Ruang perjamuan malam itu dibalut oleh kemewahan yang sunyi, dihiasi lantunan musik klasik yang terdengar samar di antara denting gelas porselen. Di sudut meja keluarga besar, Jihoon duduk dengan postur tubuh yang tegap, mengenakan setelan jas hitam elegan yang membingkai bahu lebarnya secara sempurna. Matanya yang tajam dan pekat menatap lurus ke arah sosok di hadapannya-seorang pemuda berpakaian kemeja putih bersetrika rapi yang sejak tadi terus menundukkan kepala.
Kyungmin mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, merasakan bagaimana rasa canggung yang teramat berat merayap di udara. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kali mereka saling menatap wajah satu sama lain secara langsung, dan waktu rupanya telah mengubah anak laki-laki yang dulu selalu tertawa bersamanya menjadi pria dewasa yang tampak begitu asing dan tak tersentuh. Namun, ketika Kyungmin memberanikan diri mengangkat pandangannya, seutas garis tipis berwarna merah menyala mendadak berpendar samar di antara kelingking mereka.
Benang takdir itu masih terikat rapat di sana, menghubungkan jemari mereka berdua di balik kemegahan ruang makan privat tersebut. Hanya saja, berbedanya dari masa kecil mereka yang penuh kepolosan, pendaran merah itu kini bergetar tidak tenang, seolah memancarkan ketegangan mendalam yang tak kasat mata. Jihoon menyadarkan posisinya, mengamati bagaimana jemari lentur Kyungmin bergetar halus saat mencoba menyembunyikan benang misterius itu di bawah taplak meja.
"Kamu tidak banyak berubah, Kyungmin," ucap Jihoon dengan suara berat yang terdengar sangat tenang namun dipenuhi penekanan yang tegas. Intonasinya tidak lagi seperti nada bicara kakak kelas yang hangat saat mereka masih berkejaran di halaman rumah dulu, melainkan suara seorang pria dewasa yang penuh kendali. "Kamu masih selalu memiliki kebiasaan meremas jemarimu sendiri setiap kali merasa tertekan atau gelisah."
Kyungmin tersentak pelan, merasakan kehangatan yang mendadak menyeruak di sekitar area dadanya akibat teguran tersebut. Ia memberanikan diri menatap mata Jihoon yang dalam, mencari sisa-sisa kehangatan masa lalu di balik tatapan dingin pria di depannya. "Waktu berjalan sangat cepat, Hyung," bisik Kyungmin lirik dengan bahasa yang teratur dan formal. "Banyak hal yang telah berubah di antara kita, termasuk bagaimana kita memandang keputusan orang tua malam ini."
Pernikahan yang dijadwalkan bulan depan bukanlah sesuatu yang pernah terlintas dalam benak mereka ketika masih bermain bersama belasan tahun silam. Bagi kedua keluarga terpandang ini, aliansi tersebut adalah langkah bisnis paling rasional untuk menyatukan dua dinasti perusahaan besar. Namun bagi Jihoon dan Kyungmin, keputusan tersebut adalah sebuah jurang dalam yang memaksa mereka melompati kenangan masa lalu untuk menghadapi kenyataan baru yang serba canggung.
Jihoon menyesap minumannya secara perlahan, lalu meletakkan cangkir kristalnya ke atas meja tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Matanya mengunci binar mata Kyungmin yang tampak berkaca-kaca di bawah pendar lampu gantung kristal. "Keputusan ini mungkin terasa mendadak bagimu, tapi bagiku ini adalah janji yang harus diselesaikan," ujar Jihoon datar. "Aku tidak peduli seberapa jauh jarak yang pernah memisahkan kita, ikatan ini tidak pernah benar-benar terputus."
Kata-kata Jihoon terngiang seperti gema yang berputar di kepala Kyungmin, menimbulkan rasa sesak yang luarbiasa di dalam dadanya. Ia tahu pasti bahwa Jihoon yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sosok yang sangat bertanggung jawab, namun ia takut jika pernikahan ini hanya akan menjadi sangkar emas yang menyiksa mereka berdua. Rasa canggung akibat terpisah sekian lama membuat jarak beberapa sentimeter di antara mereka terasa bagaikan ratusan kilometer yang tak bertepi.
"Bagaimana jika kita hanya memaksakan sesuatu yang sudah mati, Hyung?" tanya Kyungmin pelan, menyuarakan ketakutan terbesarnya yang selama ini terpendam rapat. "Benang ini mungkin masih ada di jemari kita, tapi perasaan anak-anak yang dulu memegangnya mungkin sudah lama menguap seiring berjalannya waktu." Otaknya terus memutar kembali bayangan masa lalu ketika mereka berjanji untuk selalu bersama, sebuah janji polos yang kini terasa sangat berat untuk dipikul.
ESTÁS LEYENDO
Before Our Theard Breaks || Haepkyung
Ficción GeneralBefore Our Thread Breaks - Hoonkaeng Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita karena sebuah kebetulan. Ada pula yang sejak awal seolah telah ditulis untuk saling menemukan. Sejak kecil, Jihoon dan Kyungmin telah tumbuh berdampingan. Dua anak dari...
