EPISODE 1: THE COLD BREEZE AND WARM SUNSHINE

352 22 2
                                        

Matahari pagi di kota Bangkok mulai menyengat kulit, membiaskan sinar keemasannya pada deretan pohon palem yang berbaris rapi di sepanjang jalan masuk International Senior High School Bangkok. Suara deru mesin mobil mewah, gelak tawa siswa, serta langkah kaki yang terburu-buru meramaikan suasana awal semester baru.

Di sudut gerbang utama, sebuah mobil sedan hitam berhenti mulus. Gavin Elijah melangkah keluar dari pintu penumpang. Cowok berdarah Amerika-Thailand itu membenarkan letak tali ransel hitamnya yang bertengger di salah satu bahu. Rambut cokelat gelapnya yang agak bergelombang bergerak perlahan tertiup angin pagi.

Gavin menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara pagi Bangkok memenuhi paru-parunya. "Bangkok is definitely hotter than LA," bisik Gavin pada dirinya sendiri seraya menyapu keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan.

Gavin berjalan menyusuri koridor utama dengan senyum ramah yang terkembang di bibirnya. Sifat dasarnya yang ceria, hangat, dan mudah bergaul membuatnya tak segan melemparkan anggukan sopan pada beberapa siswa yang berpapasan dengannya. Sambil melangkah, tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas denah sekolah yang diterimanya dari bagian administrasi kemarin.

"Lantai tiga... Gedung B... Ruang 304," gumam Gavin pelan. Matanya fokus menatap kertas di tangannya, hingga ia tidak menyadari ada sebuah langkah kaki lebar dan tegap yang berjalan dari arah persimpangan koridor.

BRUK!

Bahu Gavin berbenturan cukup keras dengan bahu seseorang. Kertas denah di tangannya terlepas dan melayang jatuh ke lantai marmer yang bersih.

"Ah, I'm so sorry! Aku enggak fokus jalan tadi," ujar Gavin panik. Ia langsung membungkuk untuk mengambil kertasnya yang tergeletak. Sambil memegang kertasnya, Gavin mendongak untuk melihat siapa yang baru saja disenggolnya.

Sosok di hadapannya adalah seorang cowok bertubuh tinggi tegap dengan seragam sekolah yang sangat rapi. Cowok itu memiliki raut wajah yang tajam, hidung mancung, dan manik mata berwarna cokelat gelap yang menatapnya tanpa ekspresi. Dingin, tak tersentuh, dan berwibawa.

Josh Alexander—kapten tim basket sekolah sekaligus murid paling berprestasi yang dikenal irit bicara—hanya menatap Gavin datar. Ia merapikan lipatan kemeja seragamnya yang sedikit terdorong akibat benturan tadi.

"Watch where you're going," ujar Josh dengan suara berat dan tenang, nyaris tanpa nada.

Gavin berdiri tegak, sedikit tertegun dengan aura dingin yang memancar dari cowok di depannya. Namun, keceriaan Gavin tidak mudah luntur begitu saja. Ia mengulas senyum manis, mencoba mencairkan suasana.

"I know, I know. My bad. Aku murid baru di sini, baru mau nyari kelas 11-A. By the way, aku Gavin. Gavin Elijah," ujar Gavin seraya mengulurkan tangan kanannya dengan penuh semangat.

Josh memandangi uluran tangan Gavin selama beberapa detik. Ia sama sekali tidak membalas uluran tangan itu, melainkan hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya.

"Gedung B ada di ujung koridor ini, naik tangga ke lantai tiga. Kelas 11-A ada di sebelah kanan," ujar Josh dingin tanpa mengindahkan ajakan berkenalan Gavin.

Sebelum Gavin sempat membalas atau mengucapkan terima kasih, Josh sudah melangkah pergi meninggalkannya begitu saja, melewatkan Gavin seolah cowok berparas manis itu hanyalah angin lalu.

Gavin menurunkan tangannya perlahan. Ia menoleh ke belakang, menatap punggung tegap Josh yang makin menjauh di lorong sekolah. Gavin mengerutkan bibirnya sedikit kesal namun juga penasaran.

"Wow, what a cold guy... Pagi-pagi udah cemberut aja," bisik Gavin seraya menggelengkan kepalanya pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas barunya.

Bound by Blue Skies | JGHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora