1) Kehilangan

275 51 16
                                        

Chandra meletakan mainannya saat suara langkah kaki dan jeritan itu semakin nyaring di telinganya. Ia bergeser, duduk membelakangi pintu dan menutup telinganya dengan erat, mencoba menyamarkan suara-suara di luar sana.

Lego-lego dan mobil-mobilan berserakan di sekelilingnya. Tubuh kecil itu mulai memucat tatkala angin malam berembus dari jendela yang terbuka dengan kencang, menerbangkan gorden di depannya hingga membuat pintu kaca jendelanya beradu dengan tembok kamarnya dan mendorong lego-legonya menjauhi tubuhnya.

Selama semalaman itu ia terus duduk menutup kedua telinganya tanpa beranjak sedikit pun. Matanya perlahan terpaku pada laci nakas, menatap pisau yang berkilau di atasnya.

Di atas piring, pisau itu terletak di sisi buah apel yang sudah busuk dan mengempis. Bayangan darah, pecahan piring, dan apel yang jatuh berserakan membuatnya semakin menunduk ketakutan.

"Chandra nggak mau, Chandra nggak mau makan apel lagi."

Lirihan itu bagai sebuah mantra yang terus ia tanamkan dalam dirinya. Bayangan Ibunya yang selalu terbaring di lantai dengan luka sayatan di tangan dan apel di sisinya membuat anak berusia sembilan tahun itu membenci buah yang selalu ia temui di setiap sudut rumahnya.

Rumah bertingkat dua, bercat putih itu mulai diguyur hujan lebat dengan petir yang menyambar. Jendela yang terbuka membuat udara malam menyusup ke dalam kamar Chandra. Angin besar menerbangkan gorden, mematikan listrik dan menenggelamkan satu nyawa yang mengambang di atas kolam.

Perempuan bergaun biru itu terlentang di atas permukaan air dengan hujan lebat yang menjatuhi tubuhnya. Sepotong apel di genggamannya mulai terlepas dan jatuh ke dalam dasar kolam.

Darah dari luka di lengannya perlahan larut ke dalam air, menciptakan semburat merah muda di sekitar tubuhnya.

Petir menyambar keras hingga mengagetkan sosok kecil yang bersembunyi di dalam kamarnya dengan ketakutan.

"Chandra nggak suka di rumah ini, Chandra mau pulang. Chandra benci apel, Chandra nggak mau sama papah baru."

Di dalam kamar, Chandra terus meracau mengatakan kebenciannya pada buah apel yang selalu menyakiti Ibunya dan membuatnya terluka.

Malam itu, Chandra terus menunggu sampai sang ibu datang menjemput dan memeluk tubuhnya seperti biasa.

🍎🍎🍎

Bunyi sirene ambulans terdengar di pagi hari. Rumah putih itu mulai ramai didatangi warga yang berbondong-bondong datang untum menyaksikan polisi dan petugas kesehatan mengevakuasi jenazah Ibu Chandra.

Sementara anak itu justru menatap dingin, di sisinya perawat mengusap kedua bahunya dengan linangan air mata, menguatkannya tentang kepergian sang Ibu.

Kaki kecilnya menapaki lantai dengan hanya mengenakan satu sepatu. Tangannya mengepal tatkala ayah barunya berlari masuk bersama kedua anaknya. Salah satu anaknya berjalan tenang, sementara anak perempuan lainnya berlari ketakutan ke arah nenek mereka dengan manja.

Tatapannya beralih, bertemu dengan salah satu saudara tirinya. Anak laki-laki itu membalas tatapannya dengan datar sebelum berjalan menuju sang nenek yang senantiasa memeluk dan memperhatikan saudara perempuannya yang ketakutan.

Chandra menunduk, melirik kaki sebelah kirinya yang tanpa alas kaki lalu membandingkan dengan perhatian sang nenek yang duduk mengusap rambut halus cucu perempuan kesayangannya yang berdiri di sebelah cucu laki-lakinya dan menyingkirkan seekor serangga kecil yang hinggap di sepatu mahal cucunya tanpa ragu.

Chandra mengepalkan kedua tangannya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, menatap air kolam yang sudah di kelilingi garis kuning. Anak itu menunduk marah, menyadari ia akan sendiri setelahnya tanpa kehadiran sang ibu.

"Kata Nenek harus ganti sepatu."

Tatapannya beralih pada sepasang sepatu yang tersodor ke arahnya. Ia mengangkat pandangannya, menatap benci lalu melempar sepasang sepatu itu dengan kencang di hadapan semua orang.

Perilakunya tak menarik perhatian banyak karena keadaan yang masih berfokus pada penelusuran polisi tentang kematian ibunya.

"Pembunuh," ujarnya tajam pada anak laki-laki seusianya yang menurut ibunya lebih muda darinya dua bulan. Sosok yang ibunya tekankan sebagai salah satu adik barunya yang harus ia jaga.

Namun, kebenciannya yang telah mendidih membuat Chandra melupakan pesan ibunya dan membenci seluruh keluarga ayah tirinya termasuk Alaska.

Chandra mendorong tubuh yang lebih kurus darinya itu lalu berlalu dengan cepat.

"Kakak," parau Alaska dari belakang.

🍎🍎🍎

Lanjut?

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Lanjut?

Jangan lupa vote dan komen ya🤗

Tempat Yang HilangStories to obsess over. Discover now