bab 1

1 0 0
                                        

Bab 1

Titik Jenuh

"Kau... tidak ingin berhenti saja?"

Suara Andrea terdengar pelan, hampir tenggelam oleh embusan angin malam yang berembus di belakang gudang.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Mata yang biasanya hangat kini dipenuhi kelelahan.

"Jujur... aku lelah."

Kalimat itu menggantung di udara.

Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti. Tak ada suara selain dengung mesin pabrik yang mulai dimatikan satu per satu dan gesekan dedaunan yang diterpa angin.

Arham membeku.

Tatapannya berubah bingung. Dahinya berkerut, seolah tidak percaya kalimat itu keluar dari bibir perempuan yang selama ini selalu memilih bertahan daripada menyerah.

Dengan langkah perlahan ia mendekat.

"Andrea..."

Suara itu lirih.

"Apa maksudmu mengatakan itu?"

Andrea menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak.

Sudah berkali-kali ia mencoba mengabaikan rasa curiga itu.

Sudah berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa semua yang ia lihat hanyalah kesalahpahaman.

Namun malam ini...

Ia tak sanggup lagi berpura-pura.

Andrea mengembuskan napas panjang, lalu melepaskan tautan kedua tangannya. Dengan gerakan yang gemetar ia mengambil ponsel dari saku celananya.

Jarinya beberapa kali salah menekan layar karena terlalu gugup.

Sampai akhirnya sebuah foto muncul.

Tanpa sepatah kata, ia mengangkat layar ponsel itu ke hadapan Arham.

Sorot mata Arham langsung berubah.

Wajahnya yang semula tenang mendadak kehilangan warna.

Pucat.

Tatapan matanya membesar, sementara bibirnya sedikit terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.

Andrea tersenyum tipis.

Senyum yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.

"Apa perlu kau menjelaskan ini?"

Suara Andrea bergetar.

"Atau... kau masih ingin mengatakan kalau aku salah paham?"

Arham menatap foto itu tanpa berkedip.

Di dalam foto tersebut, dirinya sedang mencium seorang pria dengan begitu mesra.

Tak ada sudut yang bisa disalahartikan.

Tak ada alasan yang dapat mengubah makna gambar itu.

Andrea menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang sejak tadi menggenang.

"Katamu dia hanya saudaramu."

Ia tertawa lirih.

Tawa yang lebih terdengar seperti tangisan.

"Memangnya... ada saudara laki-laki yang saling berciuman seperti itu?"

Napas Andrea mulai memburu.

"Atau selama ini semua kata cinta yang kau ucapkan kepadaku hanyalah kebohongan?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 06 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

before i choose you Stories to obsess over. Discover now