We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bisikan dalam Kesunyian

4 0 0
                                        

Di sebuah sudut pemukiman kumuh pinggiran kota di mana bau sampah membusuk bercampur dengan asap jelutong dan genangan air limbah Bumi terbangun. Tubuhnya yang kurus kering menempel pada lantai semen yang lembap dan dingin. Tak ada kasur empuk, tak ada selimut hangat. Hanya ada selembar kardus bekas yang sudah menipis.

Belum sempat ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku, sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi wajahnya.

Itu Ratna.

Bumi tidak perlu mendengar teriakan wanita itu untuk tahu apa yang sedang terjadi. Ia cukup melihat urat-urat yang menegang di leher Ratna, bibirnya yang bergincu merah menyala bergerak cepat penuh caci maki, dan matanya yang merah menyalakan kemarahan. Ratna baru saja pulang mungkin setelah malam yang panjang dan tidak menghasilkan uang, atau mungkin karena efek alkohol murah yang masih tersisa di napasnya.

Plak!

Telapak tangan Ratna menghantam pipi kiri Bumi dengan keras. Sensasi panas menyengat langsung menjalar, membuat telinga Bumi yang mati rasa seperti berdengung hebat di dalam kepalanya. Tubuh kecilnya terlempar sedikit ke samping.

Ratna menunjuk-nunjuk ke arah sudut ruangan, ke arah sekeranjang bungkus tisu murah, lalu menunjuk ke luar pintu yang terbuka. Isyarat itu sudah terukir di otak Bumi sejak ia bisa mengingat: Pergi. Cari uang. Jangan pulang kalau kosong.

Bumi tidak menangis. Air matanya sudah lama mengering, digantikan oleh pemahaman dingin bahwa meratap tidak akan pernah menghentikan pukulan. Dengan tangan gemetar, ia memungut kantong plastik berisi bungkus-bungkus tisu itu, mendekapnya erat di dada, lalu berjalan keluar melintasi ambang pintu tanpa menoleh lagi.

Tisu, Asap, dan Lampu Merah

Asap kendaraan menyambutnya bagai kabut hitam yang menyengat. Bumi berjalan menyusuri trotoar yang retak, melangkah dengan kaki telanjang yang sudah kebal menapak kerikil tajam dan aspal panas.

Tujuannya adalah persimpangan lampu merah utama sebuah panggung di mana ia memperagakan bertahan hidup setiap harinya.

Ketika lampu berubah menjadi merah, rentetan mobil dan motor berhenti. Bumi mulai bergerak cepat secara refleks. Ia mendekati satu perhitung mobil, menempelkan wajahnya yang kusam di kaca yang gelap, menyodorkan sebungkus tisu dengan kedua tangan kecilnya.

Dari balik kaca mobil-mobil itu, Bumi melihat berbagai macam wajah.

Ada wajah penuh keluhan dan rasa jijik yang mengibaskan tangan, menyuruhnya menjauh seolah ia adalah hama. Ada wajah-wajah dingin yang menatap lurus ke depan, pura-pura tidak melihat keberadaan anak kecil berkulit kusam itu di samping jendela mereka. Dan kadang, ia melihat jendela yang terbuka sedikit, hanya untuk dilempari koin ribuan yang jatuh ke aspal basah, menyuruhnya pergi tanpa menatap matanya.

Namun, yang paling sering menyita perhatian Bumi adalah jendela mobil-mobil mewah ber-AC.

Siang itu, sebuah mobil putih mengilap berhenti tepat di barisan depan. Kaca jendelanya agak terbuka. Dari luar, Bumi bisa melihat seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Anak itu duduk nyaman di kursi kulit, mengenakan pakaian bersih berwarna cerah, memegang sebuah mainan yang memancarkan cahaya. Di sebelahnya, seorang wanita dengan senyum paling lembut yang pernah Bumi lihat sedang membelai rambut anak itu. Mereka berdua tertawa lebar hingga matanya menyipit.

Bumi terpaku. Matanya menatap lekat-lekat gerakan bibir wanita itu, lenturan wajahnya, dan hangatnya tatapan mata yang dipancarkannya kepada si anak.

Apakah itu rasanya disayangi? Apakah seperti itu wujud dari sebuah kebaikan?

Bumi mengangkat tangan kecilnya yang kotor, mencoba menyentuh udara di dekat kaca mobil itu, membayangkan bagaimana rasanya jika jemari lembut wanita itu mengelus kepalanya yang penuh debu.

Namun sebelum tangannya mendekat, pengemudi di bagian depan menoleh, menunjukkan wajah geram, dan menekan klakson. Meski tak mendengar suaranya, getaran dari klakson dan lambaian tangan kasar sang sopir cukup untuk memutus mimpi buruk Bumi. Kaca mobil dinaikkan rapat-rapat. Mobil itu pun melaju kencang saat lampu berubah hijau, meninggalkan Bumi dalam kepulan asap knalpot.

Malam yang Terus Mengusir

Malam jatuh dengan cepat, melapis kota dengan warna hitam dan kerlap-kerlip lampu jalanan yang dingin. Bumi duduk di sudut trotoar di bawah papan reklame raksasa. Kantong plastiknya masih tersisa banyak. Hari ini sepi. Uang receh yang berhasil ia kumpulkan di saku celana komprangnya sangat sedikit jauh dari cukup untuk membendung amarah Ratna.

Ia takut untuk pulang.

Bumi tahu apa yang menunggunya jika ia melangkah kembali ke kontrakan sempit itu dengan saku yang hampir kosong: guncangan tubuh, sabuk yang melayang, atau dorongan kasar keluar rumah.

Dengan langkah ragu, Bumi berjalan mencari tempat berlindung untuk melewatkan malam. Ia mencoba berbaring di depan emperan toko, namun seorang penjaga berwajah galak mengusirnya dengan sapu penjalin. Ia mencoba bersembunyi di bawah kolong jembatan, tetapi anak-anak jalanan yang lebih besar mendorongnya dan merebut sisa tisunya.

Akhirnya, Bumi meringkuk di sudut gang sempit, di samping tumpukan kardus basah yang berbau apek.

Ia memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada, menempelkan dagunya di sana. Langit malam di atasnya begitu luas, tetapi dunia terasa sangat sempit dan menghimpitnya. Bumi tidak mengerti mengapa ia ada di sini. Ia tidak mengerti mengapa ia tidak bisa mengeluarkan suara untuk meminta tolong, dan ia tidak mengerti mengapa tidak ada satu pun orang yang sudi menatapnya sebagai manusia.

Di dalam kesunyiannya yang abadi, Bumi memejamkan mata. Ia membayangkan wajah anak laki-laki di dalam mobil mewah tadi. Dalam mimpinya yang sederhana, ia berharap besok pagi dunia tidak akan seterik hari ini, dan hangatnya mentari bisa sedikit menggantikan rasa kasih sayang yang tak pernah ia miliki.

SunyiStories to obsess over. Discover now