Kami telah mengemas kini Garis Panduan Kandungan kami.
Semak garis panduan terkini untuk terus berkongsi cerita dengan selamat.

bab 1

4 1 0
                                        

Sang Bintang di Balik Sorotan

Di dunia mode Korea Selatan, nama park Jimin Alexander Ashford bukan lagi sekadar dikenal, melainkan menjadi simbol kesempurnaan

Alamak! Gambar ini tidak mengikut garis panduan kandungan kami. Untuk meneruskan penerbitan, sila buang atau muat naik gambar lain.

Di dunia mode Korea Selatan, nama park Jimin Alexander Ashford bukan lagi sekadar dikenal, melainkan menjadi simbol kesempurnaan.

Wajahnya yang cenderung cantik menghiasi berbagai majalah ternama, menjadi duta rumah mode mewah, serta langganan berjalan di panggung peragaan busana internasional.

Setiap unggahan di media sosialnya selalu menjadi perbincangan, sementara jadwal pekerjaannya hampir tak pernah memiliki hari kosong.

Di usia yang masih muda, Jimin atau biasa di panggil alexa telah memiliki segalanya. Popularitas, kekayaan, penghargaan, hingga sebuah apartemen mewah di pusat kota Seoul yang dibelinya dari hasil jerih payah sendiri. Di balik senyum yang selalu terpampang di depan kamera, ia dikenal sebagai sosok profesional, disiplin, dan hampir tidak pernah terseret skandal.

Banyak orang mengira hidupnya sempurna. Namun, tak seorang pun benar-benar mengetahui bahwa kehidupan yang paling melelahkan justru dimulai ketika lampu kamera padam.

Park Jimin Alexander Ashford lahir dari ayah berkebangsaan Korea dan ibu keturunan Inggris. Darah Asia dan Eropa yang mengalir dalam dirinya.

Jimin berasal dari keluarga kaya raya,keluarga park adalah salah satu keluarga pebisnis paling berpengaruh di Korea. Ayahnya memiliki perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang investasi. Sejak kecil, Jimin tumbuh dalam kemewahan.

Semua berubah ketika ibunya meninggal dunia. Beberapa tahun kemudian, ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita bernama Han Soojin. Sejak saat itu, rumah yang dulu terasa hangat berubah menjadi tempat yang membuat Jimin enggan pulang.

Soojin bukan wanita yang kasar. Ia selalu berbicara dengan sopan, tersenyum di depan banyak orang, dan terlihat seperti ibu yang sempurna. Namun, di balik semua itu, ia mengatur hidup Jimin seolah-olah Jimin hanyalah aset keluarga.

Baginya, karier model hanyalah pekerjaan sementara. Yang benar-benar diinginkannya adalah Jimin mengambil alih perusahaan Park Group dan menikahi seseorang yang telah dipilih demi memperkuat hubungan bisnis keluarga.

Ironisnya, Soojin mengetahui satu rahasia besar Jimin. Yaitu orientasi sexsualnya. Rahasia itu tidak membuat Soojin marah ataupun jijik. Baginya, orientasi Jimin sama sekali tidak penting. Yang penting hanyalah nama keluarga Park tetap berkuasa.

"Setelah menikah, kau bebas menjalani hidupmu di luar sana. Yang kami butuhkan hanyalah status pernikahan dan penerus perusahaan."

Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Jimin setiap kali ia menerima telepon dari rumah. Seolah-olah hidupnya hanyalah sebuah kontrak.

Karena itulah Jimin memilih tinggal sendiri di apartemennya. Tempat itu menjadi satu-satunya ruang di mana ia dapat bernapas tanpa diawasi, tanpa diatur, dan tanpa harus berpura-pura menjadi putra sempurna keluarga Park.

Malam itu, setelah menyelesaikan pemotretan untuk sebuah merek internasional, Jimin membuka pintu apartemennya. Ia meletakkan tas di sofa, melepas jas mahal yang masih melekat di tubuhnya, lalu berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap gemerlap kota Seoul.

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat senyum tipisnya menghilang.

Ibu.

Bukan ibu kandungnya. Melainkan wanita yang selama bertahun-tahun mengendalikan setiap keputusan dalam hidupnya.

Jimin menarik napas panjang berjalan perlahan menghampiri ponselnya dan meletakkan ponsel ditelinganya sambil berkata "hallo ibu.. "

Ia tahu...

Telepon malam ini tidak akan membawa kabar baik untuknya ..

The Captain's DestinyCerita yang buat anda obses. Terokai sekarang