"Baiklah, selama tiga jam ke depan kalian bebas melakukan apapun. Dan setelah waktu berakhir, mari kita lihat apa saja yang kalian dapatkan pada study tour kali ini."
Sorakan para murid langsung pecah begitu Pak Rama, guru sejarah kami, selesai bicara. Tidak butuh hitungan menit sampai para murid menghilang di kerumunan, menjelajahi seluruh penjuru museum antik ini. Aku salah satunya.
Kalau boleh jujur, aku bukan orang yang tertarik dengan hal-hal kuno seperti reruntuhan tua atau senjata berkarat seperti itu. Tapi, perasaanku mengatakan kalau museum ini cukup menarik.
Aku membiarkan kakiku berjalan sesuai keinginannya. Terbawa arus. Dan di sinilah aku sekarang, di antara rak-rak tinggi berisikan buku-buku tebal yang tampak usang.
Aneh, tempat ini terasa lebih sunyi dibanding bagian museum lainnya.
Ini di mana?
Aku refleks mengusap hidungku dengan punggung tangan, bau debu lama membuat hidungku gatal.
"Tersesat, Dik?"
Suara itu membuatku menoleh.
Seorang lelaki berdiri beberapa langkah di belakangku. Seragam abu-abu yang dikenakannya rapi, dengan kartu tanda pengenal menggantung di lehernya. Wajahnya masih muda-terlalu muda, bahkan-dengan senyum santai seolah sudah terbiasa menemukan orang seperti aku di tempat ini.
Mungkin staf museum.
"Tempat ini memang agak... membingungkan di awal," lanjutnya.
Mataku melirik sekeliling, menangkap debu-debu samar di beberapa titik sebelum kembali menatap matanya.
"Perpustakaan?" tanyaku ragu. "Di tengah museum?"
Dia mengangguk pelan.
Masih tersenyum ramah.
Tangannya menyusuri punggung beberapa buku, seolah sedang mencari sesuatu-atau sekadar menyentuhnya.
"Banyak yang tidak menyadari bagian ini," katanya.
"Padahal justru di sinilah... sebagian hal disimpan."
Aku mengernyit. "Maksudnya?"
Dia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia menarik satu buku dari rak dan menyodorkannya padaku.
"Coba buka."
Aku membukanya sekilas.
Isinya tentang manusia purba-hal yang tadi sempat kulihat replikanya di dekat pintu masuk.
"Semua hal yang kamu lihat di luar sana-" ujarnya.
"-punya cerita yang lebih panjang." Dia berhenti sejenak, matanya yang cokelat terang menatapku.
"Dan tidak semuanya berhenti di masa lalu."
Aku terdiam.
Entah kenapa, kalimat itu terasa... aneh.
"Jadi... ini cuma pelengkap museum?" tanyaku akhirnya.
Dia tersenyum tipis, membuat lesung pipit samar di pipinya semakin jelas, "Kalau kamu mau menganggapnya begitu, tidak masalah."
Jawaban yang tidak benar-benar menjawab.
Setelah itu dia kembali membicarakan soal perpustakaan seolah pertanyaanku tadi tidak penting.
Tetap saja aneh kalau ada perputakaan besar di tengah-tengah museum.
Aku hanya mengangguk kecil-tidak begitu mendengarkan.
YOU ARE READING
BASKARA
FantasyCap cip cup, kembang kuncup- Wah. Kalau biasanya studytour cuma dapat hikmah, Baskara lebih beruntung daripada kalian. Dapat Buku Cokelat Tua Misterius. Sebenarnya cuma asal pilih buku. Tapi- Yakin? Asal pilih buku atau memang 'terpilih'?
