Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

01

6.4K 107 10
                                        

Bab 1: Gerbang Berpagar Besi Tinggi

Pagi itu, Kompleks Dirgantara masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Udara pegunungan yang bersih berpadu dengan aroma aspal basah,

menciptakan atmosfer yang tenang namun terasa mencengkeram bagi seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Kompleks perumahan militer ini bukan sembarang tempat; setiap sudutnya memancarkan kedisiplinan.

Rumah-rumah dinas berukuran besar berjejer rapi dengan halaman luas, dibatasi oleh pohon-pohon peneduh yang dipangkas simetris.

Di depan salah satu rumah paling megah di hoek jalan, seorang pemuda berdiri termangu. Namanya Fatih.

Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun, namun penampilannya kerap kali membuat orang dinas maupun warga sipil menoleh dua kali.

Fatih memiliki paras yang tidak biasa untuk ukuran seorang lelaki. Wajahnya mungil dengan rahang yang lembut, sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik alami, dan bibir tipis yang selalu tampak kemerahan tanpa perlu dipoles.

Kulitnya putih bersih, mulus tanpa cela seperti porselen yang dirawat dengan sangat baik. Pagi itu, ia mengenakan kemeja putih polos yang sedikit kelonggaran di tubuhnya yang ramping

, dipadukan dengan celana kain hitam. Penampilan yang sangat sopan untuk seorang calon asisten rumah tangga baru.

Ia meremas tali tas ransel usangnya dengan gugup. Jantungnya bertalu-talu di balik rongga dada.

Memasuki lingkungan militer seperti ini selalu membuatnya merasa terintimidasi. Namun, ia butuh pekerjaan ini.

Seseorang bernama Ibu Kartika telah menerimanya lewat penyalur tenaga kerja untuk menjadi perawat rumah sekaligus asisten domestik di kediaman ini.

Fatih mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu melangkah mendekati pagar besi setinggi dua meter berwarna hitam pekat.

Baru saja tangannya hendak menyentuh bel, pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati tebal terbuka.

Sesosok wanita paruh baya keluar dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi ber-volume khas ibu-ibu pejabat, mengenakan terusan batik sutra bermotif elegan.

Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan masa muda, namun gurat-gurat usia tak bisa berbohong di sekitar mata dan bibirnya.

Dialah Kartika, sang nyonya rumah, istri dari seorang perwira tinggi TNI Angkatan Udara. Usianya empat puluh enam tahun, dan ia memancarkan aura ketegasan yang dingin.

"Kamu Fatih?" suara Kartika terdengar renyah namun berwibawa saat ia berjalan mendekati pagar.

"I-iya, Ibu. Selamat pagi. Saya Fatih," jawab Fatih dengan nada suara yang lembut, hampir mendayu.

Ia membungkuk hormat, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

Kartika membuka gerbang kecil di samping pagar besar. Matanya meneliti Fatih dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ada kilat keterkejutan yang sempat melintas di mata wanita itu saat melihat paras Fatih yang teramat cantik untuk ukuran seorang pelayan laki-laki, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali.

"Masuk," titah Kartika pendek. "Sini, bawa tasmu ke dalam. Kita bicara di ruang tengah."

"Baik, Ibu. Terima kasih," Fatih melangkah mengekor di belakang Kartika.

Langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin, tidak ingin menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu ketenangan rumah mewah ini.

Rumah yang Dingin dan Sempurna

3 majikan gagahHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora