Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Masa sosok pertama.

8 3 0
                                        

Mah pak.
Aku bersyukur hidup di dunia atas keinginan kalian, atau mungkin itu hanya harapan ku saja.
Aku tumbuh bersama sosok pertama yang kalian sering memerintahku untuk memanggil nya 'abang'.
Namun sayang nya aku kadang tak pernah ingin mengakui nya.
Bahkan mengobrol dengannya.

Tapi untuk saat ini aku memutuskan untuk mengatakan kata itu.
Di tulisan ini.
Karya ini.

Abang.
Apakah kehadiran adik kecil mu yang dulu pernah kau usilkan sampe menangis itu menyusahkan mu? Atau merenggut semua kasih sayang mamah dan bapak yang dulu pernah ditujukan hanya untuk mu?

Abang.
Aku minta maaf, semasa dulu, aku terlalu dramatis dan bahkan sering kali tak terima di usilkan oleh mu.
Mungkin aku pernah iri karena perhatian mamah bapak ada pada mu.
Juga karena kau sering mendapatkan apa yang kamu mau.

Abang.
Aku ingat saat kau menangis oleh ku, karena aku selalu menyalahkan mu dalam segala hal yang terkait.
Aku tak bermaksud.
Aku hanya takut mengakui kesalahan, aku takut menghadapi perkataan yang tak siap aku dengar.
Aku minta maaf.

Abang.
semasa sekolah, pernah kah kau membantuku mengerjakan pr?
Semasa itu aku masih ingin punya sosok keren seperti mu.
Namun sepertinya kau tidak ingin punya adik yang tingkah nya sangat aneh seperti ku.
Aku selalu menyusahkan mu.
Maafkan aku.

Abang.
Mungkin kau bukan orang yang paling hebat.
Tapi perempuan adik mana yang tidak mau dilindungi dan disayangi oleh sosok yang berlabel 'abang'?
Aku selalu melihat abang teman temanku yang selalu dengan tidak tau malu membanggakan dan menyayangi adiknya.
Abang.
Kapan kau akan mengusili ku lagi?

Abang.
Kau mungkin merasa tidak bisa diandalkan.
Tapi, aku adik perempuan mu yang senantiasa menunggu kebijakan dari mu.
Aku selalu menunggu waktu tepat untuk mengobrol dan bercanda tawa dengan mu.
Aku ingin mencurahkan isi hatiku.
Aku juga ingin mendengar curahan hati mu yang dulu sempat terluka.

Abang.
Aku tau dirimu ingin seperti teman teman mu yang lainnya.
tanpa harus memikirkan Ekonomi keluarga yang tak jelas.
Kau selalu mengeluh ingin bekerja.
Kau bilang takut menganggur.
Namun rasanya seperti, kau lebih takut tak berguna dikeluarga ini.
Kau lebih takut tak bisa mengembalikan Ekonomi keluarga yang turun merosot.

Abang.
Aku membenci mu.
Tapi rasanya aku tak pantas menyimpan mu dikenangan buruk.
Aku menyayangimu, Tapi aku enggan mengatakannya.
Aku lebih baik menulis karya ini hingga jariku kaku untuk mencurahkan isi hati ku yang meluap tak bisa ditahan.

Abang.
Kau selalu aku Rendahkan di hadapan teman temanku.
Maafkan aku.
Aku ingin mengatakan bahwa aku menyayangimu, meskipun demikian kau tidak.
Rasanya sangat sulit untuk mengatakan 6 kata itu dihadapan teman temanku.

Abang.
Aku tau kau ingin hidup santai, berkuliah, dan menjalin hubungan romantis dengan seseorang yang kau cinta.
Kenapa kau memilih untuk melewatkan semua itu?
...
Maaf, aku bodoh menanyakan hal semacam itu.
Maaf kau jadi harus menghidupi seseorang yang harusnya menghidupi mu.

Abang.
Terimakasih telah mengcap ku sebagai adik yang egois.
Aku sadar, kau selalu menganggap ku seperti itu.
Aku memang orang yang egois.
Terimakasih sudah mengcap ku sebagai orang cengeng.

Abang.
Terimakasih sudah menjadi Abang ku.
meskipun kau tak pernah ada selalu disisiku.
tapi pasti selalu ada seseorang yang ingin mempunyai abang kan?
Aku punya.
Itu KAU.

...

Abang.
Kapan kita akan mengobrol?
Kapan kau dan aku saling terbuka?
Kapan kau akan membanggakan aku di depan teman teman mu?
Kapan kau akan dengan lantang mengucapakan bahwa aku adik aneh mu?
Kapan-kapan kita bermain bersama lagi ya bang.



Aku sayang Abang.


semoga di setiap hidup kau akan tetap memilih ku sebagai adik aneh dan egois mu ya bang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lupa dianggap ada.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang