We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab. 01 [Jadilah milikku sayang]

3.5K 148 20
                                        

"Kamu ini maunya apa sih, Kakina! Umur sudah 26 tapi masih sendiri juga! Lihat adikmu, Keyla! Dia sudah menikah dan memiliki suami yang sangat mendukung pendidikannya menjadi dokter. Kamu ini loh! Kerja di panti pijat gak jelas, pulang sering larut malam, Mama jadi curiga kamu ada main sesuatu di belakang orang tua! JAWAB!"

DEG!

Kakina seketika berdiri mematung mendengar ucapan pedas mamanya. Sudah bukan hal aneh jika wanita tua itu membandingkannya dengan Keyla, tapi... Apa katanya tadi?

"M-m-maksud... Mama-?" Suara Kakina bergetar hebat, tercekat di pangkal tenggorokan.

"Jawab jujur! Fatthur kemarin bilang ke Mama kalau dia lihat kamu pulang malam banget dianterin pakai mobil sama cowok. Kamu habis ngapain, Kakina Misyaila?! Apa jangan-jangan panti pijat tempat kamu kerja itu bukan sekadar pijat biasa, tapi ada servis plus-plusnya?!" Hanin, ibu beranak dua itu, melotot tajam dengan napas memburu.

Dada Kakina berdesir hebat, seperti dihantam batu besar sampai sesak. Di ruang tamu yang megah itu, suasana mendadak dingin mencekam. Bukan cuma Hanin yang berdiri menudingnya, tetapi di sofa tengah ada sang ayah yang duduk bersedekap dengan wajah keruh. Di sampingnya, duduk Keyla-adik kandungnya-serta Fatthur, suami Keyla yang tak lain adalah pria yang selama bertahun-tahun diam-diam mengisi ruang di hati Kakina.

Dipandang oleh mereka semua dengan tatapan seolah dirinya adalah sampah, rasa malu dan sakit hati seketika membakar sekujur tubuh Kakina. Air mata perlahan mengumpul di pelupuk matanya, terasa panas dan membakar pipinya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang sangat ia cintai, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, melemparkan tuduhan sekeji itu padanya?

Kerja kerasnya selama ini... peluh dan pegal di jemarinya setiap hari demi bisa mandiri dan tidak membebani keluarga, hanya dinilai sesampah ini di mata mamanya sendiri?

"Mah, astagfirullah... udah, Mah. Jangan bentak Mbak Kina seperti itu..." Keyla akhirnya angkat bicara, berdiri perlahan dari duduknya. Suaranya terdengar lembut, mengayomi, khas seorang calon dokter yang berpendidikan tinggi.

Namun, kalimat membela yang keluar dari mulut adiknya itu justru terasa seperti duri halus yang makin menusuk dada Kakina.

"Keyla yakin Mbak Kina gak bermaksud aneh-aneh. Mungkin... mungkin Mbak Kina memang terpaksa atau emang pelanggan panti pijatnya yang maksa nganterin pulang," lanjut Keyla, menatap kakaknya dengan pandangan prihatin yang terkesan sangat menyudutkan. "Mbak Kina kan emang kerjaannya melayani pijat, jadi kalau ada pelanggan yang terbiasa dekat atau ngasih fasilitas lebih, mungkin itu hal yang lumrah di pekerjaan Mbak. Tapi Mbak Kina... kalau emang pekerjaan itu berisiko bikin fitnah dan mengundang niat buruk orang, mending Mbak nurut kata Mama deh. Mending keluar aja."

Kakina menatap Keyla tak percaya. "Mbak Kina emang kerjaannya melayani pijat..." Kalimat itu terdengar begitu manis di bibir adiknya, namun terasa pahit dan menyengat bagi Kakina. Dipikir dia tidak sadar kalau bocah ini hanya sedang pura-pura membelanya? Kakina yakin kalau dalam hati, adiknya itu ikut mengamini tuduhan rendahan itu! Seolah-olah Kakina memang wanita murahan yang terbiasa memakai keahlian tangannya untuk 'memanjakan' lelaki berduit.

Kakina mengalihkan pandangannya pada Fatthur. Pria itu hanya diam, menunduk tipis tanpa ada niat mengklarifikasi atau meluruskan bahwa mobil yang mengantarkan Kakina malam itu hanyalah taksi online yang ia pesan karena hujan deras. Fatthur tahu betul hal itu, tapi pria yang sengaja ia puja dalam diam itu memilih bungkam, membiarkan Kakina dibantai di depan matanya sendiri.

"Kamu dengar sendiri kan apa kata adikmu?" suara bernada berat dan dingin milik sang ayah, Hendra, akhirnya memecah keheningan. Pria paruh baya itu berdiri dari sofanya, menatap Kakina dengan pandangan sangat kecewa. "Papa sudah cukup sabar selama ini melihat kamu menolak semua saran orang tua. Kamu lebih milih kerja memijat tubuh orang asing dibanding nurut kata Papa. Sekarang, kelakuanmu makin menjadi-jadi sampai bikin malu keluarga!"

Mas suamiku~♡Stories to obsess over. Discover now