Semilir angin musim gugur berhembus lembut, menerbangkan dedaunan maple yang mulai berguguran dan membawanya pergi entah ke mana.
Aroma manis buah-buahan musim gugur turut terbawa bersama angin, memenuhi udara dengan keharuman yang menenangkan.
Naruto duduk termenung seorang diri di bawah pohon maple tua, beralaskan sehelai kain tipis. Sebuah buku tergeletak di sampingnya, terbuka pada halaman yang sejak tadi tidak pernah ia baca.
Tubuhnya yang semakin kurus terbungkus pakaian longgar. Wajahnya pucat, sementara kedua matanya tampak sayu ketika memandang lurus ke depan. Ke arah sebuah rumah kayu sederhana tempat ia tinggal.
Kini ia hidup dengan tenang, meski penyakit itu terus menggerogoti tubuhnya. Penyakit yang baru diketahuinya beberapa bulan terakhir.
Penyakit yang ternyata telah bersarang di tubuhnya sejak ia dilahirkan tanpa pernah ia sadari.
Naruto menarik napas perlahan. Dadanya terasa sesak, ia mengangkat satu tangan untuk menutup mulut.
"Uhuk!" Batuk kecil itu terdengar di tengah kesunyian.
Namun rasa sakit yang menyertainya membuat tubuh Naruto sedikit membungkuk. Ia terdiam beberapa saat, berusaha mengatur napasnya kembali.
Ketika menurunkan tangannya, ia mendapati telapak tangannya ternoda merah. Naruto hanya menatapnya dalam diam tanpa terkejut ataupun merasa takut, ia menghela napas lelah.
Dokter sudah memperingatkannya bahwa kondisinya akan semakin memburuk. Ia kemudian mengambil sehelai kain dari sampingnya dan membersihkan tangannya dengan tenang.
Tatapannya kembali mengarah ke rumah kayu kecil di hadapannya. Anehnya, pikiran tentang kematian tidak lagi membuatnya gelisah.
Mungkin karena selama delapan belas tahun hidupnya, Naruto sudah terlalu sering merasa sendirian jadi kematian tidak terasa menakutkan lagi
"Aku mengantuk..." gumamnya pelan sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon maple.
Angin musim gugur kembali berembus. Satu demi satu daun merah jatuh dari dahan, menari sebelum akhirnya menyentuh tanah.
Naruto memperhatikannya dalam diam. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak keberatan jika musim gugur menjadi musim terakhir dalam hidupnya.
Ia pun menutup kedua matanya perlahan karena rasa kantuk yang begitu berat dan ia sadar bahwa setelah ini ia benar-benar akan mati.
Namun...
Suara berisik perlahan mengusik kesadarannya.
Naruto mengernyitkan kening. Ia ingin mengabaikannya, tetapi suara-suara itu semakin jelas terdengar di sekitarnya.
Berisik sekali...
Naruto yang sebelumnya merasa telah meninggalkan dunia perlahan memaksakan kedua matanya untuk terbuka.
Cahaya segera memenuhi pandangannya. Ia berkedip beberapa kali lalu tubuhnya mendadak membeku.
Di hadapannya terbentang ruangan yang sangat ia kenal. Ruangan luas dengan perabotan mewah dan sofa besar yang berada tepat di tengah ruangan.
Di atas sofa itu Minato Namikaze duduk bersama Sara dan ketiga anak mereka. Kurama, Sasori dan Karin yang seusia dengannya.
Naruto terdiam. Kedua matanya perlahan membesar, ia menundukkan kepala dan melihat dirinya sendiri.
Tubuh kecil dengan pakaian yang lusuh. Ini... Apakah dia kembali ke masa lalu? Atau dia sebenarnya mendapatkan mimpi tentang masa depannya sendiri?
YOU ARE READING
A Second Life Beneath The Maple
FanfictionNaruto meninggal di usia delapan belas tahun setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian dan penyakit Mana Core Degeneration. Namun, ia justru terbangun kembali di usia lima tahun tepat saat memasuki keluarga Namikaze. Kali ini, Naruto tak mengingin...
