Katanya dedaunan akan gugur pada waktunya. Pohon bertumbuh tinggi, dunia berevolusi, lalu kita tiba-tiba asing dengan hidup sendiri.
Tiba-tiba kita bertumbuh besar dengan mimpi yang berubah jadi omong kosong sepi. Bukan lagi pertanyaan, mau jadi apa di masa depan. Tapi pertanyaan, kita bisa bertahan sampai kapan?
Akankah sampai akhirnya kita membangun keluarga kecil yang selalu kita impikan itu?
Sekarang, aku di kantor kecamatan untuk membuat kartu tanda penduduk. Sebuah kartu berwarna biru, dengan foto berlatar merah yang semoga saja terlihat enak dipandang.
Identitasku akan ditambahkan di sana dengan tanda tangan pada bagian bawah foto. Sidik jari, bola mata, satu persatu tahapan pendaftaran selesai. Ternyata, tidak butuh waktu lama.
"Ini udah selesai, satu minggu lagi bisa diambil di mal pelayanan publik ya," ujar petugas kecamatan lalu menyerahkan secarik kertas untuk mengambil kartu tanda penduduk milikku satu minggu lagi.
Aku mengangguk dan berujar terima kasih. Setelah keluar dari ruangan, aku mulai mencari Arkana, lelaki itu tidak ada di kursi tunggu sampai akhirnya aku menemukannya sedang memperhatikan spanduk di sekitarnya.
Aku menepuk pundak Arkana, "Lagi apa, Bul?"Arkana seketika berbalik ke arahku, pundaknya bergetar, biasanya dia begitu kalau sedang kaget.
Arkana tidak langsung menjawab, seperti biasa dia akan senyum-senyum gak jelas dan menggandeng tanganku. Kami berjalan beriringan keluar dari kantor kecamatan.
"Di masa depan, aku yang akan buat spanduk kayak tadi, Griz. Dengan tampilan yang lebih modern, tapi tetap informatif. Pokoknya aku mau jadi Graphic Designer yang kliennya di mana-mana," jelas Arkana dengan mata berbinar.
Nadanya menggebu-gebu. Aku selalu suka melihat cahaya di mata Arkana tiap kali dia bersemangat. Kepala Arkana itu dipenuhi oleh mimpi dan cara untuk menggapai mimpinya. Aku suka bagaimana ia jarang sekali menyerah dengan mimpinya sendiri. Kalau ia punya seribu alasan untuk menyerah, di waktu yang sama ia akan punya seribu satu alasan untuk tetap bertahan.
Aku mengangguk-angguk mendengarnya bercerita tentang rencana masa depannya. Sampai akhirnya langkah Arkana berhenti, ia menatap ke arahku dengan tatapan malu-malu.
"Terus, ada satu lagi mimpiku, Griz," katanya pelan.
Aku mengerutkan dahi, "Apa?" tanyaku penasaran.
Arkana masih menatapku, pipinya bersemu merah. "Kamu bakal jadi istri Graphic Designer paling terkenal sedunia ini, Griz." Aku tertawa pelan lalu Arkana mempercepat langkahnya, salah satu kebiasaan aneh lelaki ini, dia yang ngomong dia juga yang salah tingkah.
Terus kalau udah salah tingkah gini, jalannya jadi berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Aku mengejar langkah kakinya yang lebih panjang itu, sembari sesekali tertawa geli ketika mengingat kembali ucapannya barusan.
Setelah memasangkan helm, seperti biasa juga Arkana akan mengecup pucuk kepalaku yang tertutup helm itu. Kadang aku protes, kenapa dia lebih pilih untuk mengecup helm dibanding kepalaku? Padahal aku sudah keramas tadi pagi.
"Bakso Kang Ujang untuk merayakan satu tahap kedewasaan!"
Arkana mengendarai Bubur–nama motor hitam kesayangannya menuju bakso langganan kami. Dari semua nama aku juga gak paham kenapa dia pilih nama ini. Arkana itu memang kreatif, walaupun pemikirannya seringkali diluar normalnya manusia.
Kami memecah jalanan Bandung yang terasa lebih senyap dari sebelumnya. Hingga akhirnya sebuah spanduk bakso terlihat jelas, itulah tujuan kami hari ini.
Sebuah ruko kecil dengan spanduk karya Arkana. Bertuliskan Bakso Kang Ujang yang menjadi bagian utama dari spanduknya. Lalu di bagian kanan dan kiri ada ilustrasi bakso dan Kang Ujang yang tersenyum lebar. Arkana sengaja membuat spanduk ini, dengan tujuan untuk nambah portofolio dan berterima kasih sama Kang Ujang karena udah menciptakan bakso seenak ini.
ESTÁS LEYENDO
MARGINS
FanfictionBagi Grizella Nirbita, beranjak dewasa adalah memilih antara mimpi atau realitas dalam hidupnya. Ketika ia berpikir keduanya bisa berjalan beriringan, kehidupan justru memberinya pemahaman berbeda. Bahwa terkadang, ia harus mengubur salah satunya de...
