Bab 1 [Sebuah janji]

16 4 2
                                        

Raka terdiam cukup lama. Tatapannya terpaku pada sosok Naya yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Gadis kecil itu tampak begitu tenang dari luar, tetapi kedua matanya menyimpan kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan.

Angin sore berembus perlahan, menyapu halaman dengan lembut dan menerbangkan beberapa helai rambut Naya yang jatuh di sekitar wajahnya. Di antara suara dedaunan yang bergesekan, suasana di tempat itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Naya perlahan memudar. Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuh, jemarinya sesekali bergerak gelisah seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang berat di dalam dada. Tatapannya sempat beralih ke tanah sebelum kembali terangkat kepada Raka. Ia ingin bertanya, tetapi entah mengapa tenggorokannya terasa tercekat.

Raka menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan sebelum ia mengembuskannya dengan berat. Sejak beberapa menit lalu, ada banyak kalimat yang berputar-putar di dalam kepalanya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ingin meyakinkan Naya bahwa perpisahan itu tidak akan berlangsung lama. Namun, semakin ia mencoba merangkai kata, semakin sulit pula suara itu keluar dari bibirnya.

"Naya..."

Panggilan itu terdengar lirih, hampir tenggelam oleh hembusan angin yang melewati pepohonan. Naya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam diam. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Cahaya matahari yang mulai meredup menyelusup di antara ranting-ranting pohon, jatuh membentuk bayangan samar di wajah keduanya.

"Kenapa?"

Suara Naya terdengar pelan. Ada nada ragu yang begitu jelas di dalamnya.

Raka hanya tersenyum tipis. Senyum yang tampak sederhana, tetapi menyimpan banyak hal yang tidak mampu ia ungkapkan. Ia kemudian melangkah mendekat beberapa langkah hingga jarak di antara mereka semakin menyempit. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana pendeknya, sementara pandangannya tetap tertuju kepada Naya.

"Aku bakal balik."

Kalimat sederhana itu akhirnya terucap.

Naya terdiam. Matanya berkedip beberapa kali, seolah mencoba memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. Delapan tahun? Sepuluh tahun? Ia tidak mengerti berapa lama Raka akan pergi. Yang ia tahu hanyalah satu hal-sahabat yang selama ini selalu berada di sampingnya sebentar lagi akan meninggalkannya.

"Benaran?"

Raka mengangguk.

"Benaran."

"Tapi kalau kamu lupa jalan pulang gimana?"

Raka terkekeh kecil. Untuk sesaat, ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka mencair.

"Mana mungkin aku lupa?"

"Kalau kamu berubah?"

Raka kembali terdiam.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu dalam. Ia menatap Naya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan.

"Aku mungkin berubah."

Naya menundukkan kepalanya.

"Tapi aku nggak akan lupa sama kamu."

Angin kembali berembus. Dedaunan di atas kepala mereka bergoyang perlahan, menghasilkan suara gemerisik yang memenuhi keheningan sore. Dari kejauhan terdengar suara burung yang mulai kembali ke sarangnya. Langit perlahan berubah warna, dari jingga keemasan menjadi semburat kemerahan sebelum akhirnya perlahan diselimuti warna kelabu.

Naya mengangkat tangannya.

Kelingking kecilnya terulur ke arah Raka.

"Janji?"

Raka menatap tangan itu beberapa saat. Kemudian, tanpa banyak berpikir, ia mengulurkan tangannya dan mengaitkan kelingkingnya dengan milik Naya.

"Janji."

Dua kelingking kecil itu saling bertaut di bawah cahaya matahari yang semakin redup. Tidak ada saksi. Tidak ada perjanjian tertulis. Tidak ada sesuatu yang istimewa selain dua anak kecil yang percaya bahwa sebuah janji sederhana mampu bertahan selamanya.

Namun, waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji sebuah janji.

Hari itu berlalu.

Matahari tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan langit dengan warna jingga yang perlahan menghilang. Raka akhirnya pergi meninggalkan tempat itu bersama keluarganya, sementara Naya masih berdiri di bawah pohon yang sama, memandangi kendaraan yang semakin lama semakin jauh hingga akhirnya lenyap di ujung jalan.

Ia tidak tahu bahwa perpisahan sore itu akan menjadi kenangan yang terus tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya.

Ia juga tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika wajah mereka telah berubah, suara mereka telah berbeda, dan kehidupan telah membawa mereka ke jalan masing-masing, sebuah takdir akan kembali mempertemukan keduanya.

Delapan belas tahun akan berlalu.

Delapan belas tahun yang dipenuhi jarak, perubahan, rahasia, kehilangan, dan kenangan yang tidak pernah benar-benar menghilang.

Dan ketika Raka akhirnya kembali...

Naya mungkin sudah bukan lagi gadis kecil yang berdiri di bawah pohon itu.

Namun satu hal tetap sama.

Janji mereka belum pernah benar-benar berakhir.

18 years later [End]Stories to obsess over. Discover now