BAB 1 : JAM DUA PAGI

141 38 6
                                        


Aroma kopi instan dan pembersih lantai beraroma lemon selalu menjadi bau khas yang menyambut Carrel setiap kali dia memulai shift malamnya. Jarum jam di atas meja kasir menunjukkan pukul 02.15 pagi. Suasana minimarket sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin minuman dan lagu pop lawas yang diputar pelan dari speaker langit-langit.

Carrel menyandarkan tubuhnya di balik meja kasir. Kelopak matanya terasa seberat beton. Matanya yang memerah menatap kosong ke arah jalanan di luar kaca besar minimarket yang basah karena sisa hujan. Pikirannya melayang ke ruang rawat kelas tiga di rumah sakit seberang jalan, tempat ibunya terbaring. Otaknya sibuk menghitung sisa upah minggu ini yang harus segera dia setorkan ke bagian administrasi esok siang.

Bagi Carrel, sekolah di pagi hari hanyalah formalitas agar dia tidak dikeluarkan. Tempat tidur paling aman baginya adalah meja kayu di barisan paling belakang kelas, tersembunyi di balik punggung murid-murid ambisius yang sibuk mencatat. Dia tidak peduli dicap pemalas atau tidak punya masa depan oleh guru BK. Mereka tidak tahu rasanya harus berdiri tegak selama delapan jam setelah seharian penuh terjaga.

Kring.

Bel di atas pintu kaca berdenting, memecah kesunyian malam. Carrel bahkan tidak repot-repot menegakkan badannya. Tanpa menoleh, dia mengucapkan kalimat sambutan formalnya dengan nada malas yang datar. "Selamat datang di IndoApril, selamat berbelanja."

Langkah kaki sang pengunjung terdengar ragu-ragu. Carrel akhirnya melirik dari balik poni rambutnya yang agak panjang dan berantakan. Dahinya berkerut sedikit.

Seorang perempuan dengan jaket kebesaran berdiri di depan rak rotan, menunduk dalam-dalam. Rambutnya yang dikuncir kuda tampak sedikit acak-acakkan. Carrel mengenali siluet itu. Itu Yuha, siswi nomor satu di angkatannya. Perempuan yang siang tadi baru saja menerima penghargaan di lapangan sekolah atas nilai ujian sempurnanya.

Namun, Yuha yang berdiri di depannya saat ini sama sekali tidak terlihat seperti juara kelas. Bahunya gemetar hebat. Dan ketika Yuha perlahan mengangkat wajahnya untuk mengambil sebotol air mineral, Carrel bisa melihat dengan jelas mata perempuan itu yang sembap dan basah oleh air mata. Yuha sedang menangis, sendirian, di jam dua pagi.

Yuha berjalan ke meja kasir dengan kepala menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang kacau. Dia meletakkan sebotol air mineral di atas meja dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Carrel tidak langsung memindai kode batang botol tersebut. Dia hanya menatap benda itu, lalu beralih menatap Yuha yang terus menghindari kontak mata dengannya.

"Dua ribu lima ratus," ucap Carrel pendek, suaranya serak khas orang yang kurang tidur.

Yuha meraba saku jaketnya, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu yang lecek, lalu meletakkannya di meja tanpa bersuara.

Carrel mengambil uang itu, membuka laci kasir, lalu alih-alih memberikan uang kembalian, dia justru berbalik badan. Dia mengambil sebuah kotak susu cokelat dari dalam penghangat minuman di belakangnya, lalu meletakkannya di samping botol air mineral Yuha.

"Gue nggak beli ini," bisik Yuha, suaranya serak dan pecah.

"Kembalian lo," sahut Carrel santai, kembali menyandarkan sikunya di meja kasir sambil menopang dagu. "Susu hangat bagus buat orang yang habis nangis semalaman. Biar matanya nggak bengkak pas upacara besok."

Yuha tersentak. Dia mendongak, dan untuk pertama kalinya, matanya yang basah menatap langsung ke dalam manik mata hitam Carrel yang tampak mengantuk namun tenang. Yuha baru menyadari siapa cowok di balik seragam kasir ini. "Carrel? Lo... ngapain di sini?"

Carrel mendengus geli, sebuah senyum tipis-hampir tak terlihat-muncul di sudut bibirnya. "Menurut lo? Gue lagi jaga lilin? Ya kerja, Yuha."

Yuha menggigit bibir bawahnya, merasa bodoh karena melayangkan pertanyaan itu. Dia buru-buru menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan jaket, merasa malu karena kerapuhannya disaksikan oleh cowok yang paling sering tidur di kelasnya. "Jangan bilang siapa-siapa di sekolah kalau lo lihat gue begini."

Carrel mengambil pemindai kode batang, lalu memainkannya di jemarinya dengan gerakan bosan. Sifat bodo amatnya kembali terlihat. "Gue terlalu sibuk mikirin cara biar nggak ketahuan tidur di jam sejarah besok pagi, daripada harus ngurusin drama nangis lo. Jadi tenang aja."

Carrel menunjuk ke arah kursi plastik di sudut minimarket dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya.

"Duduk di sana kalau belum mau pulang," kata Carrel, nadanya datar tapi tidak ketus. "Menangis di sini gratis. Tapi kalau lo ngotorin lantai yang baru selesai gue pel pakai air mata lo, gue tagih sepuluh ribu."

Yuha terpaku memandangi kotak susu cokelat hangat di tangannya. Di tengah dunia yang selalu menuntutnya menjadi sempurna dan tanpa celah, malam ini, di sebuah minimarket yang sepi, seorang cowok yang dicap "tidak berguna" oleh sekolah justru menjadi satu-satunya orang yang memberinya ruang untuk menjadi lemah.

Di Luar RadarStories to obsess over. Discover now