Chapter 1 - One Year Left

1 0 0
                                        


Alya tidak pernah menghitung sisa hari dalam hidupnya. Ia tidak tahu pasti kapan akan mati. Namun, satu hal yang ia tahu persis: kapan ia akan berhenti bekerja di tempat itu.

Alya membuka mata perlahan di antara dering alarm yang sudah berbunyi untuk ketujuh kalinya. Awalnya biasa saja, tetapi dalam beberapa menit, pening mulai menjalar di kepalanya.

Seperti biasa, ucapnya dalam hati.

Ia tetap berbaring selama sepuluh menit sebelum benar-benar bangun. Sayangnya, ia tetap tidak menemukan alasan untuk meninggalkan kasur. Lima belas menit berikutnya ia habiskan dengan duduk diam di tepi tempat tidur.

Kehidupan Alya selama satu setengah tahun terakhir berputar pada kadar motivasi yang sama. Sama rendahnya. Tidak pernah bertambah. Lebih sering menyusut.

Pagi selalu diawali sakit kepala. Atau kecemasan tentang hari yang bahkan belum dimulai. Terkadang ia berharap bisa bertukar jiwa dengan orang lain dan melihat dunia dalam warna yang berbeda.

Atau mungkin aku hanya butuh romansa? tanyanya pada diri sendiri sesekali.

Namun, bunga matahari yang cantik pun akan layu dan mati jika dipaksa tumbuh di tempat yang salah.

Alya menatap kalender di meja belajarnya. Di bawah tanggal hari itu, ada tulisan kecil: 367.

Artinya, masih ada 367 hari sebelum ia benar-benar bebas.

Ia mengembuskan napas panjang. Napas itu tidak cukup untuk mengusir kekecewaan yang memenuhi dadanya.

Masih 367 hari lagi sebelum ia terbebas dari uraian tugas yang tidak jelas, atasan yang gemar marah-marah, gaji mungil di tengah gejolak inflasi, klien yang selalu merasa paling benar, serta sederet kesialan lainnya.

***

Kesialan Alya dimulai tepat ketika ia hendak memulai pekerjaannya hari itu.

Matanya terbelalak saat melihat salah satu freezer sampel di laboratorium Virologi masih dalam keadaan terbuka.

Ia segera membuka log akses kartu di komputer. Pintu laboratorium tercatat terakhir kali dibuka pada pukul 21.20 oleh dirinya sendiri.

Nama Alya Prameswari tertera sebagai pengakses terakhir.

Keningnya mengernyit. Ia yakin sudah memeriksa seluruh peralatan, sampel, dan freezer sebelum meninggalkan laboratorium kemarin malam.

Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Meskipun hanya seorang asisten laboran, Alya tahu bahwa beberapa sampel di tempat ini berbahaya dan tidak boleh dikeluarkan dari freezer sembarangan.

Ia membuka log inventaris dan memeriksa ulang seluruh sampel di dalam freezer. Semuanya lengkap. Tidak ada satu pun yang hilang.

Rasa lega sempat muncul, tetapi segera digantikan kecurigaan. Alya menatap sekeliling ruangan yang lengang. Tidak ada siapa pun. Ia memeriksa koridor melalui kaca pada pintu laboratorium. Kosong.

Alya mengembuskan napas pelan, lalu segera menutup freezer dan log inventaris, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tiba-tiba, pintu laboratorium terbuka.

Prof. Hendra masuk sambil membawa beberapa botol kecil berisi cairan, sebuah manuskrip tebal, dan tas tenteng. Ia tampak kesulitan membawa semua barang itu sekaligus.

"Pagi, Prof. Boleh saya bantu membawa sampelnya?" tanya Alya sambil menghampirinya.

Profesor itu justru terlihat terkejut. Botol-botol kecil di tangannya terjatuh ke lantai.

"Jangan disentuh!"

Teriakan itu membuat Alya membeku.

Prof. Hendra dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tenang. Ia hampir tidak pernah meninggikan suara, bahkan ketika menghadapi masalah besar.

Namun, saat profesor itu membungkuk untuk mengambil botol-botolnya, Alya sempat melihat wajahnya yang basah oleh keringat.

Prof. Hendra tampak gelisah.

Alya tidak ingin menambah masalah. Ia kembali ke tempat duduknya dan diam-diam mengamati gerak-gerik profesor itu dari balik ruangan kecilnya.

Profesor itu hanya datang untuk meletakkan barang, mengambil sebuah sampel, memeriksa sesuatu di komputer, lalu pergi.

Begitu profesor itu meninggalkan laboratorium, Alya kembali membuka log inventaris.

Daftar sampel masih menunjukkan jumlah yang sama. Lengkap. Namun, ada satu kolom yang kosong.

Nama sampel telah dihapus. Yang tersisa hanya satu instruksi:

DESTROY IMMEDIATELY.

Alya mendongak ke arah kamera pengawas di sudut ruangan. Lampu indikatornya berkedip, menandakan kamera itu masih menyala dan aktif. Artinya, semua yang baru saja terjadi terekam.

Ia kembali menatap log inventaris pada monitor. Jarinya menekan tombol Refresh tiga kali.

Tidak ada yang berubah. Kolom itu tetap kosong. Seolah-olah sampel tersebut memang tidak pernah ada sejak awal.

Should I Die or Quit Next Year?Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora