We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1 : Lets Move Forward

234 55 11
                                        


***

Suasana rumah hari ini terasa ramai, karena hari ini adalah hari terakhir mereka menempati bangunan yang sudah mereka huni sejak dirinya berusia lima tahun

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Suasana rumah hari ini terasa ramai, karena hari ini adalah hari terakhir mereka menempati bangunan yang sudah mereka huni sejak dirinya berusia lima tahun. Sambil menapaki koridor yang menyambung ruangan - ruangan di rumah, ia beberapa kali berpapasan dengan karyawan Ibunya dan agen yang disewa untuk membantu proses pindahan.

Hal itu mungkin terdengar sepele, tapi menurut dirinya yang memang tidak mudah berinteraksi dengan orang baru dan keramaian, semuanya cukup menguras energi. Sehingga ia memilih untuk naik ke lantai paling atas rumah mereka, di ruang baca yang terlupakan dan belum selesai dirapikan.

Hampir tiga belas tahun hidupnya dihabiskan di rumah ini, rumah yang terletak di pusat kota Coastal Coast yang ramai dan sibuk. Meskipun sudah lama tinggal di kota yang ramai dan sibuk, ia tidak pernah merasa ada keterikatan dengan kota ini.

Tapi, rumah ini.. hampir seperti dirinya. Berbeda dari yang lain. Berdiri diantara bangunan megah yang tinggi, dengan teknologi paling baru, lampu gemerlap, dan lalu lintas yang sibuk. Ditengah landsekap kota yang didominasi warna abu - abu gelap, baja - baja bermutu tinggi dan beton yang dibangun dengan teknologi terkini. Rumah ini bertahan dengan arsitektur model lama yang klasik, ukiran yang rumit menghiasi pilar - pilar berwarna putih, rumahnya sangat terlihat berbeda, seperti tidak bisa berbaur dengan sekitarnya.

Setelah menaiki anak tangga terakhir, ia menghela nafas lega karena untuk pertama kali sejak ia terbangun dari tidurnya, telinganya tidak mendengar kebisingan. Ada sedikit dengungan di telinga dan kepalanya, sudah biasa jika ia menerima terlalu banyak stimulasi. Setelah membuka pintu, ia membaringkan tubuhnya di sofa cukup besar yang menghadap ke jendela. Disini, ia bisa memperhatikan kegiatan orang - orang di bawah. Client Ibunya, kolega yang bertamu, atau pengantar makanan.

"Arrow!," ia menoleh ke arah pintu. Melihat Ibunya sibuk memasang anting ke salah satu telinganya. Kilaunya sesekali berpendar ketika tertimpa cahaya, warna silvernya senada dengan kemeja putih yang ibunya pakai.

"Nanti tolong bantu masukin buku - bukunya ke dalem dus ya?," ia mengedarkan pandangannya ke beberapa dus dan buku yang sudah bertumpuk. Menunggu giliran untuk dirapikan ke dalam kotak.

"Mama udah siapin bajunya, nanti kita misah dulu, kamu ke tempat terapi, Mama ke tempat makan duluan, nanti bakal ngobrol - ngobrol dulu. Kamu pasti bosen." ia kemudian mencondongkan badanya ke arah koridor. "Lizzie? Fabian?," ia sedikit mengeraskan suaranya. Memanggil asistennya "Halo?,"

Mama keluar, melihat ke lantai bawah melalui balkon. Menanggil asistennya lagi. Arrow mendengar suara yang menyahut.

"Bisa bawa bajunya Arrow keatas?, kalau gak disuruh ganti sekarang suka lupa dia."

Arrow menghela nafas, memilih untuk melihat jendela dan memperhatikan beberapa dus berukuran besar yang sedang disusun di dalam mobil secara teratur, kotak besar dan kotak kecil saling bertumpuk dengan rapi, Arrow memperhatikannya dengan seksama sebelum merasakan Mama mendekat. Wangi parfum segarnya menyapa hidung Arrow, ia berbalik kemudian tersenyum.

The Archer, and His ArrowStories to obsess over. Discover now