"Sakura, hei..."
Matahari pagi menembus celah tirai, menerpa wajah seorang gadis bersurai merah muda yang terlelap dengan raut wajah berkerut, sentuhan kecil pada bahu dan keningnya membuat kelopak matanya perlahan terbuka.
"Hei... bermimpi buruk lagi?"
Sentuhan di keningnya turun membelai pipinya dengan lembut, pemandangan wajah tampan dan mempesona dengan tatapan lembut itu membuat Sakura terpana, padahal ia baru saja terbangun dari tidurnya, cuci mata di pagi hari.
"Sasuke-kun..."
Suara itu lembut, terasa begitu hangat. Sakura mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mengikis sisa kantuk yang menggelayuti kesadarannya. Di hadapannya, Uchiha Sasuke tersenyum kecil, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan.
Sakura tersenyum, menggenggam punggung tangan Sasuke yang mengusap pipinya, bukan umtuk menarik, tapi lebih menikmati kenyamanan di pagi hari.
"Kau masuk lewat jendela lagi?"
"Tidak," jemari Sasuke kembali naik pada kening Sakura, menepuk pelan dengan jari tejunjuk dan jari tengahnya. "Kau cukup ceroboh membiarkan pintu apartemen mu terbuka sepanjang malam."
Sakura terduduk, ia mengusap keningnya yang baru saja ditepuk pelan oleh Sasuke. "Ku rasa aku terlalu mengantuk semalam, tapi tidak terjadi apa-apa, kan?"
"Tapi jangan dibiasakan, Sayang."
Wajah Sakura sedikit tertunduk, hanya sesaat karena jemari Sasuke menyentuh dagunya, menariknya agar menatap mata Sasuke secara langsung.
"Kau terlihat lebih cantik saat wajah mu memerah," bisik Sasuke.
"Sasuke-kun!"
"Cepat bangun. Aku sudah menyiapkan sarapan di meja."
"Kau... memasak?"
"Hanya sup miso dan nasi hangat. Anggap saja sebagai hukuman karena kau membiarkan pintu apartemenmu terbuka," bisik Sasuke seraya mengecup singkat sudut bibir Sakura sebelum akhirnya berdiri tegak, menyisakan jarak di antara mereka.
Sakura terpaku di tempatnya. Ia memperhatikan punggung Sasuke yang berjalan santai keluar dari kamarnya menuju area dapur. Pria itu terlihat begitu terbiasa berada di sana, begitu alami mengisi setiap sudut kehidupannya.
Tangan Sakura perlahan naik, menyentuh sudut bibirnya yang baru saja disapa kecupan hangat Sasuke. Sentuhannya nyata. Hangatnya nyata. Kasih sayang dalam tatapan mata pria itu terasa begitu tulus.
Namun, saat Sakura menurunkan kakinya ke lantai yang dingin, sebuah rasa ganjil menyengat dadanya. Senyuman cerah di wajahnya perlahan luntur. Di balik kepalanya yang terasa sedikit berat, ada rasa hampa yang tiba-tiba menyeruak, sebuah rasa asing yang berbisik tajam bahwa ada sesuatu yang salah.
Namun Sakura segera menepisnya, ia mengabaikan sesuatu yang terasa janggal di kepalanya dengan segera membersihkan diri.
Ketika memasuki ruang makan, Sakura langsung duduk di samping Sasuke, menikmati sarapan pagi yang sudah Sasuke siapkan.
"Seperti biasa, masakan mu selalu enak, Sasuke-kun."
Sasuke menatap Sakura yang kembali mengunyah setelah berbicara, tangannya terulur, menghapus noda di sudut bibir Sakura dengan jemarinya.
"Aku belajar dari kak Itachi, wajar jika rasanya enak."
Sakura mengangguk paham, lagi-lagi Itachi, kebanyakan yang keluar dari bibir Sasuke itu nama Itachi, pria itu selalu membanggakan kakak tersayangnya.
"Hari ini kau bertugas di rumah sakit lagi?"
"Iya, soalnya aku merasa bosan jika tak melakukan apapun."
YOU ARE READING
(Un) True Love
FanfictionAwalnya Haruno Sakura menjalani harinya seperti biasa, setiap ingatan buruk yang telah ia lalui terasa seperti mimpi. Tapi akhir-akhir ini Sakura menyadari dirinya, menyadari dirinya terjerat dalam cinta yang tak nyata Di balik bayang, seseorang mem...
