📢 Catatan Pembaca:
Potongan cerita ini adalah versi yang telah disesuaikan (PG-13/Safe Version) agar memenuhi aturan dan kebijakan platform.
Warning! Versi asli mengandung bahasa tegas, frontal, dan tanpa sensor.
Bab 1: Distraksi di Ruang Periksa
Aroma antiseptik yang tajam berpadu samar dengan wangi lavender dari diffuser di sudut meja kerja, menciptakan atmosfer yang berusaha menenangkan namun justru terasa intimidatif bagi sebagian orang.
Di balik meja kayu besar berpelitur gelap itu, dr. Reza hanya menampilkan senyum formal—sejenis keramahan standar yang biasa ia suguhkan untuk menyambut pasien baru agar mereka merasa aman.
Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya yang bangir, membingkai sepasang mata tajam yang diam-diam merekam setiap detail dari wanita yang baru saja melangkah masuk ke ruang praktiknya.
Sebagai dokter spesialis yang telah bertahun-tahun menangani ratusan pasien, ia tahu persis bagaimana cara membaca bahasa tubuh seorang wanita yang sedang cemas atau menyembunyikan sesuatu.
Rina berjalan agak lambat, satu tangannya refleks menopang pinggang bagian belakang untuk menahan beban tubuhnya yang kian berat.
Gaun hamil berwarna pastel yang ia kenakan melekat pas pada lekuk tubuhnya yang kini jauh lebih berisi semenjak memasuki trimester ketiga kehamilan.
Dada yang membusung penuh karena kelenjar susu yang mulai aktif, pinggul yang melebar, serta gurat lelah di wajahnya justru memancarkan daya tarik yang matang dan memikat bagi mata yang tahu cara menikmatinya Di belakangnya, Andi mengekor sambil mendekap map dokumen medis dengan raut cemas khas calon ayah baru yang belum berpengalaman dan selalu khawatir akan hal-hal kecil.
"Silakan duduk, Bu Rina, Pak Andi. Bagaimana perkembangannya di minggu ketiga puluh dua ini?" Suara dr. Reza terdengar berat, tenang, dan memiliki intonasi berwibawa yang menghanyutkan.
Ia memposisikan jemarinya saling bertautan di atas meja, menatap pasangan suami istri itu bergantian dengan tatapan profesional yang tak cela.
"Sering merasa gerah, Dok. Jantungnya juga kadang berdebar cepat kalau malam, jadi tidurnya agak terganggu," keluh Andi, membuka percakapan dan mewakili istrinya yang mendadak kelu, hanya bisa tersenyum kaku di sampingnya.
Andi meletakkan map rekam medis di atas meja dengan hati-hati, seolah benda itu adalah barang pecah belah.
Pandangan dokter beralih, kini sepenuhnya mengunci sepasang mata Rina yang langsung membuang muka ke arah deretan poster anatomi kehamilan di dinding.
"Hormon kehamilan memang sering membuat volume darah meningkat drastis, Pak Andi. Hal itu otomatis memicu sensitivitas tubuh yang jauh lebih tinggi dari biasanya, termasuk perubahan suhu tubuh dan fluktuasi emosi yang tidak menentu. Kulit menjadi lebih peka, dan respons saraf terhadap sentuhan pun meningkat. Mari kita periksa ke ranjang dulu untuk melihat posisi bayinya secara langsung."
Di atas tempat tidur periksa yang dilapisi kertas sekali pakai yang berderit setiap kali ada pergerakan, sekat tirai hijau memisahkan ruang pandang antara meja kerja dan area pemeriksaan fisik.
Suster Maya sempat membantu merapikan pakaian Rina, menaikkan bagian bawah gaun itu hingga ke batas perut bagian atas. Sebelum dr. Reza melangkah masuk ke balik tirai, ia menatap perawatnya dan memberikan isyarat pelan dengan nada suara yang tak terbantahkan.
"Suster Maya, tolong ambilkan gel tambahan dan berkas pemeriksaan luar di ruang arsip sebelah. Saya perlu memeriksa posisi fundus secara manual tanpa ada gangguan suara atau aktivitas lain agar hasilnya lebih akurat."
YOU ARE READING
Dokter Kandunganku, Canduku
RomanceHai ini Plaisirnoir30 Sinopsis Andi terlalu takut menyentuh Rina karena kandungannya yang sudah tua. Namun, dr. Reza justru melihat celah itu untuk mengambil kendali penuh. Berawal dari pemeriksaan rutin yang mendebarkan, Rina terjerat dalam sesi...
