Bab 1. Hyper seks 🔞💦

107 1 0
                                        

***

Dinding apartemen griya tawang (penthouse) milik Max yang terletak di jantung Jakarta Selatan itu seolah meredam gemuruh klakson dan kesibukan kota metropolitan di bawah sana.

Di dalam ruangan bernuansa monokrom itu, waktu seakan berjalan lambat, digantikan oleh hawa panas yang menguar dari interaksi tiga manusia di dalamnya.

Malam itu dimulai dengan taruhan kecil di bar pribadi Max, namun atmosfer dengan cepat berubah ketika alkohol mulai membakar kesadaran dan memicu libido yang selama ini tertahan.

Suara kulit yang beradu ritmis memecah keheningan ruang tengah.

PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!

"Ouughhh.. Man, lo beneran diperawanin Max?"

Suara Reynand terdengar berat, napasnya memburu di dekat telinga Manda. Kedua tangannya yang kekar mencengkeram pinggul Manda dengan erat, menahan tubuh gadis berusia 21 tahun itu agar tetap dalam posisi menungging di atas sofa kulit.

Manda, dengan rambut panjangnya yang berantakan dan peluh yang membasahi leher jenjangnya, mendongak. Matanya sayu namun memancarkan binar binal yang tak terbantahkan.

"He'uh.. kenapa? Lo cemburu? Aahh.. yess!! Sodok gue yang kenceng, Rey.. aahhh!" jawab Manda terputus-putus.

Setiap dorongan pinggul Reynand membuat tubuhnya terhentak ke depan, namun ia justru semakin memundurkan pantatnya, menantang pangkal paha Reynand untuk menghantamnya lebih keras.

Reynand menggeram rendah, urat-urat di lehernya menegang. "Kalo iya kenapa? Aahh.. anjing! Memek lo enak banget, Man."

Kejutan mendalam melingkupi benak Reynand. Sebagai pria yang kerap bergonta-ganti pasangan di kampus, dia mengira Manda hanyalah salah satu cewek metropolitan yang biasa saja di ranjang.

Namun, jepitan dinding kelamin Manda terasa begitu erat, basah, dan seolah menyedot penisnya dengan rakus.

"Lo... suka gue?" tanya Manda lagi, mencoba memprovokasi di tengah desahannya.

Mendengar pertanyaan itu, Reynand tiba-tiba memperlambat temponya. Ia menarik penisnya hampir keluar, lalu menahannya di bibir gua yang sudah basah kuyup oleh cairan lubrikasi alami Manda, membiarkan kepala penisnya yang tebal hanya menggesek bagian sensitif di permukaan.

"Sshh.. aahhh.. kenapa lo pelanin?" protes Manda, tubuhnya menggeliat tidak puas karena kehilangan ritme yang meledak-ledak tadi.

Reynand terkekeh, suara seraknya terdengar begitu seksi di balik tengkuk Manda. "Iya, gue suka sama lo. Tapi lo ceweknya Max. Gak mungkin gue rebut lo dari dia."

Manda tertawa kecil, sebuah tawa yang meremehkan namun penuh gairah. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Reynand dengan tatapan mengejek. "Tapi lo liat kontol lo di mana sekarang? Di memek gue.. aahhh... Apa bedanya, Rey?"

Reynand tidak bisa membantah fisik yang sedang menyatu itu. Namun, egonya sebagai teman Max membuatnya melirik ke sudut ruangan. "Gue bisa ngentot sama lo atas ajakan dia."

Di sudut ruangan, duduk di atas kursi malas dengan segelas wiski di tangan, Max memperhatikan mereka. Pemuda berusia 22 tahun itu tampak tenang, namun tatapan matanya tajam dan gelap, mengunci setiap pergerakan tubuh Manda dan Reynand yang sedang menyatu.

Manda mendengus pelan, menepis anggapan Reynand. "Max bukan cowok gue. Kita cuma sex partner. Gue cewek hyper. Cuma dia yang bisa bantu muasin gue tiap kali gue ngerasa gak cukup pake dildo... dan Max juga hyper. Ya kan, Max?" Manda menaikkan volume suaranya, sengaja memanggil pria yang memegang status sebagai "pemilik pertama" tubuhnya itu.

ONE-SHOOT : SEKS 🔞Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang