Prolog-Kotak Biru Tua

13 1 0
                                        

Prolog
-Kotak Biru Tua

"Emina, jangan lupa bereskan barang-barangmu, ya? Jangan sampai ada yang terlewat."

Wejangan mama terdengar dari balik pintu kamar. Saya menyahut dengan suara yang saya rasa cukup terdengar oleh beliau di dapur-kamar saya berada di dekat dapur, omong-omong. Lantas, begitu terdengar balasan berupa gumaman dan suara-suara blender kembali terdengar, saya kembali meringkuk di sudut ruangan sambil memilah-milah barang.

Kamar mini saya ini, akan segera kosong dalam tiga minggu kedepan. Hanya sementara, sebab saya memiliki keperluan untuk pergi ke Yogyakarta-ke rumah saudara. Bibi yang pernah merawat saya-adik mama-sedang sakit dan ingin bertemu saya, dan begitulah bagaimana saya akhirnya mengajukan diri secara sukarela untuk menemui beliau sembari menunggu jadwal masuk bekerja untuk bulan depan di Jakarta.

Oh, nama saya Saira Emina, omong-omong. Terkadang, Saira terdengar seperti nama toko seblak di kampung halaman saya, tapi artinya cukup bagus. Pun nama Emina cantik sekali walau mirip seperti merk kosmetik. Pernah dengar buku berjudul "Jakarta Sebelum Pagi" karya Ziggy? Tokoh utamanya juga bernama Emina! Dan saya berharap saya bertemu lelaki seperti Abel pula.

Baik, lupakan.

"Bibimu mungkin akan sedikit merepotkan. Jadi banyak-banyak sabar saja," celoteh Mama dari balik pintu untuk kesekian kalinya.

Saya sendiri hanya tertawa singkat menanggapi gerutuan Mama. Yah, cukup dimengerti, Bibi memang punya sikap sedikit cerewet, tapi beliau cukup baik sekali kepada saya, terlebih saat saya kuliah.

"Meski begitu, Bibilah yang membuat aku dan Mama bertemu, lho?" balasku yang saya yakini membuat Mama mendengus pelan sembari mengulas senyum tipis.

Informasi tambahan. Saya dan mama tidak memiliki hubungan darah. Tapi beliau sangat baik sehingga saya pun memanggil beliau dengan sebutan mama. Mama masih melajang dan saya masih punya orangtua utuh yang tinggal secara terpisah. Bertahun-tahun yang lalu saat saya merantau di Yogyakarta untuk kuliah, aku bertemu bibi dan beliau merawat saya, sebelum akhirnya saya diserahkan kepada mama untuk dirawat.

Cerita ini agak membingungkan. Akan saya ceritakan kapan-kapan.

"Keretamu jam berapa?" tanya Mama lagi yang terdengar sambil menggoreng sesuatu-barangkali ayam, mama suka ayam.

"Sekitar jam sembilan pagi," balasku singkat sembari sibuk memilah baju. "Oh, ya. Besok apakah mama bisa mengantarku? Atau aku pesan Gojek saja ke stasiun? Aku tidak masalah yang mana saja, sih."

Mama membuka pintu setelah beberapa saat tidak menjawab-karena sibuk menggoreng ayam. Begitu pintu terbuka, ia segera duduk di ranjang tidur yang masih berantakan dengan baju-baju yang sedang aku pilah. Mama-berusia lima puluh lima tahun-duduk agak melamun, lantas membelai pelan rambutku secara tiba-tiba. Saya agak terkejut sejenak, sebelum kembali dikejutkan dengan pelukan tiba-tiba.

"Besok mama antar. Jaga diri baik-baik ya, disana. Jika ada sesuatu yang terjadi, telepon mama. Mama menyayangi kamu."

Saya juga menyayangi mama.

Tersenyum, saya membalas pelukan mama dengan bonus tepukan menenangkan di punggung. Mama selalu baik dan emosional, itulah kenapa saya teramat mencintainya. Beliau sangat perhatian.

"Mama padahal bisa langsung menjenguk kami saja di Yogyakarta, lho? Toh aku hanya sebulan, akan aku yakinkan Bibi untuk tinggal bersama kita. Nanti rumah ini akan jadi ramai dengan perang saudara tiap hari, betapa senangnya, kan?"

Agak kurang ajar, mama menepuk pundak saya keras-keras hingga membuatku mengeluh, tapi beliau tertawa terbahak-bahak seolah kata-kataku lucu-aku memang melucu.

"Jadi, barang apa saja yang akan kamu bawa?"

Sedetik kemudian dari acara peluk-peluk kami, Mama sudah sibuk melihat barang-barang yang saya bawa. Mulutnya itu sudah kembali berkomentar, katanya membawa banyak barang tidak perlu, toh hanya sebulan dan masih banyak pula baju-bajuku yang ada di rumah Bibi-tapi itu baju empat tahun lalu, hei! Tentu saja saya perlu membawa baju baru yang sesuai zaman dan ukuran tubuh saya sekarang ini.

Lalu, entah ketidakberuntungan atau apalah itu. Tatapan mama malah fokus ke sebuah kotak yang terletak di samping koper. Itu kotak berukuran sedang berwarna biru tua lengkap dengan pita berwarna biru muda yang sudah agak usang.

Aduh.

Lekas setelahnya, mama melirikku jahil. Dia melenggang pergi sembari bersenandung riang setelah menepuk pundakku dua kali.

"Yogyakarta ke Semarang hanya tiga jam naik kereta, omong-omong."

Seolah-olah saya akan ke Semarang saja. Tapi, meski begitu, saya memilih untuk memasukkan benda itu ke dalam koper, menyelipkannya di antara baju-baju yang baru berusia tiga tahun-kotak itu menjadi yang paling tua, usianya enam tahun lebih.

Yah, siapa yang tahu kotak itu akan pergi ke orang yang dituju.

Sudah lebih dari tujuh tahun sudah berlalu tampaknya, sejak saya menyukai seseorang-dan orang itu tidak tahu.

Ini cerita yang agak menyedihkan, kalau kata Mama.

To be Continue.

21 Days To Confess Des histoires addictives. Découvrez maintenant