Siang itu, lapangan SMA ternama di tengah kota terasa seperti oven raksasa. Teriknya benar - benar tidak main - main. Udara panas membuat para siswa yang berada di lapangan sibuk mengusap keringat yang bercucuran di dahi mereka.
Di salah satu sisi lapangan, Sebastian duduk di bangku setelah bermain basket bersama teman - temannya. Kaus biru yang dikenakannya sudah basah oleh keringat. Napasnya masih terengah - engah, sementara tenggorokannya terasa kering seperti belum minum seharian. Ia menarik bagian bawah kausnya lalu mengibaskannya beberapa kali, berharap angin kecil bisa sedikit mengurangi rasa gerah yang menyelimuti tubuhnya.
"Sebastian!"
Suara itu membuatnya menoleh.
Dari kejauhan, Rhea terlihat berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan. Di tangannya ada sebotol air mineral dingin yang masih tampak berembun.
"Sebastian!" Panggil Rhea lagi ketika sudah semakin dekat.
Sesampainya di depan Sebastian, Rhea langsung menyodorkan botol air tersebut.
"Nih."
Sebastian menatap botol itu, lalu beralih menatap Rhea dengan wajah sedikit heran.
"Buat gue?"
"Iya. Masa buat tiang basket?" jawab Rhea santai.
Sebastian terkekeh kecil, sebelum mengambil botol itu. "Lo penyelamat hidup gue."
"Lebay banget."
Sebastian tidak menjawab. Ia langsung membuka tutup botol dan meneguk airnya beberapa kali. Air dingin yang mengalir melewati tenggorokannya terasa seperti penyelamat di tengah panasnya siang itu.
Rhea kemudian duduk di sebelahnya.
"Capek?"
"Banget."
"Makannya kalau main basket jangan sok jago."
Sebastian meliriknya. "Gue nggak sok jago."
"Tadi siapa yang bilang bakal masukin tiga poin terakhir?"
"Itu strategi."
"Itu namanya hampir jatuh."
Sebastian tertawa kecil. "Tapi masuk, kan?"
Rhea mengangkat bahu. "Masuk karena kebetulan."
"Yang penting masuk."
Percakapan sederhana itu seharusnya berhenti sampai di sana. Namun entah kenapa, hari itu terasa sedikit berbeda.
Mungkin karena matahari yang terlalu terik.
Mungkin karena botol air dingin yang diberikan Rhea.
Atau mungkin karena Sebastian mulai menyadari bahwa selama ini, orang yang selalu ada di dekatnya bukan sekadar teman biasa.
___
Bel pulang sekolah berbunyi beberapa jam kemudian.
Lorong sekolah mulai dipenuhi siswa yang bergegas menuju gerbang. Beberapa berjalan sambil bercanda, sebagian sibuk mencari kendaraan jemputan, dan yang lainnya memilih menghabiskan waktu di kantin sebelum pulang.
Sebastian berjalan santai menyusuri koridor bersama Rhea.
"Besok jadi, kan?" tanya Rhea tiba tiba.
Sebastian mengernyit. "Jadi apaan?"
Rhea berhenti berjalan.
"Ya ampun, Sebastian."
"Apa?"
"Lo lupa?"
Sebastian menggaruk kepalanya. "Gue emang harus inget sesuatu?"
Rhea menghela napas panjang. "Tiga puluh hari."
Sebastian masih terlihat bingung.
Rhea akhirnya mengambil sebuah kertas kecil dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Sebastian.
Di sana tertulis sebuah tanggal yang dilingkari tinta hitam.
Sebastian memperhatikan tulisan itu beberapa saat.
"Terus?"
"Mulai besok."
"Mulai besok apa?"
Rhea menatapnya seolah sedang berhadapan dengan manusia paling menyebalkan di sekolah.
"Janji kita."
Sebastian terdiam.
Barulah ia ingat.
Tiga puluh hari.
Tepat tiga puluh hari sejak mereka membuat sebuah kesepakatan yang awalnya terdengar seperti lelucon.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya sederhana.
Mereka hanya perlu melakukan satu hal.
Menjadi pasangan.
Selama tiga puluh hari.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Dan setelah tiga puluh hari, mereka akan kembali seperti semula.
Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan saat pertama kali membuat kesepakatan itu.
Sebastian menatap Rhea.
"Lo masih serius?"
"Serius."
"Kenapa harus tiga puluh hari?"
"Karena satu bulan kedengarannya terlalu lama."
Sebastian tertawa. "Logika macam apa itu?"
"Logika gue."
Rhea kembali berjalan meninggalkannya.
Sebastian memasukkan kertas itu ke saku celananya lalu menyusul.
Ia tidak tahu bahwa tiga puluh hari tersebut akan mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Ia juga tidak tahu bahwa terkadang, waktu tiga puluh hari cukup untuk membuat seseorang yang awalnya hanya dianggap teman berubah menjadi seseorang yang tidak ingin kehilangan.
Dan semuanya di mulai dari besok.
Hari pertama dari tiga puluh hari mereka.
ESTÁS LEYENDO
Just 30 Days
RomanceSebastian dan Rhea adalah dua sahabat yang sepakat menjalani hubungan pura-pura selama 30 hari. Awalnya, semua hanya sebuah permainan untuk membantu Rhea menghindari seseorang dari masa lalunya. Namun, hari demi hari berlalu, batas antara pura-pura...
