Bab 1: Rumah di Lekuk Dadamu
Hujan deras mengguyur kaca jendela penthouse mewah itu, menciptakan dinding suara yang memisahkan mereka dari dunia luar yang bising. Di dalam kamar utama yang ber-AC dingin, suasana hening tiba-tiba pecah oleh suara isakan tertahan yang menyayat hati.
Bram, pria yang di siang hari dikenal sebagai CEO besi yang tak tersentuh, kini sedang meringkuk di sudut kasur. Bahunya berguncang hebat. Jas kerjanya tergeletak berserakan, dasinya sudah lama dilepas. Matanya merah bengkak, air matanya mengalir deras membasahi bantal sutra mahal mereka. Ia merasa kosong, hampa, dan ketakutan akan kesepian yang menggerogoti jiwanya sejak kecil.
Pintu kamar mandi terbuka. Naya keluar dengan mengenakan daster katun tipis berwarna putih susu. Rambutnya masih sedikit lembap, terurai indah. Saat melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, hati Naya langsung terasa perih. Ia tidak bertanya banyak. Ia tahu apa yang dibutuhkan Bram.
"Bram..." panggil Naya lembut, mendekat dengan langkah perlahan.
Mendengar suara istrinya, Bram mendongak. Wajahnya yang tampan itu kini penuh dengan air mata dan kerentanan. Ia mengulurkan tangan, gemetar. "Nay... Aku butuh kamu. Aku nggak kuat sendiri."
Naya segera duduk di sampingnya, lalu membuka kancing depan dasternya. Ia menarik tubuh besar Bram agar bersandar padanya. "Sini, Sayang. Pulanglah ke rumahmu."
Rumah Bram bukanlah apartemen mewah ini. Rumah Bram adalah dada Naya.
Bram segera membenamkan wajahnya ke lekuk dada istrinya yang empuk dan hangat. Tangannya yang besar langsung meraih payudara Naya, memegangnya dengan erat namun penuh hormat, meremas-remasnya pelan untuk memastikan kehangatan itu nyata. Kulit Naya yang halus menyambut pipi Bram yang basah oleh air mata.
"Aku di sini," bisik Naya, membelai rambut hitam tebal suaminya. "Tenang, Sayang. Istri kamu ada di sini."
Bram tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai mencari posisi yang paling nyaman. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan akrab bagi mereka, Bram membuka mulutnya dan menempelkan bibirnya pada puting payudara kiri Naya. Ia mulai mengisap pelan, ritmis, seperti bayi yang kelaparan akan kasih sayang.
Bagi Bram, ini bukan soal nafsu seksual. Ini adalah terapi. Setiap hisapan lembutnya melepaskan hormon oksitosin yang menenangkan otaknya yang penuh stres. Rasa hangat susu (meski Naya tidak sedang menyusui bayi, sensasi kehangatan tubuh itu yang ia cari) dan tekstur lembut payudara istrinya di lidahnya membuatnya merasa aman, terlindungi, dan dicintai tanpa syarat.
Tangan kanan Bram terus memegang erat payudara kanan Naya, jari-jarinya memainkan kulit sensitif di sekitarnya, sementara tangan kirinya melingkar kuat di pinggang Naya, seolah takut istrinya akan menghilang jika ia melepaskan genggamannya.
"Sstt... Bagus, Bram. Tenang..." puji Naya lembut, suaranya bergetar karena haru melihat suaminya begitu bergantung padanya. Ia terus mengelus kepala Bram, merasakan getaran halus dari hisapan suaminya di dadanya.
Air mata Bram perlahan berhenti mengalir. Napasnya yang tadi tersengal-sengal kini menjadi teratur, mengikuti irama hisapannya yang pelan dan dalam. Ia merasa seperti kembali ke masa kecil yang seharusnya ia miliki-masa di mana ia dipeluk, disusui, dan dijaga.
Kadang, Bram akan berhenti sejenak, mengangkat wajahnya yang basah, menatap Naya dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata, "Aku cinta kamu, Nay. Jangan pernah tinggalkan aku."
Lalu, ia akan kembali membenamkan wajahnya, melanjutkan aktivitas nenennya dengan lebih lahap, menikmati kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh istrinya. Naya hanya tersenyum, mengecup kening Bram, dan membiarkan suaminya tenggelam dalam kenyamanan yang ia butuhkan.
Di luar, badai mungkin masih mengamuk. Tapi di dalam pelukan Naya, dengan mulutnya yang sibuk menyusu dan tangannya yang memegang erat dada istrinya, Bram akhirnya menemukan kedamaian sejati. Ia tertidur pulas dalam posisi itu, masih menempel erat pada sumber kehidupannya, sementara Naya tetap terjaga, menjaganya dengan cinta yang tak terhingga.
