1. Malaikat Maut

2.2K 133 1
                                        

Malam di Bangkok tidak pernah benar-benar tidur, terutama di distrik terlarang tempat uang, darah, dan kekuasaan melebur menjadi satu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Malam di Bangkok tidak pernah benar-benar tidur, terutama di distrik terlarang tempat uang, darah, dan kekuasaan melebur menjadi satu. Namun, bagi Gawin, kota ini hanyalah labirin beton yang sunyi. Dari lantai dua puluh enam sebuah gedung terbengkalai yang menghadap langsung ke kelab malam eksklusif The Crimson, dunia di bawahnya tampak seperti akuarium raksasa yang diisi oleh manusia-manusia bodoh yang menari menuju kematian mereka sendiri.

Gawin berlutut dengan satu kaki di atas lantai semen yang dingin. Angin malam yang kencang mempermainkan helaian rambut hitamnya yang sedikit basah karena sisa hujan gerimis sejam yang lalu. Di depannya, bertumpu pada tripod kokoh, berdiri sebuah senapan runduk kaliber berat CheyTac M200 Intervention. Sebuah mahakarya mekanis yang dingin, sama dinginnya dengan jemari Gawin yang terbungkus sarung tangan taktis hitam.

Matanya yang legam terpaku pada lensa scope. Dia tidak bergerak selama hampir tiga jam. Napasnya teratur, lambat, dan dangkal sebuah teknik yang dilatih bertahun-tahun untuk menjaga agar detak jantungnya tidak menggetarkan bidikan bahkan sekian milimeter pun.

Melalui lensa pembidik, Gawin mengamati targetnya.

Joss Way-ar.

Bos mafia muda yang baru saja mengambil alih takhta klan Vachirawit setelah kematian misterius ayahnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Bos mafia muda yang baru saja mengambil alih takhta klan Vachirawit setelah kematian misterius ayahnya. Di bawah lensa makro, Joss terlihat sangat mencolok. Setelan jas mahal berpotongan pas yang membungkus tubuh tegapnya tidak mampu menyembunyikan aura predator yang memancar kuat. Pria itu sedang berdiri di balkon VIP kelabnya, memegang segelas wiski dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berada di saku celana. Dia dikelilingi oleh beberapa pengawal bertubuh besar termasuk Krist, tangan kanannya yang bermata elang dan selalu waspada namun Joss sendiri tampak sangat santai, seolah dia tahu bahwa dia adalah makhluk paling berbahaya di ruangan itu.

"Target terkonfirmasi. Jarak 850 meter. Kecepatan angin 4 knot ke barat," sebuah suara berat berderis melalui earpiece di telinga kiri Gawin. Itu Podg, sang handler dari organisasi. "Habisi dia sekarang, Gawin. Klien kita tidak suka menunggu."

Gawin tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab. Ibu jarinya menurunkan tuas pengaman senapan. Klik kecil itu tenggelam dalam deru angin malam.

Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya setengah, lalu menahannya. Jari telunjuknya perlahan menempel pada pelatuk. Garis silang di dalam scope kini tepat berada di tengah dada Joss. Satu ketukan jari, dan peluru kaliber .408 akan menembus jantung sang Don dalam waktu kurang dari dua detik.

Joss tiba-tiba bergerak. Pria itu memutar tubuhnya menghadap ke arah kegelapan malam, tepat ke arah gedung tempat Gawin bersembunyi. Seolah-olah... seolah-olah pria itu tahu ada sepasang mata yang sedang mengintipnya dari kegelapan.

Joss menenggak wiskinya hingga tandas, lalu melepas dua kancing teratas kemeja hitamnya karena gerah. Kerah kemejanya sedikit terbuka.

Saat itulah, jantung Gawin berdegup kencang secara abnormal.

Melalui lensa pembidik yang sangat jernih, Gawin melihatnya. Di pangkal leher sebelah kiri Joss, tepat di atas tulang selangka, terdapat sebuah tato kecil berbentuk salib hitam yang dililit oleh kawat berduri dengan pola yang sangat spesifik. Tato yang sangat dikenalnya. Tato yang sama dengan yang dimiliki oleh anak laki-laki yang bertahun-tahun lalu menyelamatkan hidup Gawin di panti asuhan berdarah sebelum tempat itu dibakar habis. Anak laki-laki yang dia kira sudah mati.

"Gawin? Apa yang kamu tunggu? Tembak!" Suara Podg di earpiece mulai terdengar tajam dan menuntut.

Tangan Gawin yang biasanya sekeras batu, tiba-tiba bergetar halus. Kilasan memori masa lalu yang terfragmentasi bau asap, jeritan, dan genggaman tangan yang hangat di tengah hawa dingin menghantam kepalanya bagai gada besi.

Joss adalah anak itu?

Logikanya berteriak menyuruhnya melepaskan tembakan. Dia adalah profesional. Dia adalah 'hantu' yang tidak punya perasaan. Jika dia gagal, organisasi akan menguburnya hidup-hidup. Tapi jarinya membeku.

"Gawin!!"

Satu detik sebelum Joss melangkah kembali ke dalam kelab, Gawin mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Dia dengan sengaja menggeser moncong senapannya beberapa milimeter ke kanan.

BANG!

Suara tembakan teredam berdentum, membelah malam. Peluru melesat memecah udara dengan kecepatan supersonik.

Di balkon seberang, gelas kaca di tangan Joss hancur berkeping-keping. Peluru Gawin merobek udara tepat di samping leher Joss, merobek sedikit kerah kemejanya, dan bersarang di dinding beton di belakangnya. Percikan kaca dan tekanan angin peluru membuat pipi Joss tergores, meneteskan setitik darah segar.

Suasana di balkon langsung berubah menjadi kekacauan. Krist dengan sigap menerkam Joss, menjatuhkannya ke lantai untuk berlindung, sementara para pengawal lain langsung mencabut senjata dan menutup akses.

Namun, sebelum tubuhnya tersungkur ke lantai, Joss tidak terlihat panik. Dia justru mendongak, matanya yang tajam dan berkilat berbahaya menatap lurus ke arah kegelapan lantai dua puluh enam gedung di seberangnya. Ada senyuman miring, tipis, dan sangat mengerikan di sudut bibir sang mafia. Dia tidak ketakutan. Dia justru... terangsang oleh bahaya.

Di gedung terbengkalai, Gawin dengan cepat membongkar senapannya dengan tangan gemetar. Dia memasukkannya ke dalam koper taktis dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.

"Sialan, Gawin! Tembakanmu meleset? Bagaimana bisa seorang Silent Ghost meleset dari jarak sedekat itu?!" Podg berteriak murka di telinganya.

Gawin mencabut earpiece-nya, melemparnya ke lantai, lalu menginjaknya hingga hancur. Dia tahu konsekuensinya. Organisasi akan memburunya karena kegagalan ini. Tapi yang lebih buruk... dia tahu dia baru saja membangunkan monster yang salah.

Sambil menyampirkan tas kopernya, Gawin berlari menuju tangga darurat, meninggalkan bau mesiu yang pekat di udara. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penembak jitu merinding bukan karena dinginnya malam, melainkan karena tatapan mata mangsanya yang baru saja dia lepaskan.

SNIPER (BL)Stories to obsess over. Discover now