CHAPTER 1 : REST AREA

21 3 0
                                        

Minggu malam, 16 Agustus 2021, perjalanan pulang dari Bandung menuju Tangerang terasa jauh lebih panjang daripada perjalanan mereka lima hari sebelumnya. Sejak meninggalkan penginapan di daerah Dago sekitar pukul tujuh malam, mobil sewaan yang mereka tumpangi lebih banyak dipenuhi suara mesin, lagu dari radio yang sesekali kehilangan sinyal, dan percakapan yang muncul lalu mati begitu saja karena semuanya mulai kelelahan. Hujan turun sejak mereka melewati Pasteur dan semakin deras ketika mobil memasuki ruas Tol Cipularang.

Cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan memantul di kaca yang basah, sementara udara di dalam mobil mulai pengap karena tidak ada satu pun yang mau membuka jendela.Somi duduk di kursi depan dengan hoodie abu-abu yang tudungnya menutupi sebagian rambut. Sejak setengah jam lalu, dia sibuk mengganti-ganti stasiun radio meskipun hampir semuanya berisi lagu yang sama.

Di sampingnya, Winter duduk sambil memeluk tas kecil di dada, sesekali melihat keluar jendela. Ryujin dan Yunjin berada di kursi belakang dengan beberapa kantong makanan di antara mereka. Ryujin sudah tidur dua kali selama perjalanan dan bangun hanya untuk makan, sementara Yunjin masih sibuk melihat hasil foto selama mereka di Bandung.

"Gue kapok," katanya tiba-tiba.

Winter yang sedang menyetir melirik sekilas. "Kapok apaan?"

"Liburan."

Winter mengernyit. "Kemarin siapa yang ngajak extend?"

Somi diam sebentar sebelum menjawab, "Gue."

"Nah."

Dari kursi belakang, Ryujin yang sejak tadi setengah tidur langsung tertawa. "Besok juga kalau ada yang ngajak staycation lagi, lo paling depan."

"Kalau tempatnya bagus, gue pikirin."

"Katanya kapok."

"Gue kapok sama kalian, bukan sama Bandung."
Yunjin yang duduk di sebelah Ryujin tertawa kecil sambil memeriksa foto-foto di kameranya.

"Padahal lima hari ini yang paling heboh siapa?"
Somi menoleh ke belakang. "Gue?"

"Lo."

"Fitnah."

"Video lo karaoke semalam masih ada ya!"

Somi langsung mengambil bantal leher dari samping kursinya dan melemparkannya ke belakang, tetapi Ryujin berhasil menangkapnya sambil tertawa. Percakapan seperti itu terus muncul sepanjang perjalanan, ringan dan tidak penting, persis seperti obrolan empat orang yang sudah terlalu lama bersama sampai tidak perlu mencari topik untuk tetap bicara. Mereka memang sengaja mengambil beberapa hari terakhir liburan semester untuk pergi bersama sebelum kembali ke rutinitas kampus. Tidak ada rencana besar selain makan, tidur, jalan-jalan, foto sebanyak mungkin, lalu pulang dengan uang yang lebih sedikit daripada saat berangkat.

Sekitar pukul sembilan malam mereka berhenti di Rest Area KM 72A karena bensin hampir habis dan Ryujin sudah mengeluh lapar sejak setengah jam sebelumnya. Hujan yang tadi hanya berupa gerimis berubah deras begitu mereka turun dari mobil. Mereka berempat berlari kecil menuju minimarket, lalu kembali sambil membawa kopi, makanan ringan, dan beberapa barang tambahan yang sebenarnya tidak ada dalam rencana.

Bagasi dibuka dalam keadaan terburu-buru. Kantong belanja dimasukkan di sela-sela koper, jaket dilempar begitu saja ke atas tas, lalu bagasi ditutup sebelum ada yang sempat memastikan semua barang memang milik mereka. Tidak ada yang menganggap hal itu penting.

Mereka hanya ingin cepat masuk mobil karena udara malam semakin dingin dan jalan menuju Tangerang masih panjang.
Lewat pukul sebelas malam, suasana di dalam mobil mulai sepi. Ryujin tertidur dengan kepala bersandar ke jendela, Yunjin mengedit foto menggunakan laptop kecil di pangkuannya, sementara Somi dan Winter sesekali membicarakan jadwal kuliah yang sudah menunggu mereka besok.

CHECKED OUT : The Last SuitcaseHistórias para pegar e não largar. Descubra agora