(Kaisar Wanita Dan Jenderal Wanita)

283 37 8
                                        

Enam tahun.

Enam tahun telah berlalu sejak malam bersalju itu-malam yang selamanya terukir di tulang-tulangku seperti kutukan yang tak bisa lepas.

Langit meraung. Angin menderu bagai lolongan serigala kelaparan. Salju turun bukan dalam butiran lembut, melainkan dalam lembaran-lembaran tajam yang mengiris kulit dan membekukan darah. Di tengah padang tandus yang tak berujung, aku berdiri dengan lima ratus prajurit di belakangku, napas kami berubah menjadi kabut putih yang lenyap secepat ia terbentuk.

Aku masih ingat rasanya. Jantungku berdebar begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Bukan karena takut pada musuh. Bukan karena gentar pada tiga ribu prajurit yang mengepung.

Tapi karena dia.

Dia.

Putri Mahkota Li Ge. Perempuan yang telah tinggal di mimpiku selama bertahun-tahun. Perempuan yang senyumnya kusimpan di dasar hati seperti rahasia paling berharga. Perempuan yang tak pernah kukira akan tahu bahwa aku mencintainya.

"Jenderal Lan!"

Suara anak buahku membuyarkan lamunan. Aku menoleh, dan di kejauhan, di balik tirai salju yang menari-nari, aku melihatnya.

Kuil tua itu berdiri miring, atapnya setengah runtuh, pintunya menggantung pada engsel yang berkarat. Tapi di dalamnya, di antara bayangan dan debu, bersembunyi seorang putri mahkota yang seluruh istananya telah dibakar, seluruh keluarganya telah dibantai, seluruh dunianya telah direnggut.

Aku turun dari kuda. Lututku gemetar-bukan karena lelah atau dingin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih menyakitkan. Sesuatu yang telah kupendam begitu lama hingga rasanya seperti luka yang tak pernah sembuh.

Langkah demi langkah kuhampiri kuil itu.

Dan di sana, di sudut paling gelap, aku menemukannya.

Li Ge duduk bersandar pada dinding batu yang retak. Jubah sutranya-dulu berwarna emas cemerlang dengan sulaman naga-kini compang-camping, berlumur lumpur dan darah. Rambutnya yang panjang dan hitam, yang biasanya tergerai rapi dengan tusuk konde giok warisan leluhur, kini kusut masai, penuh debu dan salju. Bibirnya pecah-pecah, membiru karena dingin yang menusuk. Tangannya yang halus dan tak pernah memegang apa pun selain kuas kaligrafi dan cangkir teh, kini mencengkeram sebilah pedang patah dengan sisa-sisa tenaga.

Tapi matanya.

Matanya.

Itu yang kuingat paling jelas. Bahkan setelah bertahun-tahun, bahkan setelah semua yang terjadi, aku masih bisa melihatnya sejelas malam itu. Mata hitamnya menyala dalam gelap, seperti bara api yang menolak padam. Seperti bintang yang berkeras untuk tetap bersinar meski seluruh alam semesta berkonspirasi untuk memadamkannya.

Aku berlutut.

Tanpa suara, tanpa kata. Hanya tindakan sederhana yang telah kulakukan ribuan kali sebelumnya, dan akan kulakukan ribuan kali lagi-berlutut di hadapannya, menyerahkan seluruh diriku, seluruh hidupku, seluruh jiwaku.

"Putri Mahkota," suaraku parau, nyaris tak terdengar di antara deru angin. "Hamba datang terlambat."

Dia menatapku.

Detik-detik berlalu, masing-masing terasa seperti keabadian.

Lalu, sesuatu berubah di wajahnya. Garis keras di rahangnya melembut. Ketegangan di alisnya mengendur. Dan dari sudut matanya, dari sudut matanya yang dulu tak pernah basah oleh apa pun kecuali hujan dan arak... menitiklah sebutir air mata.

"aku tahu kau akan datang," bisiknya, suaranya pecah, retak, seperti kaca yang baru saja menahan pukulan dan akhirnya menyerah. "aku selalu tahu."

Aku melepas jubahku-jubah tebal berlapis bulu, satu-satunya pelindungku dari hawa dingin yang mematikan-dan menyampirkannya di bahunya yang bergetar. Jemariku menyentuh kulitnya, dan rasanya seperti menyentuh es.

kaisar wanita dan jenderal wanita Stories to obsess over. Discover now