"Selamat datang di babak final National Young Chef Championship!"
Suara pembawa acara menggema memenuhi aula megah yang dipenuhi penonton. Lampu sorot menari di atas panggung memasak, sementara kamera televisi terus menyorot para finalis.
"Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan dua koki muda berbakat yang telah mengalahkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia!"
Riuh tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
"Di sebelah kanan, koki berusia dua puluh tiga tahun yang dikenal sebagai bintang baru dunia kuliner... Arga Pratama!"
Sorakan penonton semakin keras. Arga mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum percaya diri. Rambut hitamnya tertata rapi, celemek putihnya bersih tanpa noda sedikit pun. Tatapannya penuh keyakinan.
"Dan di sebelah kiri, juara bertahan kompetisi tahun lalu sekaligus koki favorit para juri... Kevin Hartono!"
Kevin membalas dengan anggukan tenang.
Pembawa acara kembali berbicara.
"Keduanya akan memperebutkan gelar juara nasional dan kesempatan mengikuti seleksi internasional. Siapa pun yang menang hari ini akan selangkah lebih dekat menuju impian setiap koki.. mendapatkan pengakuan dari Michelin Guide."
Mata Arga langsung berbinar.
Itu impianku.
Sejak kecil, Arga bercita-cita menjadi koki yang namanya dikenal dunia. Bukan sekadar memiliki restoran mewah, melainkan mendapatkan pengakuan dari Michelin Guide. Baginya, itulah bukti bahwa seluruh kerja kerasnya tidak sia-sia.
"Aku pasti menang."
Arga mengepalkan tangan.
"Aku sudah berlatih bertahun-tahun. Tidak mungkin kalah."
"Sepuluh..."
"Sembilan..."
Hitungan mundur dimulai.
"Delapan..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu!"
"Mulai!"
Bel berbunyi nyaring.
Peserta langsung bergerak.
Pisau beradu dengan talenan, suara kompor menyala bersahutan, aroma mentega dan rempah-rempah mulai memenuhi ruangan.
Arga bekerja dengan sangat cepat. Ia mengambil sayuran, memotong daging, lalu berlari menuju meja peralatan untuk mengambil panci besar yang akan digunakan membuat kaldu.
Hari ini harus sempurna.
Saat kembali menuju kompor, kakinya tidak sengaja menginjak genangan air yang entah berasal dari mana.
"Eh-"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Panci besar di tangannya terlepas ke udara.
"Awas!" Semua orang histeris.
Buk!
Panci itu menghantam tepat di kepalanya. Pandangan Arga langsung berputar, lampu-lampu berubah buram.
Suara penonton semakin jauh lalu semua berubah gelap.
"Tu... Tuan muda... Bangunlah. Sudah pagi." Suara asing terdengar samar.
Arga mengernyit.
Kepalanya masih terasa sangat sakit.
Rumah sakit? Pikir Arga.
Ia membuka mata perlahan, yang pertama kali dilihatnya bukan langit-langit rumah sakit, melainkan atap kayu dengan balok-balok besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengobati Sulit Makan Sang Adipati
General FictionSeorang koki muda dari zaman modern tiba-tiba terlempar ke zaman kerajaan dan ditugaskan memasak untuk seorang adipati yang terkenal sulit makan. Dengan bahan seadanya dan pengetahuan kuliner modern, ia mencoba menciptakan berbagai hidangan lezat. N...
