Dunia Sae runtuh dalam senyap semenjak sang ibu pergi meninggalkanya. Perempuan yang menjadi satu-satunya tempat berlindung itu pergi, kabur dari badai perselingkuhan dan kekejaman sang ayah, tanpa menoleh lagi pada anak laki-laki yang ia tinggalkan.
Sejak hari itu tawa Sae lenyap, rumah menjelma menjadi neraka kecil, ruang tamu menjadi medan ranjau di mana langkah kaki ayahnya adalah isyarat bahaya. Setiap kali lelaki itu pulang dengan aroma alkohol yang menyengat, Sae belajar menyusutkan diri menahan napas di sudut kamar, berharap tubuh kurusnya tak tertangkap sang ayah yang kerap mengamuk tanpa alasan yang jelas.
Bahkan untuk urusan perut Sae belajar tahu diri, tubuhnya yang butuh asupan hanya bisa meringkuk di dekat meja makan, menatap kosong piring kotor menunggu hingga sang ayah selesai makan dan beranjak pergi. Barulah setelah itu ia bergerak maju, menelan apa saja yang tersisa dengan tenggorokan yang tercekat rasa perih.
Hingga sore itu, di bawah langit yang mulai memasuki musim dingin, Sae melangkah pulang sekolah dengan bahu merosot. Begitu jemarinya yang kaku mendorong daun pintu tua yang berderit, langkahnya mendadak terpaku.
Tatapannya terkunci pada lantai yang dingin, sesosok bayi ringkih yang kemerahan tergeletak di sana, hanya beralaskan selembar kain tipis yang kusam.
Sae terdiam udara di sekitarnya seolah membeku Kejam sekali ibunya, batin Sae. Cengkramannya pada tali tas sekolah mengerat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Dia tahu persis siapabayi ini, ini adik tirinya hasil hubungan gelap ayahnya dengan perempuan lain yang sempat dibawa ke rumah ini. Dan sekarang melihat ruangan yang berantakan jelas sudah, ibu tiri barunya itu pun akhirnya memilih kabur menyelamatkan diri dari kepalan tangan sang ayah, meninggalkan darah dagingnya begitu saja di lantai yang sedingin itu.
Hati Sae mencelos, ada rasa benci yang sempat berdesir, namun runtuh seketika saat telinga kecilnya menangkap lengkingan tangis lirih yang bergetar.
Sae menjatuhkan tasnya ke lantai, ia berlutut cepat merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, buru-buru ia melepas jaket lusuh yang melekat di tubuhnya sendiri lalu membungkus bayi itu erat-erat hingga hangat tubuhnya berpindah.
Persetan dengan fakta bahwa anak ini adalah bukti pengkhianatan ayahnya, makhluk sekecil ini tidak punya dosa.
"Sekarang namamu Rin" bisik Sae, suaranya serak matanya menatap lekat sepasang mata bulat yang perlahan terbuka di pelukannya.
Di usianya yang baru menginjak tiga belas tahun, Sae melipat seragam sekolahnya dalam-dalam ke dasar lemari, tidak ada lagi masa depan di balik seragam itu.
Ayahnya tidak pernah lagi melempar sepeser pun uang melainkan hanya menyisakan botol kosong dan puntung rokok, alhasil punggung kecil Sae dipaksa tegak sebelum waktunya.
Ia membanting tulang ke sana kemari menjadi kuli panggul, mencuci piring di kedai dan apa saja, biar ia yang kelaparan asal adiknya bisa meminum susu, biar ia kehilangan masa muda demi sesuap nasi untuk mempertahankan nyawa mereka berdua.
Tahun demi tahun berlalu seperti hantaman ombak yang tak ada habisnya. Suatu sore, langkah kaki Sae yang berat menuntunnya kembali ke rumah.
Pakaian kerjanya masih kotor dan setiap sendi tubuhnya menjerit minta diistirahatkan. Namun, pemandangan di depan pagar seketika membuat otot-ototnya menegang.
Lima orang lelaki berbadan tegap berdiri berkerumun, potongan rambut mereka cepak, jaket kulit mereka menebarkan aroma intimidasi yang pekat persis seperti Rentenir.
Sae menarik napas dalam-dalam menekan debar jantungnya yang mendadak berpacu liar. Ia memantapkan langkahnya dan pura-pura tak acuh berjalan melewati barisan lelaki itu. Toh, ia tak pernah menyentuh uang haram sepeser pun dari lintah darat, mengapa harus takut?.
YOU ARE READING
I Don't Hate You
General FictionDi tengah jalan raya yang gelap dan sunyi, di antara mayat-mayat yang berserakan dan keheningan para bawahannya, seorang pria bersimpuh putus asa. Di bawah rintik hujan, ia mendekap erat tubuh sosok yang paling ia sayangi. Sosok dalam pelukannya it...
