu pun yang menganggapnya sama.
Namanya Raka Pratama Putra. Usianya tujuh belas tahun. Dan hampir semua orang di sekolah mengenalnya.
Bukan karena prestasi.
Bukan karena dia pintar.
Bukan pula karena dia pernah melakukan sesuatu yang membanggakan.
Mereka mengenalnya karena satu hal.
Karena Raka adalah anak seorang pelacur yang dibunuh oleh suaminya yaitu ayah Raka. Alhasil orang orang memanggilnya anak pelacur dan pembunuh.
Raka berjalan melewati gerbang tanpa menoleh ke kanan maupun kiri. Dia sudah terbiasa. Sangat terbiasa sampai hinaan yang dilemparkan kepadanya terdengar seperti suara angin.
"Eh, anak pembunuh." Seseorang berteriak dari belakang.
Raka terus berjalan.
"Raka!"
Panggil suara lain yang berhasil menghentikan langkah Raka. Dia tahu suara itu. Bukan karena mereka dekat, etapi karena suara itu selalu datang setiap pagi. Candra. Anak pemilik sekolah. Anak yang tidak perlu takut kepada siapa pun.
Raka menoleh. Candra berdiri bersama dua orang temannya. Mereka tersenyum. Salah satu dari mereka menunjuk Raka sambil tertawa.
"Nyokap lo masih mangkal?" Tanya Gana dengan senyum mengejek.
Raka menatap mereka sebentar kemudian kembali berjalan.
"Heh ditanya malah pergi." Ucap Gana dengan raut kesal.
"Ya lo salah nanyak begitu. Nyokapnya dia kan dalam kubur" Ucap Chandra sambil berpura pura seakan berbisik kepada Gana dan Doni namun dengan suara yang keras.
"Ya mana tau nyokapnya mangkal sama pocong atau genderuwo" Sahut Gana, tawa mereka bertiga pecah.
"Kira kira bapaknya bakal keluar dari penjara buat nyusulin nyokapnya kekuburan nggak ya?" Tanya Doni.
Tawa mereka semakin keras. Raka mengepalkan tangannya. Namun dia tidak berhenti. Tidak hari ini. Tidak kemarin. Dan mungkin tidak akan pernah. Karena Raka sudah belajar satu hal sejak kecil: melawan hanya akan membuat mereka semakin senang.
Ketika memasuki kelas, suasana tiba-tiba berubah. Bukan menjadi hening, justru sebaliknya. Beberapa siswa sengaja berbicara lebih keras.
"Eh ada anak pembunuh ni"
"Jangan duduk dekat dia."
"Kenapa?"
"Takut ketularan darah pembunuh."
"Emang penyakit?"
"Lebih parah."
"Oh iya diakan anak pelacur juga, bisa jadi dia punya penyakit kelamin, iihh"
Ekspresi jijik diberikan seluruh penghuni ruang kelas kearah Raka. Beberapa dari mereka juga ada yang tertawa seakan mereka adalah orang paling suci.
Raka berjalan menuju bangkunya yang berada di pojok belakang. Bangku paling dekat jendela. Bangku yang selalu kosong di sebelahnya. Tidak ada yang pernah mau duduk di sana.
Raka meletakkan tas. Duduk dan mengeluarkan buku. Kemudian menatap halaman kosong di depannya. Tangannya menggenggam pensil. Raka mencoba membaca.
Satu baris.
Dua baris.
Tidak ada yang masuk ke kepalanya.
Sampai sebuah kertas kecil jatuh di atas mejanya. Raka menatapnya.
Tulisan tangan dengan tinta merah memenuhi kertas itu.
ANAK PELACUR.
Raka meremas kertas tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku dan kembali membaca buku.
YOU ARE READING
Meluruh
RomanceSeperti daun kering yang terjatuh, tidak akan pernah bisa kembali lagi keatas pohon. Kesalahan yang pernah ku lakukan, kau anggap dosa yang begitu besar dan tidak termaafkan. Menghadirkan benci yang menghancurkan bukan hanya aku, tapi juga kamu.
