1

871 19 1
                                        

Ngiiing

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ngiiing.

Kipas pendingin laptop di atas meja kayu itu menjerit putus asa. Layar monitor membeku, menampilkan separuh desain interface aplikasi yang warnanya kini berubah abu-abu pucat. Lingkaran loading berputar patah-patah di tengah layar.

Arlan Galileo Vidal berhenti mengetuk-ngetukkan jari manis dan kelingking tangan kanannya ke paha. Matanya yang condong sayu menatap datar ke arah layar. Tangan kirinya mengusap tengkuk belakangnya perlahan.

'Bangsat. Giliran gue butuh duit cepat, mesin rongsok ini malah minta istirahat.'

Hujan badai menghantam kaca jendela co-working space di lantai dua Megafit Gym Senayan sore itu. Air mengalir deras membentuk tirai buram di kaca, memblokir pemandangan macetnya jalanan Jakarta. Udara dari celah ventilasi berembus membawa hawa sedingin es. Arlan melirik ikon baterai di sudut layar. Tiga persen.

Dia menarik napas panjang, menahan umpatan yang sudah menggantung di ujung lidah. Aroma kopi susu aren yang sedari tadi dia sesap tertinggal manis di rongga mulutnya, berbaur dengan kepahitan realita saldo rekening BCA-nya yang menipis. Membayar paket VIP Private Coaching selama tiga bulan di muka benar-benar menguras tabungan freelance-nya. Semuanya murni investasi. Sebuah taruhan nekat untuk menembus benteng pertahanan seorang target yang nyaris mustahil disentuh.

Arlan melipat laptopnya kasar. Dia butuh colokan listrik dengan daya stabil, dan satu-satunya stopkontak yang kosong ada di area bawah. Tepatnya di sudut ruang VIP Coaching Corner. Area itu dibatasi partisi kaca tebal dengan pendingin ruangan yang suhunya diatur lebih rendah, membuat sebagian kacanya kini berembun tipis akibat kontras suhu dengan hujan di luar.

Di sanalah targetnya berada.

Arlan menyandang tas ranselnya, berjalan gontai menuruni tangga. Tangan kirinya otomatis masuk ke dalam saku celana training hitamnya, sementara tangan kanannya menggantung melayang di sisi tubuh. Sebuah refleks konyol untuk mencegah ujung jarinya menyentuh kulit siapa pun secara tidak sengaja di tangga.

Pintu kaca area VIP terbuka secara otomatis saat Arlan mendekat. Hawa dingin langsung menampar wajahnya. Musik EDM yang biasanya berdentum di area publik gym digantikan oleh keheningan kaku, hanya diisi oleh derit logam dan napas berat.

Tepat di tengah area bantal stretching berkarpet hitam, berjarak tiga meter dari stopkontak incarannya, seorang pria sedang menuntaskan repetisi terakhir powerlifting-nya.

Kenzo Bramastra Devan.

'Anjing. Ototnya kok bisa sepadat itu sih? Makan apa ini orang selain dada ayam hambar?'

Arlan menelan ludah, menghentikan langkahnya sejenak. Dia membiarkan matanya bekerja, menguliti setiap detail fisik pria di depannya layaknya mesin scanner.

Bahu Kenzo membentang lebar bagai kanvas keras, melengkung kokoh menopang beban pelat besi di atas punggung atasnya. Keringat membanjiri kaus compression hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan perutnya yang keras. Setiap kali lutut Kenzo menekuk untuk melakukan squat, urat-urat tebal bermunculan di sepanjang lengan bawahnya yang telanjang. Rambut potongan taper fade-nya tampak rapi meski sedikit basah, ujung-ujungnya menempel di dahi yang berkerut konsentrasi.

Super SensitifStories to obsess over. Discover now