Saint lorrenzo sorien yang kelap di panggil saint sabiru oleh teman temannya, anak itu kini seolah sedang bertaruh nyawa untuk mendapatkan kasih sayang keluarganya. Hal yang tak pernah saint rasakan selama ia hidup, walau dari keluarga sambung. Sain...
Udara angin malam berhembus pelan dari arah balkon kamar, pemuda laki laki yang sedang melamun itu mendongak menatap langit hitam dengan bintang bintang yang indah
Surai hitam pekatnya berhembus pelan oleh udara malam, menari nari di udara seolah menikmati angin yang begitu dingin hingga menusuk kulit pemuda itu.
Dengan langkah berat, pemuda laki laki tersebut masuk kedalam kamarnya. Menutup pintu kaca itu rapat rapat lalu berdansar nyaman di kursi depan meja belajar.
Netranya menyapu setiap inci meja, hingga tepat manik mata coklat kehijauan itu menangkap benda pipih di ujung meja
Ponselnya bergetar, memperlihatkan isi dari grup chat milik keluarganya..
Ahh?? Mungkin iya..
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
𝑺𝒂𝒊𝒏𝒕 𝒍𝒐𝒓𝒓𝒆𝒏𝒛𝒐 𝒔𝒐𝒓𝒊𝒆𝒏.
Anak itu menghela nafas panjang, ia sudah biasa seperti ini. Saint perlahan mematikan ponselnya, menaruh benda pipih itu pada meja lalu mengusap wajahnya secara kasar.
'𝑮𝒂𝒑𝒂𝒑𝒂 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒊𝒌𝒖𝒕' batin saint
Selalu saja begitu.
Merasa dirinya adalah bayang bayang, bahkan debu yang mungkin harus di sapu di keluarga ini?
Saint melangkah berat ke arah ranjang nya, merebahkan diri di kasur empuk itu untuk memejamkan matanya rapat rapat. Disusul dengan suara derungan mobil di area garasi yang membuatnya gagal menuju alam mimpi.
Saint menoleh ke arah pintu kaca yang menuju balkon itu, kepalanya mendongak untuk melihat ke arah bawah seraya tubuhnya itu masih terbaring tak nyaman.
Ia hanya ingin melihat keluarganya.
Entah akan bertahan seberapa lama saint dengan usaha dalam benaknya ini, hanya saja jikalau ia terus terusan jatuh dari pijakan yang ia buat sendiri.