Pagi di Keluarga Namikaze
Matahari musim semi baru saja menyinari kota Tokyo ketika sebuah rumah megah bergaya modern berdiri tenang di kawasan elite yang dipenuhi pepohonan sakura. Bangunan tiga lantai dengan dinding putih bersih dan jendela kaca tinggi itu memancarkan kemewahan tanpa terlihat berlebihan. Di halaman depannya, sebuah taman yang terawat rapi dihiasi kolam kecil dan jalan setapak dari batu alam. Beberapa mobil mewah berjejer di garasi, menjadi pemandangan yang sudah biasa bagi keluarga Namikaze.
Di dalam rumah, aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan.
"Narutooo!"
Suara seorang wanita menggema hingga ke lantai dua.
"Kau akan terlambat lagi!"
Tak ada jawaban.
Wanita berambut merah panjang itu menghela napas sambil tersenyum tipis.
"Minato, lihat anakmu itu."
Pria berambut pirang yang sedang membaca koran hanya tertawa pelan.
"Masih lima menit."
"Lima menit? Kau selalu membelanya."
"Itu karena dia selalu berhasil datang sebelum bel sekolah berbunyi."
Kushina mendengus kecil.
"Masalahnya bukan terlambat! Masalahnya dia selalu membuat seluruh rumah menunggunya."
Belum sempat Minato menjawab, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari tangga.
"Pagiiiii!"
Seorang remaja berambut pirang turun dengan seragam SMA yang tampak sedikit berantakan. Dasi sekolahnya masih longgar, kemeja putihnya belum benar-benar rapi, almamater masih dia pegang, sementara tas sekolah sudah menggantung di satu bahu.
Uzumaki Naruto.
Siswa kelas 3-A yang namanya hampir dikenal seluruh sekolah bukan karena kenakalannya saja, tetapi juga karena prestasi akademiknya yang membuat banyak guru menggelengkan kepala.
"Aku lapar!" katanya sambil langsung duduk.
Kushina menatap putranya dengan kedua tangan di pinggang.
"Kau bahkan belum menyisir rambutmu."
Naruto mengusap rambut pirangnya asal.
"Nah, sekarang sudah."
"Itu bukan menyisir."
Minato menahan tawa.
Naruto mulai menyantap sarapan dengan lahap.
"Itadakimasu!"
Dalam hitungan menit, roti, telur, sosis, salad, dan segelas susu hampir habis.
Kushina memperhatikannya dengan wajah penuh kasih.
"Pelan-pelan makannya."
"Kalau pelan nanti keburu telat."
"Kau sendiri yang bangun kesiangan."
Naruto hanya terkekeh.
Di ujung meja, seorang pria tua berambut putih memasuki ruang makan sambil membawa secangkir kopi.
"Pagi semuanya."
"Selamat pagi, Ayah," sapa Minato.
Namikaze Jiraiya, mantan akademisi yang kini menjadi salah satu menteri paling dihormati di Jepang, tersenyum melihat cucunya.
"Hari pertama semester baru kelas tiga, ya?"
Naruto mengangguk.
"Semoga Guru mu masih kuat menghadapi kalian."
VOUS LISEZ
Under the Same Sky
RomanceDi bawah langit yang sama, dua hati tumbuh dalam waktu yang berbeda dan dipertemukan oleh kebetulan, dipisahkan oleh keraguan, lalu kembali dipanggil oleh takdir. Di antara riuhnya hari-hari yang berlalu, tawa perlahan berubah menjadi rindu, dan ta...
