Ada orang-orang yang dipertemukan hanya untuk saling mengenal.
Ada yang dipertemukan untuk saling menguatkan.
Ada pula yang hadir hanya sebagai pelajaran, agar kita mengerti bahwa tidak semua yang kita cintai memang ditakdirkan untuk tinggal.
Namun, ada satu pertemuan yang sudah Allah tuliskan jauh sebelum dua hati itu saling mengenal. Pertemuan yang datang bukan karena kebetulan, melainkan karena waktu yang telah Dia pilih dengan begitu sempurna.
Tidak lebih cepat.
Tidak lebih lambat.
Tepat ketika dua manusia selesai berdamai dengan dirinya sendiri.
Aleeya Yasmin pernah percaya bahwa cinta mampu menyembuhkan segala luka.
Empat tahun hidupnya ia habiskan bersama seseorang yang ia kira akan menjadi teman sampai akhir hayat. Bersamanya, Aleeya belajar mencintai tanpa ragu, mempercayai tanpa syarat, bahkan menyerahkan sebagian dari dirinya kepada laki-laki yang ia yakini sebagai masa depan.
Sayangnya, keyakinan tidak selalu berjalan searah dengan takdir.
Hubungan yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun runtuh begitu saja. Pengkhianatan datang tanpa suara, meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi cukup dalam untuk mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Sejak hari itu, Aleeya tidak lagi memohon agar dipertemukan dengan jodoh.
Dalam setiap sujudnya, ia hanya meminta satu hal.
"Ya Allah... sembuhkan aku."
Karena baginya, hati yang masih berdarah tidak pantas menerima cinta yang baru.
Di belahan kota yang lain, seorang laki-laki juga sedang belajar menerima kenyataan.
Namanya Yovandra Panji Darmawan.
Semua orang mengenalnya sebagai Panji.
Ia tumbuh menjadi laki-laki yang terlihat tenang, tegas, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa di balik sikap dewasanya, ada masa lalu yang terus ia sesali.
Panji pernah memilih jalan hidup yang salah.
Pergaulan yang buruk, minuman keras, hubungan yang melampaui batas, hingga keputusan-keputusan yang membuatnya jauh dari Allah.
Ia tidak bangga dengan semua itu.
Justru setiap kali mengingatnya, yang muncul hanyalah penyesalan.
Hingga suatu hari, hidup kembali mengujinya.
Perempuan yang hendak ia nikahi memilih pergi bersama laki-laki lain.
Cincin yang telah dipersiapkan tidak pernah berpindah ke jari siapa pun.
Mimpi yang sudah disusun rapi hancur dalam satu malam.
Malam itu, Panji tidak menangis karena kehilangan perempuan yang dicintainya.
Ia menangis karena merasa Allah sedang menunjukkan betapa rapuhnya hidup yang selama ini ia bangun tanpa benar-benar menggantungkan hati kepada-Nya.
Sejak saat itu, ia mulai pulang.
Pelan-pelan.
Belajar memperbaiki salatnya.
Belajar menjaga pandangannya.
Belajar menerima bahwa taubat bukan tentang melupakan masa lalu, melainkan tentang tidak kembali mengulanginya.
Mereka tidak saling mengenal.
Tidak pernah bertukar sapa.
Bahkan nama satu sama lain pun belum pernah terdengar.
Namun tanpa mereka sadari, kehidupan sedang membawa keduanya menuju satu titik yang sama.
Sebuah aula kampus.
Sebuah acara Hari Besar Islam.
Sebuah pertemuan yang tampak biasa di mata manusia.
Tetapi telah lama dituliskan di langit.
Tidak ada yang tahu bahwa satu tatapan singkat akan mengubah banyak hal.
Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan dipenuhi bunga-bunga yang selalu mekar.
Akan ada air mata.
Akan ada ego yang harus ditundukkan.
Akan ada masa lalu yang datang mengetuk kembali.
Akan ada perpisahan yang terasa seperti akhir.
Namun, justru di sanalah mereka akan belajar bahwa cinta tidak pernah cukup jika hanya berlandaskan rasa.
Cinta membutuhkan iman.
Kesabaran.
Keikhlasan.
Dan keberanian untuk memperbaiki diri.
Karena terkadang Allah memisahkan dua orang yang saling mencintai bukan untuk mengakhiri kisah mereka.
Melainkan agar ketika dipertemukan kembali, mereka sudah menjadi versi terbaik yang mampu saling menggenggam tanpa saling melukai.
Inilah kisah tentang dua manusia yang sama-sama pernah jatuh.
Sama-sama pernah salah.
Sama-sama pernah kehilangan arah.
Hingga akhirnya mereka menyadari...
Bahwa setiap luka yang mereka lewati bukanlah akhir dari perjalanan.
Melainkan jalan panjang yang membawa keduanya menuju satu tujuan yang sama.
Berakhir...
di kamu.
ESTÁS LEYENDO
HARAPKU BERAKHIR DI KAMU
RomanceBagaimana jika Allah mempertemukan dua hati yang sama-sama belum siap untuk saling mencintai? Aleeya Yasmin tak pernah mencari cinta di bangku perkuliahan. Begitu pula dengan Yovandra Panji Darmawan, laki-laki yang tenang, hemat bicara, dan selalu m...
