Tetangga Baru

139 18 10
                                        

*

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

*

Ya! Gue goblok! Seharusnya gue dengarin saran Ibu buat sewa unit apartemen aja sekalian. Gak masalah cuma yang tipe studio meski gue benci ngelihat kompor di area gue tidur. Seenggaknya mungkin di apartemen gak bakal seberisik ini. Tergiur harga murah, unit rumah susun ini gue sewa tanpa banyak pikir. Poin plus awalnya banyak banget. Selain harganya yang murah, Rusun ini juga dekat dari kantor, areanya gak pernah banjir, unitnya lega, dan yang paling penting ada empat teman kantor gue tinggal di sini juga.

Pikir gue waktu itu, sebagai perantau, seenggaknya mayat gue gak akan ditemuin terlalu lama kalau tiba-tiba gue mati. Yang paling gue takutin dalam hal tinggal sendiri dan jauh dari keluarga ya cuma itu. Kalau gue mati, pasti gak ada yang nyariin, dan mayat gue berakhir ditemuin seminggu kemudian saat udah bau bangke.

"Astaga!" Gue menggeram. Sudah gak bisa fokus lagi. Langsung gue tengok dinding di samping meja kerja gue, suara berkerincing datang terus dari kamar sebelah. Berisik banget. Campur aduk suara tadi sama ketukan kayu pada benda berbahan stainless, gak lupa menyahut suara geraman kayak orang lagi menggigil.

"Hayuk! Ulah ngibrit siah!"

Mata gue berputar, sudah mulai muak. Ini baru hari kelima setelah kamar sebelah terisi, tapi rasanya gue pengin minggat. Kemudian keadaan diperparah dengan dering hape gue, nama kampret itu muncul di layar.

"Halo, Mas!" sapa gue dengan suara yang gue yakin gak bersahabat.

"Gimana, Rus? Kenapa belum dikirim juga desain finalnya?" tanya Mas Pulung, atasan gue di kantor. "Lagi dimana sih lo? Berisik banget?"

"Di rumah, Mas!" jawab gue tiba-tiba sewot. "Ini bentar lagi, kok. Mmm ... Lima belas menit lagi gue kirim ya?"

"Kelamaan, Rus. Itu desain harus diperiksa dulu. Lima menit?"

Mata gue melotot. "Sepuluh menit, deh."

"Lo lagi nonton kuda lumping ya?"

"Bukan!" sambar gue mulai malas menjawab. "Ya udah, sepuluh menit lagi gue kirim!"

Panggilan gue akhiri sembari bangun dari kursi kerja. Langkah gue menjejak, bisa gue dengar bibir gue sendiri menggeram barusan.

"Setan geulis, setan burik, sadayana!"

Wah sinting ini namanya! Suaranya makin gede aja dia. Saat gue buka pintu kamar keras-keras, mata gue sempat melirik jam dinding. Lega mendapati kalau kini sudah pukul sebelas malam. Alasan yang tepat buat marah-marah.

Berdiri gue di depan pintu kamar samping, suara kaki berjingkrak terdengar, dan gue yakin malam-malam besok bukan cuma gue yang bakal komplain, kamar bawah bisa jadi naik sembari teriak-teriak. Tetangga baru gue ini beruntung karena di barisan lorong ini banyak unit yang kosong. Kamar di sampingnya kosong, dua kamar di samping kamar gue juga kosong. Wajar kalau di malam kelima sejak dia pindah, cuma gue yang ngerasa terganggu.

The Ghost Hunter Next DoorStories to obsess over. Discover now