We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog: Dua matahari di Tanah Jawa

28 0 0
                                        

Tidak semua kisah cinta lahir dari pertemuan dua insan.

Ada kisah yang lahir jauh sebelum mereka dilahirkan. Bermula dari janji para leluhur, dari sumpah yang diucapkan di bawah langit Jawa, ketika Kerajaan-kerajaan lama mulai runtuh dan zaman berubah perlahan.

Di tanah bagian selatan Pulau Jawa, berdirilah dua keraton yang selama ratusan tahun menjadi penjaga peradaban.

Keraton Puspakirana yang berpusat di Kota Sasanapura. Sebuah keraton yang dikenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan, kesenian, diplomasi, dan tata pemerintahan. Para putri dan putra mahkotanya dididik bukan hanya untuk memimpin, namun juga untuk menjadi penjaga kebudayaan Jawa.

Di bagian barat berdiri pula Keraton Candrakusuma, keraton yang masyhur sebagai pusat perdagangan, pertanian, dan kemakmuran rakyat. Pendapanya menjadi tempat para saudagar dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul, sementara sawah-sawahnya menghasilkan padi terbaik yang menghidupi ribuan keluarga.

Hubungan kedua keraton telah terjalin baik sejak ratusan tahun lalu dan hidup berdampingan.

Hubungan mereka tidak pernah dibangun melalui peperangan, melainkan melalui saling percaya.

Pedagang Candrakusuma memenuhi pasar di Sasanapura.

Para seniman saling bertukar ilmu.

Hubungan itu begitu erat hingga Masyarakat menyebut keduanya sebagai "Dua Matahari Tanah Jawa."

Mereka berbeda, tetapi saling menerangi.

Memasuki abad ke-19, perubahan besar datang ke Nusantara.

Pemerintahan colonial Belanda mulai memperkenalkan pendidikan modern, membuka sekolah, rumah sakit, serta menghadirkan para misionaris dari Eropa.

Berbeda dengan banyak kerajaan lain yang memilih menutup diri, Puspakirana dan Candrakusuma justru memilih jalan yang tidak biasa.

Mereka mempelajari ilmu pengetahuan Barat namun tetap mempertahankan kebudayaan serta tata krama Jawa.

Di masa inilah seorang misionaris perempuan asal Belanda, Maria van der Velde, datang ke tanah Jawa.

Dia bukan seorang bangsawan. Bukan pula pejabat kolonial.

Hanyalah seorang guru yang datang membawa Injil, mengajarkan membaca, menulis, merawat orang sakit, serta mendirikan sekolah bagi anak-anak keraton dan masyarakat sekitar.

Perlahan ajarannya diterima tanpa ada paksaan, melainkan lewat keteladanan.

Beberapa generasi kemudian, keluarga keraton di Puspakirana dan Candrakusuma memeluk kekristenan.

Mereka tidak pernah meninggalkan jati diri sebagai orang Jawa.

Tetap mengenakan beskap dan kebaya.

Melestarikan gamelan, wayang, batik, hingga seluruh tata krama keraton.

Yang diubah hanya arah penyembahan, namun tetap memlihara tradisi leluhur sebagai warisan budaya.

Iman mereka dipersembahkan kepada Tuhan.

Bahkan ketika Indonesia berdiri, kedua keraton tetap menjadi penjaga warisan budaya Jawa sekaligus mitra pemerintah dalam pelestarian budaya.

Namun waktu perlahan mengubah banyak hal.

Generasi terus berganti.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang dua keraton itu...

Muncul kekhawatiran bahwa hubungan yang telah dijaga ratusan tahun akan berhenti pada satu generasi.

Sebuah ikatan yang dahulu hanya menjadi cerita para leluhur. Kini harus diwujudkan kembali.

Bukan oleh dua keraton.

Melainkan oleh dua manusia.

Seorang putri yang kebebasannya direnggut. Dan seorang putra mahkota yang memilih memikul tanggung jawabnya.

Mereka belum pernah saling mengenal. Belum pernah saling mencintai.

Namun sejarah terlebih dahulu mempertemukan mereka

Kayesha Mentari Lituhayu dan Mahesa Jayakusuma Candrasena.

Dan dari sinilah kisah itu dimulai.

Dear Ndoro KayeshaStories to obsess over. Discover now