Shift kerja Ymir sudah berakhir setengah jam yang lalu.
Hari ini adalah akhir pekan, tempatnya bekerja tidak seramai hari-hari sibuk lainnya. Orang yang berlalu-lalang masih dapat berjalan dengan santai, merencanakan destinasi wisata sambil tertawa, atau bersikap kikuk karena baru pertama kali menginjakkan kaki di stasiun transit ini.
Stasiun Rose J. Fritz.
Absennya para pekerja sibuk di stasiun cukup memberi napas lega untuk Ymir. Ia tak perlu berhadapan dengan pelanggan yang mengecek arloji tiap tiga detik sekali, atau lebih sialnya, yang menuntutnya menyiapkan es kopi dengan buru-buru seiring dengan jadwal kedatangan subway.
Namun hari ini agak lain.
Beberapa tahun terakhir Ymir bekerja di sebuah kios snack kecil di stasiun Rose J. Fritz. Normalnya ia mengisi shift malam yang berakhir jam enam pagi. Walaupun kemarin hari cukup lengang, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Ymir; pasangan yang duduk berdua di salah satu bangku dekat peron C-D.
Tunggu, bisakah Ymir sebut mereka sebagai 'pasangan'? Entah, bahkan orang sebebal Ymir tahu tidak ada cinta di antara keduanya. Namun mereka terlihat memiliki hubungan yang bisa dibilang cukup baik.
Lelakinya berwajah kusut seperti dijatuhi beban dunia. Yang wanita berwajah sembab habis menangis. Sempurna.
Dan lagi, ini adalah tanggal spesial. Dulu, sih, tidak lagi untuk dua tahun terakhir. Dulu, Ymir dan kekasihnya akan bertemu di stasiun ini diam-diam, lebih sering di kios tempat kerjanya sekitar pukul enam atau tujuh pagi. Lalu Ymir akan mengantar kepergian sang kekasih di peron G-H, dengan subway yang mengarah ke Distrik Orvud, tempat kekasihnya berkuliah.
Dua tahun tidak lagi ada tradisi itu karena kekasihnya—sekarang mantan—dipaksa sang ayah melanjutkan studi di luar negeri. Membangun karir sekaligus keluarga baru di negeri nun jauh di sana.
Ya, Ymir ditinggal menikah. Kekasihnya dinikahkan dengan seorang laki-laki pula.
Nama mantannya sungguh cantik, selaras dengan wajahnya; Historia. Yang pahit adalah, kisah mereka juga cuma menjadi history—sejarah. Ymir suka terkekeh penuh ironi kalau teringat hal itu.
Kisah mereka dibangun di bangku sekolah menengah atas, mereka menemukan satu sama lain. Walau diperhatikan dengan aneh oleh kawan-kawan, mereka tidak peduli. Apa, sih, anehnya dua sejoli yang menjalin kasih? Tidak ada sama sekali, bukan?
Sampai yang melarang adalah ayah Historia sendiri. Hubungan mereka kandas saat Historia mulai berkuliah dan Ymir mulai disibukkan dengan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Namun mereka masih suka bertemu di stasiun ini saat Historia akan kembali ke tanah rantau. Mungkin setahun hanya dua kali.
Ponsel Ymir bergetar tanda pesan masuk. Garis bibirnya terangkat, senyumnya merekah.
Seseorang datang menghampiri Ymir dari subway yang baru saja tiba di peron G-H. "Ymir!"
***
Historia masih ingat betul tiap kali ia bertemu diam-diam dengan Ymir, Ymir akan menjanjikan sesuatu padanya; bahwa Ymir akan selalu mengingat Historia sebagai satu-satunya cinta. Bahwa Historia adalah cinta pertama yang tak akan Ymir lupakan.
Lantas Historia akan menangis setelah mendengar kalimat itu. Ia tidak ikut berjanji mengenai apapun namun merasa diri sudah melakukan pengkhianatan romansa besar yang dosanya tidak bisa ditebus, yaitu kalah dari sang ayah dan merelakan dirinya dinikahkan dengan orang lain yang bukan Ymir.
Bukan salah Historia tentu saja. Kalau bisa memilih, ia ingin bahagia dengan Ymir sampai mati.
Yang dipisahkan bukan hanya hubungan, melainkan juga raga. Dua tahun berada di negeri orang bukanlah waktu singkat untuk Historia. Ia butuh waktu untuk melepas Ymir. Dan ia butuh waktu untuk menerima keputusan sepihak sang ayah yang akan menikahkannya dengan laki-laki yang sama sekali tak ia kenal.
Sudah berjalan setahun pernikahan itu. Sudah berjalan dua tahun Historia merantau jauh.
Hari ini Historia berkesempatan untuk pulang ke tanah air, dan yang menjadi tujuan pertamanya adalah Stasiun Rose J. Fritz. Dengan kata lain, tujuannya adalah Ymir. Historia setengah berharap Ymir masih bekerja di sana, di kios kecil pojok stasiun, dan setengah berharap karir mantannya itu sudah lebih baik alias bukan lagi penjaga kios snack.
Historia sempat mondar-mandir di area toilet stasiun sambil menunggu shift Ymir selesai. Sudah pukul enam lebih dan Ymir sepertinya masih ada di kios. Historia ingin pertemuan ini menjadi kejutan. Ia sudah berdandan dengan cantik, juga sudah menyiapkan hadiah.
Aku tidak peduli kalau aku dicap sebagai tukang selingkuh, katanya dalam hati. Sejak awal pernikahanku hanya kepalsuan.
Dari kejauhan, Historia melihat Ymir berjalan menuju peron G-H, peron yang menjadi saksi bisu perpisahan setelah pertemuan singkat mereka. Ymir tampak sedang menggunakan ponselnya, kemudian celingak-celinguk seperti sedang menunggu sesuatu... atau seseorang.
Historia berjalan kecil untuk menghampiri Ymir. Bersamaan dengan seorang wanita mungil berambut hitam yang baru saja turun dari subway dan memanggil nama mantan kekasihnya itu.
"Ymir!"
Seharusnya Historia yang ada di posisi itu. Memanggil nama Ymir, bertegur sapa dengan senyuman di wajah, lalu berciuman tepat di depan peron G-H tanpa peduli orang sekitar. Harusnya Historia yang menggamit tangan Ymir dan pergi sambil berceloteh riang.
Historia tidak tahu harus merasa apa. Sakit hati karena Ymir sudah menemukan cinta lain yang bukan dirinya? Bahagia karena Ymir tampak baik-baik saja? Atau haruskah Historia merutuki takdir di mana Ymir bisa terus menjadi diri sendiri sementara ia harus hidup terkekang norma dan orang tua?
Tapi ia dan Ymir sudah tidak memiliki hubungan. Tidak ada yang boleh merasa memiliki dan terkhianati di sini. Lalu bagaimana dengan janji yang selalu Ymir ucapkan kala mereka bertemu? Mungkin sama kosongnya dengan ikrar suci pernikahan Historia.
Historia terlalu percaya diri memang. Ymir pergi meninggalkannya tanpa perpisahan.
[FIN]
.
.
Terima kasih sudah baca :D
Aku bisa ditemui di twitter (usn: cheerstein)
YOU ARE READING
Stasiun Rose J. Fritz, Peron G-H
FanfictionIni bukan tentang kita lagi. [YumiHisu, hurt/comfort, rating T]. Dari universe Stasiun Rose J. Fritz
