Ketika rumah masih terlelap,
Ibu sudah lebih dulu bangun.
Bukan karena pagi memanggilnya,
melainkan karena ada begitu banyak hal
yang hanya akan berjalan
jika tangannya lebih dulu bergerak.
Ia menyalakan lampu dapur,
memanaskan air,
menanak nasi,
menyiapkan sarapan
untuk orang-orang
yang mungkin tidak pernah tahu
berapa banyak cinta
yang diselipkan
di antara kesibukan itu.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada yang berkata,
"Terima kasih, Bu."
Hari hanya berjalan
seperti biasa.
Dan Ibu
tetap menjadi seseorang
yang paling terakhir
memikirkan dirinya sendiri.
---
Kami mengenal Ibu
dari banyak hal kecil.
Dari suara langkahnya
di pagi hari.
Dari panggilan
yang selalu terdengar
ketika kami terlambat bangun.
Dari tangan yang tahu
di mana obat disimpan
ketika kami sakit.
Dari mata
yang bisa membaca kesedihan kami
bahkan sebelum kami
sempat bercerita.
Aneh,
kami tumbuh dengan begitu banyak
hal yang Ibu berikan,
sampai terkadang lupa
bahwa Ibu pun
seorang manusia.
Ia bisa lelah.
Bisa kecewa.
Bisa menangis.
Bisa ingin menyerah.
Hanya saja,
entah mengapa,
Ibu selalu menemukan alasan
untuk bangun sekali lagi.
---
Ada malam-malam
ketika kami tertidur
tanpa mengetahui
Ibu masih terjaga.
Duduk sendirian
di ujung tempat tidur.
Memikirkan uang sekolah.
Memikirkan kebutuhan rumah.
Memikirkan anak-anak.
Memikirkan hari esok.
Barangkali ada air mata
yang jatuh diam-diam.
Namun pagi selalu menemukan Ibu
dalam keadaan yang sama:
bangun,
tersenyum,
dan berkata,
"Ayo, nanti terlambat."
Seolah semalam
tidak pernah terjadi apa-apa.
---
Ibu tidak selalu berkata
"Aku mencintaimu."
Cintanya punya bahasa sendiri.
Ia berbentuk nasi hangat
ketika kami pulang lapar.
Berbentuk payung
yang dibawanya ketika hujan.
Berbentuk pesan singkat,
"Sudah makan?"
Berbentuk pintu
yang tetap dibukanya
meski kami pulang terlambat.
Dan berbentuk doa
yang mungkin tidak pernah kami dengar,
tetapi selalu lebih dulu sampai
daripada langkah kami.
---
Kini kami mulai tumbuh.
Mulai punya kesibukan sendiri.
Mulai menemukan dunia
di luar rumah.
Dan mungkin tanpa kami sadari,
Ibu mulai kehilangan
suara-suara kecil
yang dulu memenuhi rumah.
Kamar yang dulu berantakan
mulai lebih sering kosong.
Meja makan
tidak lagi seramai dulu.
Panggilan,
"Bu..."
yang dahulu terdengar
berkali-kali dalam sehari,
perlahan menjadi lebih jarang.
Namun Ibu tetap menunggu.
Sebab bagi seorang ibu,
anak-anak boleh tumbuh
sejauh apa pun,
tetapi pintu rumah
tidak pernah boleh kehilangan
alasan untuk terbuka.
---
Suatu hari nanti,
mungkin rambut Ibu
akan semakin putih.
Tangannya
tidak lagi sekuat dulu.
Langkahnya
tidak lagi tergesa-gesa
mengejar kami.
Dan mungkin saat itu
kami baru benar-benar mengerti-
bahwa perempuan
yang selama ini kami anggap
tidak pernah lelah,
ternyata hanya terlalu pandai
menyembunyikan lelahnya.
Maka jika suatu hari
kami pulang,
jangan biarkan Ibu
yang berdiri menyambut kami.
Biarkan kami
yang datang lebih dulu.
Biarkan kami
yang membuka pintu.
Biarkan kami
yang berkata,
"Ibu, duduklah.
Hari ini biar kami yang mengurus semuanya."
Sebab selama ini
Ibu sudah terlalu lama
menjadi tempat kami bersandar.
Kini giliran kami
menjadi tempat Ibu
meletakkan lelah.
---
Ibu,
jika suatu hari nanti
kami tidak lagi tinggal
di rumah ini,
jangan kira
kami benar-benar pergi.
Sebab ada bagian dari rumah ini
yang akan selalu kami bawa:
aroma masakanmu,
suara langkahmu,
nasihatmu
yang dulu sering kami abaikan,
dan doa-doamu
yang diam-diam
menjaga kami
di tempat-tempat yang jauh.
Barangkali itulah
cinta seorang ibu-
ia tidak selalu berjalan
bersama kita,
tetapi selalu menemukan cara
untuk mengikuti.
---
Dan jika suatu hari
kami lupa mengatakan
betapa berartinya dirimu,
semoga kau tahu:
rumah ini mungkin memiliki
atap, dinding, pintu, dan jendela,
tetapi tanpa Ibu,
ia hanya sebuah bangunan.
Sebab Ibulah
yang membuatnya menjadi rumah.
Ibulah
yang membuat kami tahu
bahwa ada tempat
di mana kami boleh pulang
dengan segala kekurangan.
Tempat kami boleh gagal
tanpa kehilangan kasih.
Tempat kami boleh menangis
tanpa merasa malu.
Tempat nama kami
selalu disebut
dalam doa.
Dan mungkin,
seumur hidup kami
akan terus mencari
tempat ternyaman di dunia.
Sampai akhirnya kami sadar-
tempat itu
pernah kami miliki
sejak pertama kali
Ibu membuka kedua tangannya
dan menyambut kami pulang.
Ibu adalah rumah
yang tidak pernah tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah yang Bernama Kita
PoetryTentang keluarga yang tidak selalu sempurna, tetapi selalu punya alasan untuk saling kembali. Tentang Ayah, Ibu, anak-anak, tawa, luka, dan waktu yang perlahan membawa semuanya berubah. Sebab pada akhirnya, rumah bukan sekadar tempat untuk pulang- m...
