Prolog

2.7K 95 2
                                        

Lima puluh tahun yang lalu...

Di kaki Gunung Kawi, berdirilah sebuah desa kecil bernama Wonosari. Desa itu tidak sebesar desa-desa lain yang berada di pusat kecamatan. Jalan-jalannya masih berupa tanah merah yang akan berubah licin ketika hujan turun dan berdebu saat kemarau datang. Di kiri-kanan jalan, hamparan sawah membentang sejauh mata memandang, dihiasi petak-petak padi yang bergoyang mengikuti embusan angin. Aroma tanah basah, jerami yang baru dipanen, dan kayu bakar dari dapur rumah-rumah penduduk selalu menjadi penanda kehidupan di sana.

Masyarakat Wonosari hidup sederhana. Mereka menggantungkan hidup pada sawah, kebun kopi, dan peternakan sapi. Ketika fajar mulai menyingsing, suara kokok ayam akan bersahutan dengan azan Subuh dari langgar kecil di tengah desa. Setelah itu, para lelaki memanggul cangkul menuju sawah, sementara para perempuan menyiapkan bekal dan berkumpul di dapur untuk membuat jenang, getuk, atau apem yang nantinya dijual di Pasar Legi.

Namun, yang membuat Wonosari berbeda bukanlah hasil panennya. Melainkan adat yang diwariskan turun-temurun. Warga percaya bahwa desa mereka berdiri berkat persatuan dua keluarga besar yang dahulu membuka hutan belantara menjadi tempat tinggal. Kedua keluarga itu dipimpin oleh dua sahabat karib, Ki Jayengrana dan Ki Suryanata. Mereka bukan saudara sedarah, tetapi hubungan mereka lebih erat daripada saudara kandung. Bersama-sama mereka menebang pohon, membuat saluran irigasi, membangun lumbung padi, hingga mendirikan pendapa tempat warga bermusyawarah.

Tidak ada keputusan besar yang diambil tanpa melibatkan keduanya. Bagi warga, Ki Jayengrana adalah sosok yang bijaksana. Ia pandai bertani dan dikenal mampu membaca pertanda alam. Sementara Ki Suryanata adalah orang yang pemberani. Dialah yang pertama kali membuka hutan dan mengusir binatang buas yang mengancam warga. Persahabatan mereka menjadi dasar lahirnya Desa Wonosari.

---

Suatu sore selepas panen raya, ketika langit mulai berwarna jingga, kedua sahabat itu berjalan menuju sebuah pohon beringin tua yang tumbuh di tepi sungai.

Pohon itu sudah ada jauh sebelum desa berdiri. Akarnya menjalar besar hingga menyentuh tepian air. Ranting-rantingnya menaungi siapa saja yang berteduh di bawahnya. Warga percaya pohon itu dijaga oleh leluhur desa sehingga tak seorang pun berani menebangnya.

Di sanalah keduanya duduk. Angin sore berembus pelan, membawa harum dedaunan dan suara gemericik sungai yang mengalir tenang.

Ki Jayengrana memandang hamparan sawah yang baru saja dipanen. Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Sopo seng nyongko, alas seng biyen angker saiki dadi panggonan urip gawe wong akeh." (Siapa sangka, hutan yang dulu begitu angker kini menjadi tempat hidup bagi banyak orang) Ujarnya pelan.

Ki Suryanata terkekeh.

"Awak dewe wes tuwa." (kita sudah tua)

"Iyoo.... ora suwe maneh mesthi onok wektune awak dewe ninggal dunya iki." (iya, tidak lama lagi akan ada saatnya kita meninggalkan dunia ini)

Kalimat itu membuat suasana menjadi hening. Mereka sama-sama tahu, umur manusia tidak ada yang abadi. Namun, mereka juga tidak ingin persaudaraan yang telah dibangun dengan susah payah ikut hilang bersama waktu.

Ki Jayengrana mengambil segenggam tanah, lalu menggenggamnya erat.

"Aku nduweni panyuwunan siji." (Aku punya satu permintaan)

"Opo?"

"Ojo nganthi anak putu awak dewe podo mungsuhan." (Jangan sampai keturunan kita bermusuhan)

Ki Suryanata menoleh.

"Maksudmu?"

"Yen mengko anak putu awak dewe lair lan pancen wis ditakdirke saling nggenepi, satukno. Ben tali paseduluran iki ora tau pedhot." (Kalau nanti anak cucu kita lahir dan memang ditakdirkan saling melengkapi, satukan mereka. Biar ikatan persaudaraan ini tidak pernah putus)

Ki Suryanata terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangguk pelan.

"Iyo, ben anak putu ora lali karo asal usul e." (Iya, supaya anak cucu nanti tidak lupa asal usulnya.)

"Ben desa iki tetep wutuh." Supaya desa ini tetap utuh)

Tanpa banyak kata, keduanya berdiri. Mereka meletakkan telapak tangan di batang pohon beringin yang besar. Dengan suara lirih namun penuh keyakinan, mereka mengucapkan sumpah. Sejak saat itu, pohon beringin tersebut menjadi saksi sebuah janji.

---

Tahun-tahun berlalu.

Ki Jayengrana dan Ki Suryanata telah lama kembali kepada Sang Pencipta. Namun, nama mereka tetap hidup dalam cerita yang dituturkan para orang tua kepada anak-anak mereka setiap malam.

Janji di bawah beringin tidak pernah dilupakan. Ia diwariskan kepada setiap kepala keluarga. Kepada setiap sesepuh desa. Kepada setiap generasi yang lahir di Wonosari.

Lambat laun, janji itu berubah menjadi adat. Tak ada seorang pun yang berani melanggarnya. Bahkan ketika zaman berubah. Listrik mulai masuk ke desa, jalan aspal mulai menggantikan jalan tanah, telepon genggam mulai dimiliki anak-anak muda. Adat itu tetap bertahan.

Setiap tahun, ketika Sedekah Bumi digelar, kepala adat akan berdiri di bawah pohon beringin dan mengulang kembali kisah dua pendiri desa. Warga mendengarkannya dengan khidmat, seolah cerita itu baru pertama kali mereka dengar.

Mereka percaya, selama janji itu dijaga, sawah akan tetap subur, sungai tidak akan kering, dan desa akan selalu diberkahi.

Tak seorang pun pernah mencoba membuktikan apakah kepercayaan itu benar.

Karena bagi mereka...

menghormati leluhur jauh lebih penting daripada mempertanyakan alasan.

---

Namun, takdir memiliki caranya sendiri. Lima puluh tahun setelah sumpah itu diucapkan, dua bayi lahir hanya dengan selisih beberapa bulan.

Yang pertama lahir dari keluarga kepala adat. Seorang bayi laki-laki yang terlihat cantik dengan tangisan pelan dan mata sebening embun pagi. Ia diberi nama Byakta Abinaya. Nama yang berarti sosok yang nyata, jujur, dan penuh keberanian.

Beberapa bulan kemudian, di rumah sederhana yang tak jauh dari pohon beringin, lahirlah seorang bayi laki laki yang sangat tampan. Tangisnya nyaring, menggema hingga halaman rumah. Ia diberi nama Dewananda prasetya. Nama yang berarti sosok yang setia, jujur, dan bertanggung jawab.

Tak ada yang menyadari. Kelahiran mereka bukan sekadar kebetulan. Para sesepuh desa saling berpandangan ketika mengetahui dua bayi laki-laki lahir dari dua garis keturunan pendiri desa.

Mereka hanya tersenyum. Lalu menatap pohon beringin yang bergoyang perlahan diterpa angin. Seolah-olah pohon tua itu mengetahui sesuatu yang belum saatnya diungkapkan.

Sejak hari itu, nama Dewananda Abizar dan Byakta Abinaya dicatat dalam kitab silsilah desa yang hanya boleh dibuka oleh kepala adat.

Sebuah catatan sederhana. Namun kelak, akan mengubah hidup keduanya untuk selamanya. Sebab mereka belum mengetahui bahwa sejak hari pertama membuka mata ke dunia, takdir telah lebih dulu memilih jalan yang harus mereka lalui.

Dan di bawah rindangnya pohon beringin tua itu, sebuah janji yang telah tertidur selama setengah abad perlahan mulai terbangun, menunggu saat yang tepat untuk menagih sumpah yang pernah diucapkan para leluhur.

Karena terkadang, yang paling sulit untuk dilawan bukanlah takdir, melainkan hati yang perlahan belajar mencintai seseorang yang sejak awal tidak pernah dipilihnya.














haii haii haiii
aku kembali dengan cerita pedesaan
jika kalian suka dengan ceritaku jangan lupa vote dan komennya yaa!!!
thank uuu

JANJI LELUHURStories to obsess over. Discover now