Halaaww guys!!!
Balik lagi sama cerita baruku hehe
Just fanfic ya, cuma mengutarakan isi imajinasi palaku.
Janagn lupa vote🫶🏻
Dan maaf kalo banyak typo🙏🏻
.
.
.
.
.
.
Suara klik pelan dari gagang pintu digital menjadi satu-satunya penanda bahwa Byun Baekhyun telah kembali ke tempat berlindungnya. Apartemen mewah di kawasan Hannam-dong itu menyambutnya dengan keheningan yang peka. Kemewahan yang ditawarkan oleh dinding-dinding marmer dan kaca besar yang menghadap langsung ke kilauan Sungai Han di malam hari kerap kali terasa seperti panggung lain—indah, megah, namun tidak memiliki suara.
Baekhyun menghela napas panjang. Diturunkannya masker hitam yang sejak sore menutupi sebagian wajahnya, lalu melemparkan topi beanie rajutnya ke atas konter dapur yang bersih tanpa noda. Melepas sepatu bot kulitnya yang berat, dia berjalan dengan langkah lambat menuju sofa beludru berukuran besar di tengah ruang tengah.
Tubuhnya dihempaskan begitu saja. Matanya terpejam, menikmati rasa lelah yang perlahan-lahan merayap dari ujung kaki hingga ke kepalanya.
Beberapa bulan terakhir ini adalah masa-masa yang penuh dengan gejolak emosi dan kerja keras yang menguras tenaga. Keputusannya untuk mengakhiri kontrak individu dengan agensi lamanya dan mendirikan label baru bersama dua sahabat seperjuangannya, Chen dan Xiumin, bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak dokumen yang harus ditandatangani, rapat-rapat panjang yang membosankan bersama tim hukum, hingga penyusunan strategi masa depan yang sempat membuatnya terjaga hampir setiap malam.
Sekarang, badai transisi itu perlahan mulai mereda. Agensi barunya sudah berjalan stabil. Namun, konsekuensi lain justru datang.
Karena EXO saat ini belum bisa beraktivitas dengan formasi lengkap akibat Kim Jongin dan Oh Sehun yang masih menjalankan kewajiban wajib militer mereka, jadwal Baekhyun berubah drastis. Tidak ada lagi latihan koreografi grup yang melelahkan dari pagi hingga subuh. Tidak ada lagi riuh rendah suara delapan laki-laki yang saling berteriak di ruang tunggu stasiun televisi. Jadwalnya kini didominasi oleh aktivitas individu: menghadiri pemotretan sebagai brand ambassador merek fesyen internasional, syuting iklan, atau sekadar menghadiri pertemuan bisnis kasual.
Bagi seorang Byun Baekhyun yang terbiasa hidup di bawah sorotan lampu panggung berkapasitas puluhan ribu penonton, kelonggaran waktu ini adalah sebuah kemewahan sekaligus kutukan. Dia memiliki lebih banyak waktu untuk bernapas, tetapi di sisi lain, rasa bosan mulai menyelimuti.
"Ah, sepi sekali," gumamnya pada langit-langit apartemen yang tinggi.
Dia melirik jam dinding di sudut ruangan. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Terlalu cepat untuk tidur bagi seorang seniman malam seperti dirinya.
Guna mengusir rasa sunyi yang mulai mengganggu pikiran, Baekhyun bangkit dari sofa dan melangkah menuju ruangan khusus di sudut apartemennya—sebuah studio musik pribadi yang kedap suara. Ruangan itu dipenuhi dengan peralatan canggih; komputer berspesifikasi tinggi, sepasang pengeras suara monitor berkualitas premium, dan beberapa papan ketik elektronik yang tertata rapi.
Dia mendudukkan diri di kursi kerja ergonomisnya, menyalakan komputer, dan membiarkan layar monitor besar itu menerangi wajahnya yang tanpa riasan. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuka aplikasi pembuat musik dan mulai memainkan beberapa akor acak. Suara dentingan piano elektrik yang lembut mulai memenuhi ruangan. Namun, setelah beberapa menit, dia berhenti. Jarinya menggantung di udara. Inspirasi malam ini tampaknya sedang enggan mampir.
VOUS LISEZ
BEYOND THE SPOTLIGHT
RomanceJANGAN LUPA VOTE!❤️ Just fanfic!!! Bijaklah dalam menilai dan membaca, author hanya mengutarakan imajinasi dikepala... Happy reading🫶🏻 "Kurang ajar! Siapa kau?! Berani-beraninya kau menyentuh adikku?!" bentak Haesung dengan suara bariton yang bera...
