UDARA malam yang dingin, dengan suasana sunyi yang begitu tenang, membuat seorang gadis berambut panjang yang tengah berjalan-jalan di taman kota itu tersenyum senang.
Ia baru saja membeli beberapa buku pelajaran dari toko buku langganannya dan ingin menghirup udara segar, jadi memutuskan untuk pergi ke taman. Lokasinya tak jauh dari toko yang ia datangi sebelumnya.
Matanya tertuju pada anak-anak yang tengah ditemani orang tua mereka bermain di arena khusus permainan. Senyum kecil terbit di wajah manisnya. Rasanya seperti melihat dirinya ketika masih kecil dulu. Perasaan rindu akan kenangan masa lalu datang begitu saja
Setelah asik berkeliling taman, gadis bernama Linkaira Aishwarya itu memutuskan untuk kembali ke rumah dengan berjalan kaki menuju halte untuk menunggu sopir menjemputnya.
Ia berjalan menyusuri toko-toko yang ramai oleh pengunjung. Namun, ketika hendak berbelok ke arah jalanan di sisi kirinya, seorang laki-laki bertubuh tinggi menarik pergelangan tangannya.
Karena terkejut dan tak sempat merespon dengan benar, Linkaira hampir saja terjatuh jika tangan laki-laki itu tak menahan tubuhnya. Dengan cepat ia mendongak, kemudian melihat ke arah orang yang menariknya.
"Bantu gue," bisik laki-laki itu tepat di telinganya, membuat Linkaira bergidik ngeri.
Belum sempat gadis itu bertanya apa maksud ucapannya barusan, laki-laki asing itu menariknya ke arah gang sempit di ujung jalan yang sepi.
Wajah laki-laki itu tertutup oleh kupluk hoodie, jadi Linkaira tak bisa melihat dengan jelas rupa orang di hadapannya ini. Tetapi, posisi mereka saat ini terlalu dekat.
"Lo mau ngapain?" tanya gadis itu setelah mundur beberapa langkah dari laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah melepas hoodienya dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Ada yang mau bunuh gue," ujarnya dengan wajah yang datar dan dingin.
Linkaira tentu terkejut mendengarnya, lalu kenapa harus meminta bantuannya? Orang ini harusnya pergi ke kantor polisi, bukan menyeretnya ke gang seperti ini.
"Terus apa yang bisa gua bantu?" Linkaira merutuki kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Seharusnya ia memaki laki-laki itu dan pergi dari sana sekarang juga, tetapi otak dan mulutnya sangat tak sinkron.
"Cukup diam dan abaikan orang-orang yang lewat nanti," jawab laki-laki itu sembari berjalan mendekat ke arah Linkaira.
"Maksudnya apa──" Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan menariknya mendekat dan mendekapnya erat.
Sungguh, jantung Linkaira berdegup kencang. Laki-laki ini memeluknya begitu santai tanpa beban sama sekali. Wajahnya memang cukup tampan setelah ia perhatikan tadi, walaupun tetap tak begitu jelas karena minimnya pencahayaan.
"Diam." bisik laki-laki itu.
Tentu saja ia tak mau menurut dan hendak mendorong laki-laki itu menjauh, tetapi suara beberapa orang yang terdengar begitu menakutkan di depan gang, membuatnya mengurungkan niat dalam hatinya.
Laki-laki itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Linkaira, membuat gadis itu mau tak mau membalas pelukannya dan berakting seolah mereka adalah sepasang kekasih.
"Itu orang-orang yang lo maksud?" tanya Linkaira pelan.
"Hmm..." Laki-laki itu berdehem pelan sebagai jawaban.
Entah darimana keberanian Linkaira mengelus punggung laki-laki asing yang tengah memeluknya, saat beberapa orang pria dewasa melihat ke arah mereka.
"Gak ada di sini!" teriak salah satu pria dewasa yang ada di depan gang.
Beberapa detik kemudian, orang-orang itu pun pergi dan Linkaira bisa bernapas lega. Ia langsung melepas pelukannya dan mendorong dada laki-laki itu menjauh.
"Udah aman, orang-orang yang kejar lo udah pergi." kata Linkaira yang tengah menetralkan rasa gugupnya.
Laki-laki itu menoleh ke arah kiri untuk memastikan, lalu mengambil ponsel berwarna hitam dari saku celananya. "Nomor lo," ucapnya sembari menyodorkan ponsel kepada Linkaira.
"Untuk apa?" tanya gadis itu.
"Berterima kasih," jawab laki-laki itu singkat.
"Enggak perlu, cuma bantuan kecil." tolak Linkaira. "Kalau gitu gue pergi duluan ya," lanjutnya.
Karena tak ingin berurusan dengan laki-laki asing ini lagi, jadi ia memilih untuk tak mengingat kejadian malam ini, anggap saja seperti angin yang hanya berlalu.
Linkaira pun melangkah pergi dan meninggalkan laki-laki itu seorang diri──menatapnya dengan ekspresi yang rumit──di gang yang gelap dan sempit.
Namun, ada hal yang tak ia sadari. Jepitan rambut berwana biru yang dipakainya ternyata lepas dan terjatuh ke tanah. Laki-laki itu sadar dan langsung mengambilnya.
"Linkaira?" Laki-laki itu melihat ukiran nama yang terdapat pada jepitan rambut gadis yang membantunya tadi.
Senyum tipis terlihat di wajahnya sebentar, sebelum kembali datar seperti semula. Ia pun menyimpan jepitan rambut itu di saku celananya, kemudian pergi meninggalkan gang sempit itu.
Banyak orang berkata jika pertemuan bukanlah sebuah kebetulan, tetapi takdir yang tak bisa dihindari. Mungkin benar tentang adanya sebuah pertemuan yang bisa menjadi awal dan akhir sebuah cerita.
Terkadang seseorang tak sadar dengan rencana tak terlihat yang sudah disusun rapi, sehingga mengalir dan menjadi kebetulan semata. Dari jutaan manusia di bumi, entah sudah berapa kali mereka bertemu dan berpisah tanpa suara.
YOU ARE READING
SASTRAJENDRA
RomanceOrang-orang berkata jatuh cinta adalah hal yang indah, awalnya perkataan itu seperti coretan tak berarti bagi seorang gadis bernama Linkaira Aishwarya. Namun pada akhirnya ia merasakan perasaan yang mendebarkan ketika sosok laki-laki bernama Sastraj...
