Akhir pekan itu, suasana kebun binatang begitu riuh dan ramai. Keluarga Mahendra sedang menikmati momen kebersamaan mereka.
Di antara kedua orang tuanya, berjalan seorang bocah perempuan berusia tiga tahun yang sangat menggemaskan. Rambutnya dikuncir dua, berbalut gaun musim panas lengan pendek berwarna kuning cerah yang padu serasi dengan sepatu kets putihnya.
Di genggaman jemari kecilnya, ia memeluk erat boneka hamster kesayangannya yang diberi nama Bubu.
Saat tiba di area kandang gajah, kedua orang tuanya begitu terpesona melihat kawanan hewan bertubuh besar itu. Tanpa sadar, genggaman tangan sang bunda perlahan terlepas.
Bocah kecil itu tidak begitu tertarik dengan gajah perhatiannya justru teralih oleh seekor kelinci putih yang berlarian di taman tak jauh dari sana.
Dengan langkah-langkah kecilnya, Dia mulai mengejar kelinci itu makin lama, makin jauh meninggalkan kedua orang tuanya yang masih lengah.
Beberapa saat kemudian, kepanikan pecah. Sang bunda mendadak sadar tangan kecil yang tadinya ia genggam kini kosong.
"Mas! Dede mana, Mas?!" jerit sang bunda histeris.
Air matanya seketika tumpah, meratapi putri kecilnya yang mendadak hilang di tengah lautan manusia.
Dalam ketakutan luar biasa, mereka bergegas berlari menuju pusat informasi, berharap panggilannya bisa terdengar oleh sang buah hati.
Di sisi lain, langkah kaki kecil itu akhirnya terhenti karena lelah. Saat memutar badannya, wajah-wajah asing yang menjulang tinggi di sekelilingnya membuat dunia kecilnya seketika terasa menakutkan.
Kelinci yang ia kejar sudah hilang, dan orang tuanya pun tidak ada.
"Bunda... hiks... Bundaa...!"
Isak tangisnya pecah di dekat pintu keluar. Air mata menetes deras membasahi pipinya yang kemerahan. Ia memeluk Bubu erat-erat ke dada, sesenggukan sembari memanggil ibunya dengan suara serak khas anak kecil.
"Bunda di mana... takut... Bunda... huuu...!" tangisnya kian keras, namun suaranya tenggelam di antara lalu lalang pengunjung.
Tak jauh dari situ, seorang anak laki-laki berusia enam tahun sedang berdiri menunggu kedua orang tuanya.
Hari itu, keluarganya berencana terbang ke Jepang untuk mengurus perusahaan atas perintah sang kakek dan nenek. Melihat bocah mungil yang menangis sendirian, nurani anak enam tahun itu tergerak. Ia melangkah menghampirinya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya bocah laki-laki itu lembut.
Namun, bocah kecil yang masih polos dan ketakutan hanya bisa terisak semakin menjadi.
"Bunda... mau Bunda... hiks..." sahutnya lirih di antara deraian air mata.
Tak lama, sang mami datang menghampiri. "Sayang, kamu sama siapa di sini?" tanyanya, lalu terkejut melihat anak kecil yang menangis tersedu-sedu di depan putranya.
"Adik ini sendirian, Mih... kasihan," ucap anak laki-laki itu iba.
Sang mami langsung berlutut, berupaya menenangkan anak kecil itu . Ia menggendong bocah mungil itu dengan hangat dan memberinya seteguk air minum untuk meredakan tangisnya yang masih sesenggukan.
"Ayo sayang, kita nggak punya banyak waktu lagi," panggil sang papa yang baru tiba.
Ia terkejut melihat istrinya sedang menggendong seorang anak perempuan yang sangat imut.
"Mih, anak siapa itu?"
"Tadi sendirian bareng Kakak, Pah. Nangis terus, Mami juga nggak tahu anak siapa," jawab sang istri.
"Beneran sendirian, Kak?" tanya sang papa memastikan.
"Iya, Pah. Kasihan sendirian," angguk bocah laki-laki itu yakin.
Sang istri tampak serba salah. "Gimana, Pah? Mau ke kantor polisi dulu?"
Sang suami melihat jam tangannya dengan cemas. "Aduh, jadwal penerbangan kita sudah mendesak, Sayang. Kita nggak ada waktu lagi."
"Tapi anak ini bagaimana, Pah? Nggak mungkin kita tinggalin sendirian di sini!" tegas sang istri tak tega.
Setelah berpikir sejenak, sang suami mengambil keputusan drastis. "Ya sudah, kita bawa saja dia ke Jepang untuk jadi teman Kakak."
"Yeeey! Aku punya adik!" sorak bocah laki-laki itu kegirangan.
Tanpa membuang waktu, mereka segera meninggalkan kebun binatang menuju bandara.
Di bandara, mereka menyempatkan diri membeli segala perlengkapan bayi dan baju hangat terbaik untuk bocah itu mulai dari dot susu, pakaian, hingga perlengkapan lainnya.
Ditemani keluarga barunya, pesawat yang membawa mereka pun lepas landas menuju Jepang.
Sementara itu, di kediaman keluarga Mahendra, suasana diselimuti duka mendalam. Sang bunda terus menangis terisak, memeluk pakaian musim panas milik putri sulungnya.
"Di mana kamu, Luna... Maafin Bunda, Nak..." ratapnya dengan dada sesak.
Sang suami memeluk istrinya erat, mencoba memberikan ketenangan meski hatinya sendiri hancur.
"Bun, ingat... kamu lagi hamil, Sayang. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mencari Luna ke mana-mana. Kita harus sabar dan berdoa..."
"Aku takut Luna kenapa-kenapa, Mas..." bisik sang istri di tengah isak tangisnya yang tak kunjung reda.
"Semoga dia cepat ketemu, Bun... Semoga anak kita baik-baik saja di luar sana," tutur sang suami penuh harap, menahan kepedihan yang mendalam.
WEETTTTT APA NIHHHH
SELAMAT DATANG DI CERITA BARU AUTHOR NA 🤣🤣
DARI COVER UDAH HOROR BETUL YAK
TAPI KAYAKNYA BUKAN GENRENYA SIH .
JADI KEPO SAMA KELANJUTANNYA NGGA ??
ENJOY AJA LAH YA
SEMOGA ENAK DI BACA JUGA
JANGAN LUPA VOTE DAN COMENT
SEKALI LAGI INI CUMA FIKSI BELAKA YG G MUNGKIN KADANG JADI MUNGKIN DI SINI 🤣🤣🙏🙏
SELAMAT MAMBACAAAA
UP SESUAI MOOD AJA LAH YA
SOALNYA KAN LAGI GARAP PROJEK BARENG TUH DAN KEMUNGKINAN BESAR ADA NEXT PROJEK LAGI SAMA AUTHOR LAIN
ENJOYY 😁
