PROLOGUE: Garis Batas Antara Profesional dan Milik Pribadi

46 9 2
                                        

Gedung pencakar langit Heeseung Corporation selalu hidup dalam ritme yang kejam. Di lantai empat puluh dua, di balik dinding kaca kedap suara yang memperlihatkan lanskap kota Jakarta yang berkilau di bawah temaram lampu malam, waktu seolah berjalan lebih cepat dan tarikan napas terasa lebih berat.

Bagi para karyawan, Lee Heeseung adalah definisi absolut dari kesempurnaan yang mengintimidasi. Di usianya yang menginjak matang, pria itu memancarkan aura hot daddy yang berbahaya-bukan hanya karena wajah rupawan yang dipahat sempurna atau setelan jas tailor-made yang melekat pas di tubuh tegapnya, tapi karena kekuasaan mutlak yang dipegangnya. Tatapan matanya dingin, suaranya rendah dan tajam, serta gerak-geriknya selalu penuh perhitungan. Tidak ada seorang pun yang berani menatap matanya lebih dari tiga detik, apalagi mencari masalah dengannya.

Kecuali satu orang.

Park Sunghoon.

Sunghoon mendengus pelan, menatap layar komputer di ruang kerjanya yang hanya terpaut beberapa meter dari pintu ruang utama sang CEO. Jam di sudut kanan bawah layar sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sebagian besar karyawan sudah lama pulang, meninggalkan lantai tersebut dalam sunyi yang mencekam.

Di atas meja Sunghoon, secangkir americano dingin yang dibelinya tiga jam lalu sudah mengembun tanpa tersentuh.

"Udah dibilang jangan minum kopi dingin pas perut kosong, babe."

Suara bariton yang berat itu mendadak memecah keheningan, begitu dekat hingga membuat Sunghoon hampir melonjak dari kursi kerjanya. Belum sempat ia menoleh, aroma parfum woody bercampur amber yang sangat ia hafal sudah lebih dulu menyapa indra penciumannya. Bayangan tubuh tinggi besar mengurungnya dari belakang, tangan kokoh berbalut kemeja lengan digulung rapi sampai siku terulur menyingkirkan gelas kopi itu jauh-jauh dari jangkauannya.

Sunghoon mengerjap, mendongak untuk mendapati wajah Heeseung yang kini berada tepat di atasnya. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi, mengunci pergerakan Sunghoon tanpa celah.

"Mas..." protes Sunghoon pelan, mencoba mempertahankan nada protes profesional meski jantungnya sudah berdegup tidak karuan. "Ini masih ada laporan keuangan yang harus aku review buat meeting besok pagi. Jangan mulai deh."

Heeseung tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napas pendek, jemari tangannya yang hangat terulur untuk menangkup rahang Sunghoon. Ibu jarinya dengan lembut mengelus pipi pemuda itu, kontras sekali dengan sifat aslinya yang dikenal kejam di ruang rapat. Di depan publik, Heeseung adalah singa. Tapi di hadapan Sunghoon, ia adalah makhluk paling posesif yang rela meruntuhkan dunianya sendiri demi memastikan pemuda itu baik-baik saja.

"Kerjaannya bisa ditinggal, dede," bisik Heeseung tepat di dekat telinganya, suaranya berubah menjadi begitu memuja, sarat akan kelembutan yang hanya boleh didengar oleh Sunghoon seorang. "Tapi kesehatan kamu enggak. Kalau kamu sakit, yang repot aku."

"Aku bukan anak kecil, Mas," cibir Sunghoon, meski ia sama sekali tidak berusaha menepis tangan Heeseung dari pipinya. Bibirnya mengerucut sebal, menciptakan pemandangan yang sukses membuat rahang tegas Heeseung mengeras karena menahan gemas.

"Oh, really?" Heeseung tersenyum miring, senyum tipis berbahaya yang selalu membuat perut Sunghoon terasa tergelitik. Pria itu mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangat mereka saling beradu. "Kalau bukan anak kecil, kenapa tadi siang waktu meeting kamu ngeliatin aku sambil cemberut cuma karena aku nyuruh kamu makan siang?"

"Mana ada!" Sunghoon mengelak cepat, rona merah tipis seketika menjalar di kedua pipinya.

Heeseung terkekeh rendah-sebuah suara bariton yang terdengar begitu seksi di tengah sunyinya ruangan. Pria itu menegakkan tubuhnya, tapi alih-alih menjauh, ia justru menarik kursi Sunghoon agar berputar menghadap penuh kepadanya.

"Mulai minggu depan, kita publish hubungan kita," ucap Heeseung tiba-tiba, suaranya berubah serius, mutlak, dan tidak menerima penolakan.

Gerakan Sunghoon membeku. Matanya melebar menatap pria di depannya. "Maksudnya? Mas gila? Ini kantor kita! Kalau orang-orang tahu kita-"

"Biar mereka tahu kalau kamu milik aku," potong Heeseung cepat, tatapannya menajam penuh penguasaan. Ia merengkuh pinggang ramping Sunghoon, menariknya hingga berdiri dan merapat sempurna ke tubuhnya. "Aku udah bosan main petak umpet, babe. Aku udah bosan pura-pura jadi atasan galak pas di luar, padahal di dalam sini aku cuma mau meluk kamu seharian."

Sunghoon terkesiap, napasnya tercekat saat tangan besar Heeseung mengusap punggungnya dengan posesif. Ada debaran ketakutan, tapi jauh lebih besar lagi rasa mendebarkan yang membuncah di dadanya.

Hubungan rahasia ini sudah berjalan cukup lama. Di balik pintu tertutup, mereka adalah sepasang kekasih dengan dinamika manja yang kontras dengan dunia luar. Namun, ancaman untuk membawa semuanya ke permukaan-ke hadapan dunia yang kejam dan penuh gosip-adalah pertaruhan besar.

Dan tatapan mata tajam penuh keyakinan dari sang hot daddy di hadapannya saat ini menyadarkan Sunghoon akan satu hal: Lee Heeseung tidak pernah main-main dengan apa yang sudah ia inginkan.

TBC!

Bagaimana pendapat kalian tentang book ini? Kayanya gua mau bikin yang enak enak 🤣🤣

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Strictly Mine, BabeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang