Namanya Maisa gadis kecil berumur 3 tahun kerap dipanggil sasa oleh keluarga nya, ia tinggal dengan mama, ayah, dan adik laki-lakinya Raihan yang berumur 1 tahun. "Ma..." Maisa memanggil mamanya yang lagi mencuci piring di dapur kecil milik mereka, rumah mereka sangat sederhana yang terbuat dari kayu dan memiliki 3 ruang yaitu kamar, dapur, dan ruang tamu. " iya ada apa nak.." jawab mamanya dengan lembut. " sasa kalo udah besar nanti pengen jadi dokter maa..." cerita Maisa penuh semangat. "waaah mulia sekali cita-cita Maisa, belajar yang rajin yaa untuk meraih cita-cita itu. Kalo kita punya semangat dan rajin belajar pasti kita bisa..." ujar mamanya yang menjadi kata-kata penguat sekaligus semangat Maisa dalam menggapai apa yang ia inginkan.
"Mai....!" Panggil seorang wanita, sepertinya orang yang dipanggil tidak mendengar panggilannya. "MAI!!" panggilnya setengah berteriak.
Seketika orang yang dipanggil terperanjat kaget dan hampir menjatuhkan kopi yang dipegangnya sejak tadi. "Ada apa ran, bikin kaget aja deh" jawab Maisa. Sedari tadi dia sibuk melamun memikirkan kenangan dengan mamanya, yang entah kenapa akhir-akhir ini ia sering kali mengingat hal hal kecil yang ia lakukan dulu bersama mamanya. "Huft...." Hela nafas Maisa yang terasa sangat berat.
"Lo kenapa sih Mai dari tadi gue liat kayak berat banget beban hidup, lo lagi ada masalah ya? Sini curhat sama gue siapa tau gue bisa bantu." Ujar temannya Maisa. Namanya Rani, si cerewet yang merupakan temannya ketika pertama kali tiba di kota ini.
"Gue gak kenapa napa ran. Cuma ya kepikiran nyokap aja dari kemaren" ucap Maisa sambil menyeruput kopi lattenya dan melihat hamparan gedung gedung tinggi di depannya. Mereka sekarang lagi di rooftop perusahaan yang memperlihatkan gedung gedung tinggi dengan langit yang sudah menunjukkan warna jingganya yang menandakan hari sudah petang. Walaupun pekerjaannya saat ini tidak sesuai keinginannya waktu kecil tetapi ia tetap bersyukur bisa ketemu orang orang baik di fase kehidupan barunya ini, contoh nya Rani.
"Kenapa gak Lo telepon nyokap lo. Sesekali gapapa tau turunin gengsi buat nyari tau kabarnya daripada Lo kelimpungan gini kan. Gue liat tadi Lo kayak gak fokus gitu waktu meeting. Gimana tadi sama pak Rama?"
"Ya gitu. Salah gue juga sih waktu ngepresentasiin malah laporan yang tahun lalu. Keknya gue ngikut saran Lo deh buat nelepon nyokap. Gak enak perasaan gue dari kemaren."
"Gitu dong Mai. Baru sahabat gue. Yuk turun udah mau jam 6 sore ini." Ujar Rani
Mereka pun turun dari rooftop. Biarlah laporan yang tadi gagal dipresentasikannya dia revisi di apartemennya malam ini, karena pasti Rani tidak akan membiarkan dirinya lembur.
YOU ARE READING
SEMUA TENTANG WAKTU
General FictionNamanya Maisa gadis kecil berumur 3 tahun kerap dipanggil sasa, ia tinggal dengan mama, ayah, dan adik laki-lakinya Raihan yang berumur 1 tahun. "Ma..." Maisa memanggil mamanya yang lagi mencuci piring di dapur kecil milik mereka, rumah mereka sanga...
