Bab 1- Jembatan yang tidak jadi

15 0 0
                                        


Namaku yujiin, Pada usia dua puluh sembilan tahun, aku akhirnya memahami bahwa seseorang bisa memiliki hampir segala sesuatu yang dahulu ia inginkan dan tetap tidak mempunyai alasan untuk bangun keesokan paginya.

Aku memiliki pekerjaan yang baik. Apartemen kecil yang nyaman. Tabungan yang cukup untuk membuatku tidak lagi menghitung harga makanan sebelum memasukkannya ke keranjang belanja. Aku bahkan punya sebuah mobil yang dulu, ketika masih kecil, hanya bisa kulihat dari balik kaca toko.

Tetapi malam itu, semua benda tersebut terasa seperti milik orang lain.

Aku berdiri di atas jembatan dengan kedua tangan menggenggam pagar besi yang dingin. Di bawah sana, lampu kendaraan bergerak seperti aliran kunang-kunang yang tidak pernah mengenal lelah. Angin malam menyapu wajahku. Aku menatap ke bawah terlalu lama sampai ketinggian itu tak lagi terasa menakutkan.

 Aku menatap ke bawah terlalu lama sampai ketinggian itu tak lagi terasa menakutkan

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Yang membuatku takut justru satu pertanyaan sederhana:

kalau aku pergi sekarang, siapa yang akan mencariku besok pagi?

Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan. Nyatanya, jawabannya justru membuat dadaku terasa semakin kosong.

Ibu sudah tidak ada.
Pikiran itu datang seperti biasa. Singkat, sederhana, tetapi selalu berhasil menghancurkan bagian kecil dalam diriku yang masih berusaha bertahan.

Ibu meninggal enam bulan lalu.
Seumur hidup, aku mengejar sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kuinginkan.
Aku ingin uang karena dulu kami tidak punya.
Aku ingin pekerjaan bagus karena aku pernah melihat ibuku menunda membeli obat hanya agar uang belanja cukup sampai akhir bulan.
Aku ingin rumah karena rumah masa kecil kami terlalu sering bocor saat hujan.

Aku bekerja.

Aku naik jabatan.

Aku menabung.

Aku mengurus ibu.

Aku bangun sebelum matahari, pulang ketika malam sudah terlalu tua, lalu mengulang semuanya.

Aku tidak pernah sempat bertanya untuk apa semua itu.

Sampai suatu hari, ibu pergi.

Dan tiba-tiba aku sudah memiliki semua yang kukejar, kecuali orang yang ingin kubuat bahagia dengan semua itu.

Tetesan hujan mulai turun
Menyentuh pundaku

Tetesan hujan  mulai turunMenyentuh pundaku

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


Aku melepaskan pagar perlahan.
Ponsel di saku bergetar. Pesan dari seseorang.

Aku tidak membukanya.

Teman-temanku sebenarnya sudah lama mengkhawatirkanku. Mereka bahkan pernah membuat semacam proyek bodoh untuk mencarikanku pasangan.

Aku masih ingat malam ketika mereka menyeretku ke sebuah restoran. Salah satu dari mereka berkata,

"Kau harus belajar ngobrol dengan perempuan, Jin. Umurmu hampir tiga puluh."

Aku menjawab bahwa aku bisa berbicara dengan perempuan.

Mereka tertawa.

Ternyata bisa berbicara dan bisa berkencan adalah dua kemampuan yang berbeda.

Aku pernah duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang bekerja sebagai editor buku.
Ia bertanya apa yang kulakukan di waktu luang.
Aku menjawab,

"Kerja."

Ia menunggu beberapa detik, mungkin mengira aku akan bercanda. Aku tidak bercanda.

Kencan berikutnya lebih buruk. Perempuan itu bertanya makanan kesukaanku.
Aku menjelaskan sesuatu tentang kebutuhan nutrisi dan efisiensi pengeluaran bulanan.
Setelah itu, dia tidak pernah membalas pesanku lagi.

Teman-temanku menyebutku kaku. Aku tidak bisa menyangkalnya.
Mungkin aku memang terlambat belajar hidup.

Aku kembali memandang ke bawah.
Ada saat ketika aku membayangkan kematian akan terasa seperti mematikan lampu.
Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada pagi.

Aku menaikkan satu kaki ke pijakan bawah pagar.

Lalu teringat suara ibu.

Bukan kata-kata besar. Bukan nasihat yang bijaksana. Hanya kalimat yang pernah ia ucapkan ketika aku pulang terlalu larut setelah bekerja:

"Pulanglah, Jin. Ibu belum tidur."

Aku menutup mata.

Ibu sudah tidak menungguku pulang.

Aku menarik kaki kembali.

Entah mengapa, malam itu aku tidak jadi melompat.

Aku tidak merasa hidupku tiba-tiba menjadi indah. Tidak ada cahaya yang turun dari langit. Tidak ada alasan ajaib yang membuatku ingin hidup.

Aku hanya... pulang.

Raka menelpon ku , menanyakan kabarku, Dia hawatir karena baru saja menerima kabar bahwa di sekitar Apartement ku ada sebuah insiden

Namun aku hanya menjawab "tidak tahu"

Di apartemen, aku berdiri lama di balkon. Kota di depanku tampak indah dengan cara yang menyedihkan. Begitu banyak jendela menyala. Begitu banyak orang masih menjalani hidup mereka tanpa tahu bahwa seseorang di balkon lantai sembilan sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

Aku menarik napas panjang.

Sepertinya tidur bisa membuat semuanya lebih baik.

Atau mungkin tidur hanya akan membuat niatku menjadi lebih matang esok hari.

Aku tidak tahu.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku membiarkan diriku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan.
Waktu sudah begitu larut

Jam berdetik seolah melambat

Tanggal menujukan 20-7-2022
Dimana seharusnya aku merasa bahagia
...

Aku masuk kamar, mematikan lampu, lalu berbaring.

Dan sebelum kesadaranku benar-benar
tenggelam, aku sempat berpikir bahwa

"mungkin besok aku akan menemukan alasan untuk tetap hidup."

Aku tidak tahu bahwa alasan itu sedang menungguku di tempat yang bahkan tidak bisa disentuh tangan manusia.

Mimpi dan HarapanHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora