"Jadi.. Kalau disuruh memilih kau akan pilih Chouji atau Shikamaru"
"Hehhh--- kenapa harus mereka? Tidak ada orang lain? Sasuke atau minimal Naruto?" Protes Ino pada sang ayah yang sedang mencuci piring disebelahnya, "memangnya kenapa? Bukankah lebih baik dengan orang yang sudah dikenal lama?"
"Justru itu masalahnya, mana bisa aku suka pada dua manusa aneh itu" Ino mengibaskan tangan didepan hidung dengan wajah tak suka.
Tak lama kemudian, dibalik jendela yang berada di hadapannya. Muncul dua manusia yang baru saja ia sebutkan, sontak sang ayah melirik dan menyenggol lengan Ino dengan jahil.
"Ayah!! Ibu aku akan keluar dengan Shika dan Chouji" Pamit Inos setelah memukul lengan ayahnya yang masih cekikan menyapa kedua teman lamanya.
Ino mendengus dengan melipatkan kedua tangan, Shikamaru menolah ikut mendesah dengan tatapan mematikan Ino, "ada apa lagi?"
"Kenapa aku harus terjebak bersama kalian?" Komen Ino melirik Shikamaru dan Chouji bergantian, "memangnya kau pikir kami mau? Hari ini jadwal kita untuk piket" Sahut Shikamaru.
"Aku suka jika harus bersama kalian, karena bisa sambil makan" Tambah Chouji menikmati setiap kepingan keripik kentangnya.
Tak lama ada suara benda jatuh, dengan cepat mereka membagi tugas untuk berpencar. Akhir-akhir ini di lingkungan mereka cukup sering terjadi pencurian bahkan pencabulan anak dibawah umur.
Kepolisian setempat mengerahkn beberapa anggota menjadi tiga tim untuk berpatroli, dan malam ini memang jadwal untuk Ino, Shikamaru dan Chouji.
Chouji melipat bungkus snacknya dan mulai melempari sosok hitam yang baru saja melesat dengan sebuah kaleng di kakinya. Kena!
Ia melangkah cepat menimpa tubuh yant lebih kecil itu sambil memborgol kedua tangan pria yang mengenakan topeng hitam. "Kau mau?" Chouji menawarkan keripiknya.
Disisi lain, Ino juga berhasil menangkap seseorang yang badannya lebih besar. Sudah terborgol, tapi pria itu menolak untuk berjalan mengikutinya. "Kenapa diam?"
"Aku tidak tahu ada anggota kepolisian yang secantik ini"
"Hentikkan, dasar mesum"
"Sepertinya dua menit cukup untuk kita bermain" Dengan posisi kedua tangan terborgol rambut Ino berhasil di tarik hingga topi bahkan ikat rambutnya terlepas hingga tubuhnya ikut terjatuh. "Wahh kau makin cantik" Ino memberikan pukulan tepat di wajah pria yang kini tertawa menunjukjan gigi kuningnya.
"Pukulan itu hanya menggelitikku" Ino membulatkan mata saat kedua tangannya diremas hingga memerah dan tubuhnya sedikit terangkat, kakinya ia goyangkan hingga mengenai alat vital pria tersebut hingga meringis.
"Baiklah, sepertinya kau suka yang kasar ya?" Tepat sebelum wajah lelaki itu medekat, Ino memejamkan mata dan tubuhnya sudah di pegangin oleh Chouji.
"Maaf aku terlambat" Ujar Chouji dengan wajah serius, "terimakasih" Jawab Ino dengan suara serak.
Mereka kembali ke pos tak lama setelah Shikamaru, pria dengan mata tajam itu berlari menghampiri Ino yang datang dengan tertunduk. Pakaiannya kotor dan rambut yang terurai.
"Siapa yang melakukan ini?" Shikamaru memegangi bahu ini, "aku sudah membereskannya... sebaiknya kita buat laporan" Sahut Chouji membawa kedua pria berpakaian serba hitam itu masuk ke dalam sel masih dengan tangan terborgol.
"Aku tidak apa-apa" Ino tersenyum menepis tangan Shikamaru dan mulai menyalakan monitor.
Sibuk mengetik beberapa kata sebagai bentuk laporan yang akan dikirim ke pusat untuk di tindak lanjuti. Chouji beristirahat di ruangan staff sambil memainkan ponsel.
sementara Shikamaru kembali ke sel, membuka pintunya dan mengunci dirinya di dalam bersamaan dengan dua orang yang ditangkap oleh Chouji.
"Siapa diantara kalian yang mengganggu Ino?"
"Ahh.. Jadi gadis manis itu bernama Ino, sayang sekali.. Padahal sedikit lagi.. " Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Shikamaru melayangkan tinju tepat di wajah pria yang kini terkapar. "Hufftt.. Wajahmu keras juga" Gumamnya menggoyangkan tangan yang nyeri.
Shikamaru duduk santai sambil menatap mading yang ada di kantor, "heii.. Kenapa tanganmu?" Tanya Ino, "tidak apa-apa.. Pikirkan dirimu sendiri, lihat kau begitu mengerikan"
"Ayo.. Kita obati dulu" Shikamaru hanya menurut ketika Ino menarik tangannya ke ruangan staff, masih dengan Chouji yang berbaring sambil memainkan ponsel.
Ino membersihkan sekitar punggung tangan Shikamaru dan mengoleskannya dengan krim, Shikamaru masih diam melihat rambut Ino yang kini sudah diikat.
"Terimakasih"
"Aku sudah selesai buat laporan, sepertinya aku harus pulang duluan.. Tidak masalahkan?" Ino bangkit dari duduk, bicara tanpa memperhatikan kedua rekannya yang menjawab dengan dehaman.
"Dia sungguh tidak apa-apa?" Bisik Shikamaru, "saat perjalanan kemari dia hampir menangis, tapi aku diam saja.. Kau tahu kan anak itu keras kepala dan sok kuat, dia akan mengamuk jika kita menyadari kelemahannya" Jawab Chouji ikut berbisik.
Shikamaru menepuk bahu Chouji dan pergi meninggalkan ruangan staff.
Diam-diam mengikuti Ino yang yang berjalan sendiri di tengah malam dengan penerangan remang. "Aku tidak suka perasaan ini" Gumamnya berjalan lebih cepat dan membalut kedua bahu Ino dengan jaket miliknya.
"Kenapa menyusul?" Ino dengan cepat mengusap wajahnya, "aku ingin mampir bertemu ayahmu"
"Untuk apa?"
"Jangan banyak tanya" Ino kembali diam menggenggam erat jaket yang ada di tubuhnya. Membayangkan bagaimana jika Chouji telat sedikit saja, matanya terpejam hingga kedua tangan hangat bersandar di telinganya.
Tangan besar yang aromanya sangat ia kenal, matanya terbuka menunjukkan Shikamaru yang menghela nafas. "Semua baik-baik saja.. " Ucapnya diikuti anggukan Ino.
"Kau kesempatan sekali menyentuh ku" Kata Ino kemudian yang membuat Shikamaru menarik kedua tangannya, "aku menyesal berbuat baik"
"Aku tidak selemah itu, kenapa harus sok keren begitu sih" Ledek Ino tertawa hambar menyenggol lengan Shikamaru berkali-kali.
Shikamaru diam menikmati angin malam yang semakin menusuk tulang.
...
Ino menghabiskan paginya di atas tempat tidur, berbalik kesana kemari mengabaikan matahari yang sinarnya masuk melalui celah tirai kamar.
Tubuhnya menggeliat, sudah pukul 9 pagi sepertinya ia perlu sedikit udara segara. Meskis sedikit terlambat, Ino mengganti pakaiannya dengan celana trainning dan kaus pendek. Berlari kecil di tempat, kemudian mulai melangkah menjauhi rumah.
Melewati pos polisi, menyapa Sasuke si pria paling tampan di desanya. Hingga kakinya terhenti di sebuah gang yang kini cukup ramai, berbeda sekali dengan semalam. Gelap, sunyi dan..
Sentuhan di bahunya membuat Ino menunduk menutup kedua telinga. "Ahh maaf aku tidak bermaksud menakuti" Ujar Naruto mengusap bagian belakang kepalanya, "dasar pirang.. Kenapa? Ada apa? " Omel Ino
"Laporanmu sepertinya ada yang salah, detail pelaku tidak lengkap.. Bisakah kau ikut ke pos denganku?" Ino hanya mengangguk menuruti kemana Naruto pergi.
Mereka sampai di pos, ada Sakura dam Sasuke disana yang langsung menyapanya. "Kemana para pelaku?"
"Mereka sudah di bawa tadi pagi, apa kau masih ingat ciri-cirinya?" Tanya Sakura mendekat, Ino menepis bayangan pria semalam. Rasanya mengerikan bagaimana lelaki itu tersenyum padanya di balik gelapnya malam.
Dadanya naik turun, ia mengatur nafas sambil menggigit bibir bawah hingga Sasuke sedikit mendorong bangkunya. Mengambil alih monitor, "aku yang akan mengoreksi laporan"
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku jadi menganggu waktunya" Komen Naruto, "aku baru ingat karena tadi akulah yang membawa para pria itu" Jawab Sasuke singkat setelah melirik Ino sekilas. Sakura menyadari hal itu.
.
.
.
.
.
YOU ARE READING
Forced Destiny
FanfictionSahabat yang perlahan berubah karena takdir "Kau tahu apa yang lucu? Kukira kau suka padaku, dan kau mencari sosok diriku yang ada pada temari.. Lucu bukan?" "Yah, lucu sekali... Karena itu memang benar?" "Hah? Benar? Dari mana yang benarnya?" "Sem...
