Abbiamo aggiornato le nostre Linee Guida sul Contenuto.
Consulta le linee guida più recenti per continuare a condividere storie in sicurezza.

1. The Girl in the Back Row

28 7 10
                                        

Kalau ada satu hal yang Alana pelajari selama beberapa bulan menjadi siswi SMA, itu adalah bagaimana caranya terlihat tidak peduli, entah itu ketika namanya sengaja disebut sedikit lebih keras, atau ketika suara tawa muncul sesaat setelah ia melew...

Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.

Kalau ada satu hal yang Alana pelajari selama beberapa bulan menjadi siswi SMA, itu adalah bagaimana caranya terlihat tidak peduli, entah itu ketika namanya sengaja disebut sedikit lebih keras, atau ketika suara tawa muncul sesaat setelah ia melewati sekelompok orang, bahkan ketika seseorang menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu berbisik kepada temannya seolah Alana tidak memiliki telinga.

Caranya sederhana, tatapan lurus ke depan, jangan membalas atau menunjukkan ekspresi. Dan yang paling penting—jangan pernah membuat mereka tahu bahwa perkataan mereka berhasil menyakitimu. Alana sudah cukup ahli melakukannya.

Pagi itu pun sama, ia datang hampir dua puluh menit sebelum bel masuk berbunyi, melewati lorong kelas yang masih cukup sepi, kemudian masuk ke kelas X-3 dan langsung berjalan menuju tempat favoritnya.

Bangku kedua dari belakang, dekat jendela, tidak terlalu depan hingga mudah diperhatikan guru, tetapi juga tidak paling belakang sampai dianggap sengaja menghindari pelajaran. Posisi yang sempurna.

Alana meletakkan tas di samping kursi, mengeluarkan buku Bahasa Indonesia, lalu mulai membaca materi yang sebenarnya sudah ia baca semalam. Satu per satu teman sekelasnya datang, suasana yang semula tenang berubah ramai.

Alana tidak terlalu memperhatikan, sampai sebuah tas diletakkan keras di meja sebelahnya. Alana mengangkat kepala, Nisa berdiri di sana bersama dua temannya.

"Sendirian lagi?"
Alana menatapnya sebentar. "Iya." Jawabannya singkat.
Nisa tersenyum kecil. "Bosen nggak, sih?"
Alana kembali melihat bukunya. "Nggak."
"Beneran?"
"Iya."
Salah satu teman Nisa tertawa kecil.

Alana tidak tahu bagian mana yang lucu, dan ia tidak berniat mencari tahu.
"Ya udah." Mereka pergi.

Namun sebelum benar-benar menjauh, Alana masih sempat mendengar salah seorang dari mereka berbisik. "Pantes nggak punya teman." Disusul tawa pelan.

Jari Alana berhenti di ujung halaman hanya sebentar, kemudian ia membaliknya. Tidak apa-apa, sudah biasa.

Bel masuk berbunyi pukul tujuh tepat. Wali kelas mereka masuk beberapa menit kemudian dan pelajaran dimulai seperti biasanya.

Bagi Alana, kelas adalah bagian paling mudah dari sekolah. Ketika guru menjelaskan, semua orang harus diam, tidak ada yang punya alasan mengganggunya. Ia hanya perlu mencatat, mendengarkan, mengerjakan soal, lalu menunggu sampai bel berikutnya berbunyi.

Masalah justru muncul ketika jam istirahat tiba. Begitu guru meninggalkan kelas, sebagian besar murid langsung berhamburan keluar. Alana tetap di tempat, ia membuka tas dan mengambil kotak makan yang sudah disiapkan dari rumah.

Belum sempat membukanya, seseorang berlari masuk dari pintu kelas.
"RAKA!"
"Apaan, sih?!"
Seorang cowok masuk sambil tertawa, dikejar dua temannya dari belakang.

Alana mengenalnya, tentu saja hampir semua orang di kelas mengenal Raka. Bukan karena ia ketua kelas atau siswa paling pintar. Raka adalah tipe orang yang baru beberapa bulan masuk sekolah tetapi sudah mengenal siswa dari kelas lain, kakak kelas, penjaga kantin, bahkan satpam di gerbang depan. Berbanding terbalik dengan Alana yang terkadang masih lupa nama beberapa teman sekelasnya sendiri.

Sedalam RasaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora